Mengetahui Selera Dunia?

Selasa , 19 Januari 2021 | 08:35
Mengetahui Selera Dunia?
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi. Masker Batik

KETIKA penulis pada tahun 1973, peristiwanya di kampus Duke University, Durham, North Carolina, Amerika Serikat, penulis Iagi menyimak kuliah dari Profesor Dr Daniel Graham, salah seorang Ahli Teori Ekonomi Mikro, di negara Amerika Serikat.

Beliau berujar bahwa, permintaan untuk mengkonsumsikan suatu barang adalah bergantung kepada tiga hal.

Pertama, harga dari barang yang bersangkutan. Kedua, penghasilan dari konsumen, dan yang ketiga adalah selera (taste) dari masing-masing konsumen.

Sebetulnya masih ada faktor yang lain seperti; barang-barang, warna barang itu, bungkusnya, dan sebagainya, kita anggap tidak besar pengaruhnya.

Beliau berkata, bahwa di samping harga barang dan penghasilan konsumen, maka faktor selera (taste) sesungguhnya sangat menentukan.

Lalu Beliau sampai kepada kesimpulan, bahwa suatu barang itu akan dibeli atau tidak oleh konsumen, dalam kehidupan sehari-hari, adalah sangat ditentukan oleh harga barang itu, dan penghasilan (daya beli), serta selera (taste) dari konsumen.

Dua faktor yang pertama yakni, harga dan penghasilan itu, dalam prakteknya terbaca secara kuantitatif.

Artinya ada angkanya. Misalnya harga barang itu, Rp 10.000 dan penghasilan konsumen A adalah Rp 100.000 per hari. Bagi konsumen A, harga sebesar Rp 10.000 adalah uang kecil, dan kebetulan dia ada selera, dia suka barang itu, maka dibelinyalah barang itu.

Beliau pada waktu itu berujar ke arah penulis, sebagai berikut, “Mr Usman, anda harus cerdik bisa mengetahui selera (taste) orang Amerika Serikat. Kalau anda bisa begitu, maka pastikanlah produksi Indonesia kepada barang itu, dan kemudian anda eksporlah barang itu ke Amerika Serikat, maka pastilah akan habis dibeli oleh rakyat Amerika Serikat."

Penulis sekarang ini membaca bahwa Pemerintah Republik Indonesia sedang berusaha serius sekali untuk membuat ekonomi Indonesia keluar dari masa atau waktu, “ekonomi resesi”, alias ekonomi yang lagi lesu darah?

Beberapa teman ekonom, berujar sebagai berikut, “Kenapa kita tidak memusatkan produksi Indonesia kepada barang-barang yang merupakan selera orang Amerika Serikat?”

Penulis bertanya, “Apa maksud anda?” Dia menjawab, “Bung Marzuki, lihatlah kepada selera orang Amerika Serikat kepada barang-barang yang diproduksi dengan pekerjaan tangan, seperti masker batik yang dilukis khas budaya Indonesia. Itu bisa dijual dengan harga yang lebih mahal dari pada masker buatan pabrik. Selera rakyat Amerika Serikat, mereka sangat suka sekali kepada : barang-barang yang bukan buatan pabrik, ramah lingkungan, produksi rumah tangga, bangga memakai atau mengkonsumsinya.

Di bidang perdagangan jasa-jasa seperti, pariwisata, sebagai contoh, objek-objek wisata di Indonesia, kebanyakan adalah unik (hanya adanya di Indonesia saja di dunia ini), dan tidak bisa ditiru atau dicontoh lagi.

Ambilah contoh, Gunung Kerinci di Jambi. Ternyata adalah gunung api yang unik dan tidak bisa ditiru atau dicontoh. Karena Gunung Kerinci itu adalah gunung nomor 2 tertinggi di Indonesia, setelah Puncak Jaya Wijaya, dan satu-satunya gunung di dunia yang dilihat  sudut pandang mana saja, Gunung Kerinci itu kelihatannya selalu segitiga.

Apa artinya ini semua? Rakyat Indonesia haruslah pandai mensyukuri karunia Allah SWT kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia kita, berupa alam yang indah dan unik, budaya yang beraneka ragam, keterampilan alam seperti pijat, ngurusi orang tua (jompo), dan sebagainya.

Rakyat Indonesia bisa hidup menjadi kaya dan terpelajar, katanya dengan mengekspor barang-barang dan jasa-jasa, karunia Ilahi, ke seluruh dunia, yang sudah lama ingin menikmati barang-barang dan jasa-jasa yang ada dan berasal dari Indonesia.

Semoga semua ini bisa menjadi kenyataan, adalah terserah kepada Pemerintah dan rakyat NKRI. Kata rekan penulis, Zulfa Basir, “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Nasib di tangan kita, takdir punya Allah SWT." (Marzuki Usman)  

Catatan Redaksi: Tulisan ini telah diperbarui oleh penulis pada Rabu (20/1/2021) pukul 9.14 WIB.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load