Mendayagunakan Sumber Daya Ekonomi

Selasa , 05 Januari 2021 | 09:06
Mendayagunakan Sumber Daya Ekonomi
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

PADA tahun 1993, penulis menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK), Departemen Keuangan Republik Indonesia. Akan tetapi, penulis 16 tahun sebelumnya, ketika itu penulis menjabat sebagai Direktur Investasi dan Kekayaan Negara, penulis membantu rekan-rekan di Departemen Koperasi, untuk memberdayakan Badan Hukum Koperasi supaya dimanfaatkan untuk mensejahterakan anggota koperasi. 


Rupanya teman-teman di Departemen Koperasi masih teringat akan kontribusi penulis untuk menggairahkan gerakan koperasi Indonesia, maka sebagai balas jasa, pada tahun 1993, mereka mengajak penulis untuk ikut pergi studi banding ke kota Nanjing, Republik Rakyat China (RRC), untuk belajar, bagaimana RRC membuat koperasi mereka, “Bertepat Guna (Effisien)”, dan juga sekaligus, “Berdaya Guna (Effektif)”.

Ketika sudah sampai di kota Nanjing, pada hari pertama, pada jam 5 pagi, penulis lari-lari pagi di sepanjang jalan di kota Nanjing. Penulis melihat ada seorang pekerja, bersepeda dan membawa gentong kayu. Penulis berhenti lalu mendekat, karena ada rasa ingin tahu, apa isi gentong kayu itu.

Ketika, di tahun 1957-1963, penulis lagi menuntut ilmu di SMP dan SMA di Kota Jambi. Penulis melihat pada pagi hari, banyak pedagang kembang tahu, warga kota, keturunan China. Mereka bersepeda seperti warga kota Nanjing itu. Ternyata isi gentong kayu dari pekerja, dari kota Nanjing itu adalah kotoran manusia.

Ketika penulis sudah ikut ceramah pegawai dari kantor Wali Kota Nanjing, tentang kebersihan kota. Ketika waktu jedah, penulis bertanya kepada pejabat itu tentang sepeda gentong kayu itu.

Dia menjawab bahwa kotoran manusia itu dikumpul dari pispot-pispot yang ditempatkan di depan pintu rumah-rumah penduduk di kota Nanjing. Karena China pada waktu itu masih sebagai negara yang sedang berkembang (Developing Country). Artinya belum kaya, dan mereka belum mampu membuat sistem pembuangan kotoran manusia dari setiap rumah dengan sistem apa yang disebut sebagai, “Sewerage System”, yakni sistem dengan pipa-pipa dari rumah ke rumah. Dan seterusnya sampailah kepada tempat kotoran manusia di olah, sehingga airnya menjadi bersih dan bisa diminum. Dan endapan kotorannya kemudian dibakar untuk menjadi pupuk.

Sebagai gantinya sistem pakai pipa, (“Sewerage Treatment System”), maka pekerja yang pakai sepeda itu mengambil pispot-pispot, lalu dituangkan ke gentong kayunya yang di atas sepeda. Kemudian dibawalah ke kolam endapan untuk diproses supaya air kotorannya nanti dibuat menjadi bersih (bisa diminum). Dan endapannya dibakar untuk menjadi pupuk. Sekarang ini, karena RRC sudah menjadi negara kaya, maka tidak ada lagi pekerja pembersihan wc rumah dengan sepeda, tetapi sudah pakai pipa-pipa dengan sistem Sewerage Treatment System.

Kembali lagi ke NKRI, rasanya kita belum mampu untuk membuat setiap kota dan pedesaan dengan sistem pembersihan wc di rumah-rumah dengan sistem Sewerage Treatment System, karena mahaI harganya. Marilah kita mencontoh pengalaman RRC itu. Nabi dan Rasulullah Muhammad S.A.W, 15 abad yang lalu telah berujar “Tuntutlah ilmu walau ke negeri China sekalipun!”

Di dalam berbisnis, pengusaha Indonesia juga sudah mengambil pelajaran dari pebisnis China. Contohnya, bisnis ojek atau ojol, sudah berkiprah dan sudah menjadi pengusaha besar di Indonesia. Mereka itu mencontoh pengusaha Jack Ma dengan aplikasi Alibaba atau Alipay yang sudah mendunia. (Marzuki Usman)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load