Jangan Sampai Indonesia Cuma Gigit Jari!

Selasa , 12 Januari 2021 | 08:15
Jangan Sampai Indonesia Cuma Gigit Jari!
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi. Pijat tradisional Bali.

DUNIA sejak tanggal 1 Januari 2020, sudah memasuki era perdagangan bebas (Free Trade), untuk dagang barang-barang (Trade In Goods) dan atau dagang jasa-jasa (Trade in Services).

Ini adalah hasil dari negosiasi 113 negara di dunia, pada bulan September 1993, di Geneva, Switzerland. Dan untuk melaksanakan kesepakatan itu, maka pertanggal 1 Januari 1995 telah terbentuk Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

Badan inilah tempat penyelesaian apabila ada perbedaan praktik di dalam perdagangan barang dan jasa, diantara negara-negara anggota WTO.

Kesepakatan mengenai perdagangan bebas-barang, artinya barang-barang apa saja yang keluar masuk daerah pabean dari negara yang bersangkutan, tidak ada halangan, alias bebas keluar masuk. Ini dibaca, tidak ada lagi pungutan bea masuk (Customs Duty). Dan dibaca, tarif perdagangan barang adalah nol persen. Dan juga tidak boleh ada lagi, halangan perdagangan dalam bentuk lain, seperti : pembatasan kwantitas (Quota), dan atau pelarangan barang atau barang tertentu melintasi daerah pabean, dari masing-masing anggota WTO.

Untuk perdagangan barang, Indonesia memiliki, “keberuntungan absolut (Absolute Advantages)”, yaitu barang produksi pertanian, seperti : toge, bayam, buah-buahan lokal, seperti : jambu, mangga, manggis, dan sebagainya. Juga produksi perikanan, seperti : ikan semah, ikan terbang, ikan gurame, lobster dan sebagainya. Pada prinsipnya, barang-barang yang seperti ini, cuma ada di Indonesia di dunia ini, dan tidak ada di negara lain.

Artinya apa? Artinya, Indonesia boleh mengekspor barang-barang seperti ini ke mana saja di dunia ini. Karena barang-barang itu unik, artinya cuma ada di Indonesia saja. Akan tetapi, Indonesia perlu waspada, agar jangan sampai terjadi di era perdagangan bebas (Free Trade) ini, jangan sampai barang-barang itu diproduksi oleh orang asing di Indonesia. Artinya, yang menikmati hasil perdagangannya bukan lagi orang Indonesia, karena pelaku ekonomi seluruh dunia sudah bebas berproduksi di mana saja di dunia ini.

Di bidang perdagangan jasa, Indonesia juga memiliki, “keberuntungan absolut (Absolute Advantages) seperti : tukang cukur (Barber), tukang pijat (Massages), perawat lansia (Elderly Helper), dan seterusnya. Ini semua tidak bisa diganti oleh mesin, robot, atau oleh digital.

Ini berarti bahwa Indonesia memperoleh kesempatan untuk mengekspor ke seluruh dunia, seperti : tukang cukur, tukang pijat, perawat lansia (Elderly Helper), dan seterusnya. 

Untuk itu semua, janganlah sampai terjadi, sebetulnya barang-barang itu adalah secara tradisional, adalah telah diproduksi oleh masing-masing daerah, dan masing-masing suku-suku bangsa Indonesia. Indonesia haruslah rajin mempatenkan barang-barang dan jasa-jasa itu.

Satu dan lain, jangan sampai terjadi barang itu secara tradisional sudah diproduksi oleh orang asing di Indonesia. Atau jangan sampai terjadi, bahwa pijat itu adalah jasa tradisional Indonesia. Tetapi, karena Indonesia absen, alias lupa mempatenkan, maka jadilah jasa pijat itu dipatenkan oleh orang Amerika Serikat, di negara Amerika Serikat.

Kaji jeleknya, pijat Bali itu, asli Indonesia, tetapi dipatenkan oleh orang Amerika Serikat, di Amerika Serikat. Maka, pemijat Amerika Serikat itu bisa menggugat Indonesia, sebagai penjiplak pijat Bali yang telah dipatenkan oleh orang Amerika Serikat, di Amerika Serikat.

Akibatnya, Amerika Serikat akan menuntut Indonesia, karena telah berani menjiplak pijat Bali yang dipatenkan di Amerika Serikat. Alangkah malangnya nasib NKRI? Kata orang banyak, “Kasian deh lo, Indonesia, tinggal gigit jari?". (Marzuki Usman)












KOMENTAR

End of content

No more pages to load