Wismoyo Arismunandar “Back to Basic”

Jumat , 29 Januari 2021 | 22:15
Wismoyo Arismunandar “Back to Basic”
Sumber Foto : KOMPAS/JOHNNY TG (JPE)
Jenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar pada acara HUT Kopassus ke 47 di Jakarta

KALAU saja program “Back to Basic” yang digerakkan Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar bisa terus berlanjut, tak akan sampai TNI (utamanya Angkatan Darat) harus menerima hujatan demikian “bengis” saat berakhirnya era Soeharto dan permulaan jaman reformasi. Kedua pimpinan AD itu (1988 – 1995) menjalankan proses mawas diri yang mendasar dan sistematis untuk “mengembalikan tradisi dan norma dasar keprajuritan ABRI yang sejati“.

Back to Basic diluncurkan oleh Jenderal Edi Sudradjat tidak lama setelah menerima jabatan sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) awal 1988. Ia menyatakannya sebagai gerakan moral karena melihat penyimpangan yang terjadi pada kehidupan keprajuritan AD. Penggantinya, Jenderal Wismoyo Arismunandar (1993-1995) menggencarkan lebih serius dan melembagakannya sebagai program TNI-AD melalui sistem dan pengoperasiannya.
Ia melakukan shock therapy dengan melancarkan bulan penghormatan dan perang terhadap pelanggaran.

Inti dari program ini adalah bahwa sekalipun ABRI menjalankan dwi-fungsi, sebagai kekuatan pertahanan negara dan sebagai kekuatan sosial politik, yang akan lebih dikedepankan adalah fungsi pertamanya sebagai prajurit yang profesional, prajurit pejuang, dan dengan tetap manunggal dengan rakyat. Begitu menjadi KASAD, Wismoyo menghidupkan kembali Komando Pengembangan Pendidikan dan Latihan (Kobangdiklat) yang diberinya nama baru Kodiklat (Komando Pendidikan dan Latihan). Lembaga yang sangat penting untuk pembinaan latihan dan pengembangan doktrin pertempuran ini telah 10 tahun dimatikan, sejak Jenderal Benny Moerdani menjadi Pangab.

Ia membentuk kembali brigade brigade infantri yang pernah menjadi kebanggaan komando komando daerah militer di Jawa. Dengan brigade brigade itu mutu latihan ditingkatkan. Dari mulai skala batalyon, sampai latihan terpadu antar-kecabangan, serta latihan berskala besar. Memang pada masa Benny Moerdani, kekuatan ABRI diciutkan. Jumlah komando daerah militer (Kodam) dari 17 dikurangi jadi 10. Komando wilayah pertahanan (Kowilhan) dihapus. Juga Komando Strategis Nasional (Kostranas) ditiadakan. Kekuatan Marinir TNI-AL dan kesatuan Resimen Pelopor Polri dikurangi.

Wismoyo tetap menekankan kemanunggalan dengan rakyat. “Prajurit harus menjadi contoh teladan dan pribadi yang terhormat. Dan semua penilaian itu datangnya dari rakyat”. Ia memerintahkan semua prajurit TNI-AD dibekali dengan buku saku “Delapan Wajib ABRI”. Itu adalah manual yang sudah diterbitkan oleh Staf Angkatan Perang sejak awal 1950-an dalam operasi operasi keamanan dalam negeri (menghadapi DI/TII, PRRI-Permesta). Isinya: 1. Bersikap ramah-tamah terhadap rakyat, 2. Bersikap santun terhadap rakyat, 3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita, 4. Menjaga kehormatan diri di muka umum, 5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaan, 6. Tidak sekali-kali merugikan rakyat, 7. Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti rakyat, dan 8. Menjadi contoh dan memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.

Untuk membangun profesionalisme prajuritnya dalam fungsinya yang pertama sebagai kekuatan pertahanan negara, Wismoyo sampai pada hal mendasar dan rinci tentang jatidiri prajurit mulai dari penegakan peraturan militer dasar, peraturan penghormatan militer, baris berbaris, menembak, sampai pada larangan perut gendut. Di jaman KASAD Wismoyo, jangan harap perwira perwira yang perutnya gendut bisa lolos promosi jabatan. Kol. Inf. Susilo Bambang Yudhoyono diperintahkan menurunkan berat badannya sebelum boleh menjadi Komandan Brigif Linud 17/Kostrad.

Namun bukan berarti fungsi kedua Dwifungsi ABRI dikesampingkan. Pimpinan AD malah ingin meninggikan kualitet kader kadernya jadi teknokrat yang bobot intelektualnya diakui di lingkungan masyarakat umum mau pun kenegaraan. “Kita harus meningkatkan kemampuan intelektual kita, paling tidak setara dengan partner kita yang non-ABRI itu”, ujar Wismoyo. Semasa KASAD Edi Sudradjat, para perwira setingkat letnan kolonel sudah diberikan kesempatan mengikuti pendidikan S-1 sampai S-3 sampai ke luar negeri. Pada masa Wismoyo para perwira yang mengikuti studi di perguruan tinggi diongkosi uang SKS sebesar 250 ribu rupiah.

Tapi rupanya ada perkara sensitif yang disentuh oleh Jenderal Wismoyo. Yakni ketika ia menyatakan akan menjaga jarak dengan semua kekuatan politik dan berdiri di atas semua golongan. Ini bisa diartikan sebagai juga menjaga jarak dengan “kekuasaan” politik. Kekuasaan politik yang kuat di tangan iparnya, Soeharto, ditopang oleh Golongan Karya (Golkar), sebuah kekuatan politik paling besar dan menentukan. Demikianlah bertepatan dengan usianya ke 55, 10 Februari 1995, Wismoyo pensiun dan diberhentikan. Dinas militernya tidak diperpanjang (walaupun bisa sampai 58 tahun kalau diperlukan). Penggantinya, Jenderal Hartono, langsung mengenakan jas kuning Golkar, seraya bersemangat menyerukan, “setiap anggota ABRI adalah kader Golkar. Anggota dilarang ragu mendukung Golkar”.

Jenderal TNI Purn. Wismoyo Arismundar yang senantiasa bersikap akrab kepada siapapun yang ditemuinya, wafat pada 28 Januari 2021, dua minggu sebelum hari jadinya yang ke-81. (Daud Sinjal)

Penulis anggota Tim penyusunan buku tentang Wismoyo dan Back to Basic yang diketuai Jend. Tarub. Tulisan ini mengutip ungkapan-ungkapan Jend. Wismoyo Arismunandar pada serangkaian pertemuan 1994 - 1995.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load