Presiden Joe Biden! Perhatikan Laut China Selatan!

Rabu , 20 Januari 2021 | 15:42
Presiden Joe Biden! Perhatikan Laut China Selatan!
Sumber Foto : Reuters
Joe Biden

PRESIDEN Joseph Robinette Biden Jr atau Joe Biden yang menggantikan Presiden Donald Trump, Rabu 20 Januari 2021 (waktu AS), menghadapi masalah yang tidak ringan.

Di dalam negeri, dia harus mempersatukan masyarakat yang terbelah. Di luar negeri, membangun kembali kepercayaan dan kerjasama yang sempat terpuruk akibat sikap nasionalisme dan unilaterisme Presiden Trump.

Puluhan juta pendukung Trump tersebar di berbagai negara bagian. Dalam laman Austin American Statesman mereka menyatakan, Trump seorang pengusaha. Berjiwa nasionalis. Berusaha membuat negaranya menjadi nomor satu dan jaya kembali.

Para pendukung Trump juga ada yang berlatar belakang agama, ras dan mendukung Israel. Mereka mendukung kebijaksanaan negaranya di Timur Tengah yang mengucilkan Iran.
Trump akan dicatat sebagai presiden dari partai Republik yang gagal untuk memperpanjang jabatan masa.

Sepanjang sejarah politik AS hanya ada sepuluh presiden yang gagal, termasuk Richard Milhouse Nixon karena di-impeach. Gerald Rudolph Ford pengganti Nixon yang kemudian kalah dalam Pilpres, serta George Herbert Walker Bush, ayah George Walker Bush (presiden ke 43-44, 2001-2009).

Biden yang berlatar belakang politisi didukung partai Demokrat, mesti mencari rumusan yang sejalan dengan keinginan para pendukung Trump. Meningkatkan insentif dan membangkitkan perekonomian yang terpuruk akibat COVID-19.

Memfasilitasi hubungan negara-negara Arab-Israel. Kembali terlibat dalam pakta enam negara untuk mengikat pembangunan nuklir Iran. Mengurangi sikap unilateral dengan a.l. bergabung dengan WHO.

Media berperan besar dalam menjatuhkan Trump. Media menghukumnya sebagai presiden yang bertingkah laku dan berucap sembarangan, tidak seperti para presiden yang terdahulu. Trump juga disebut merusak demokrasi.

Media mengabaikan gagasan Trump yang dengan lantang berkata...America First dan Make America Great Again. Media melakukan framing? Media balas depan karena Trump melawan kekuatan wartawan peliput Gedung Putih? Atau media khawatir bila Trump menang, peran twitter, instagram akan terus menguat?

Sepertinya ada sesuatu di balik kekalahan Trump. Mungkinkah industri keuangan? Farmasi? Lobi China?

Terhadap China


Selama empat tahun terakhir,Trump berpendapat negaranya sudah banyak memberi, sudah waktunya China membalas budi. Dalihnya benar karena sejak Nixon dan Menlu Kissinger membuka tirai pada awal 1970-an, Amerika Serikat memfasilitasi dengan memberi kemudahan dalam alih teknologi, finansial, pendidikan dan lainnya. Dengan dukungan AS China menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mulai 11 Desember 2001.

Trump kemudian melancarkan perang dagang dengan menaikkan tarif impor produk dari China. Menutup konsulat jenderal China di Houston, Texas. Belakangan menyebut China merupakan asal muasal dan penyebab pandemi CoVID-19. Mempersoalkan dominasi China di laut China Selatan. Secara keseluruhan, Trump juga menutup peluang bekerjasama.

Biden mewarisi keadaan yang tidak mudah karena Trump mengisolasi dan menyingkirkan Iran, China dan sekutu-sekutunya termasuk Eropa. Amerika Serikat perlu waktu membangun kembali trust and confidence.

Sulitnya China dewasa ini merasa perekonomiannya lebih unggul. Beijing juga menilai banyak negara yang menghargai diplomasi ekonomi, One Belt One Road (OBOR).

Pemerintahan baru AS tetap akan menjadikan China sebagai pesaing utama. Artinya melanjutkan perang dagang dan pengawasan alih teknologi namun tidak menutup peluang kerjasama dalam mengatasi pandemi CoVID-19 dan pemanasan global.

Dalam kerangka perang dagang, Biden ditafsirkan secara realistis akan meningkatkan daya saing ekonomi domestik dan inovasi teknologi. Biden tampaknya akan menghindari megaphone diplomacy karena kurang efektif.

Titik Panas


Selat Taiwan dan laut China Selatan akan menjadi titik panas dalam hubungan politik dan keamanan Amerika Serikat China. Bila di selat Taiwan yang tengah berlangsung adalah ketegangan permanen, maka ketegangan di laut China Selatan terus meningkat dari waktu ke waktu.

ASEAN, sekalipun telah membangun kerangka dialog dengan negara-negara besar, namun khawatir sebab China mengembangkan kekuatan militer di laut China Selatan. China dan beberapa negara Asean juga saling mengklaim gugus pulau di kepulauan Spraley dan Paracel.

Tambahan lagi, Beijing mengklaim hampr seluruh wilayah di laut China Selatan berdasarkan alasan sejarah, dikuasai Dinasti Ming.

Klaim China yang ditandai dengan sembilan garis terputus-putus itu mengurangi 83 ribu km wilayah Indonesia di laut Natuna Utara. Pilipina, Malaysia, Brunei dan Vietnam juga mengalami nasib yang sama, tetapi dengan luas wilayah yang berkurang secara bervariasi.

Dalam konteks seperti itu, ASEAN memerlukan kekuatan pengimbang sekalipun berasal dari luar kawasan. Dengan demikian apakah laut China Selatan kelak menjadi titik didih, maka tergantung kepada kemauan China untuk berdialog. (Sjarifuddin)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load