Belajarlah dari Pengalaman China, Mangarungi Era Perdagangan Bebas

Selasa , 29 Desember 2020 | 08:58
Belajarlah dari Pengalaman China, Mangarungi Era Perdagangan Bebas
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman
POPULER

SEPTEMBER 1993,  bertempat di Kota Geneva, Swiss, penulis mendapat amanah dari Menteri Keuangan Republik Indonesia menjadi anggota delegasi Indonesia untuk bernegosiasi dengan 113 negara peserta membicarakan dan mencapai kesepakatan untuk melaksanakan Pedagangan Bebas (Free Trade) di dunia, dan pendirian lembaga, Organisasi Perdagangan Bebas Dunia (World Trade Organization - WTO).

Penulis diberi kepercayaan untuk bernegosiasi mengenai perdagangan jasa (Trade In Services) di dunia. Pada waktu itu desepakati akan dibahas 110 jenis perdagangan jasa. Dan Indonesia menawarkan untuk pembebasan perdagangan jasa di sektor :
1. Sektor Perbankan Jasa Keuangan lainnya,
2. Sektor Pariwisata,
3. Sektor Perhubungan (darat, laut, dan udara), dan
4. Sektor Telepon dan Komunikasi.

Dan, ada lagi group delegasi lain yang membahas perdagangan barang (Trade In Goods). Dan, ada lagi group yang membahas Investasi. Serta ada group lainnya, yang membahas Hak-hak Atas Kekayaan Intellektual (Intellectual Property Rights).

Ketua delegasi Indonesia adalah Duta Besar Indonesia untuk Organisasi PBB, GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), yakni Bapak DR. Hasan Kartadjumena.

Pada waktu  itu, belum tuntas kesepakatannya dan masih banyak yang perlu dibahas lagi. Maka untuk memberi wadah untuk tempat bernegosiasi, maka akan segera dibentuklah badan yang bernama World Trade Organization (WTO). Dan badan ini, WTO akhirnya setelah melalui perundingan yang ulet, terbentuklah WTO itu pada tahun 1995, dengan penandatanganan Piagam WTO oleh para Menteri Perdagangan Dunia di kota Marrakesh, Maroko.

Pada waktu itu ditanyakan kepada anggota delegasi, “Kapan mulainya semua anggota WTO akan setuju untuk memulaikan praktik Perdagangan Bebas (Free Trade) di bidang : Barang, Jasa, Investasi, dan Hak Atas Kekayaan Intellektual (Intellectual Property Rights)?”

Pada waktu itu, penulis segera mengusulkan bahwa praktik Perdagangan Bebas, Barang dan Jasa (Free Trade Goods, and Services), adalah mulai pada tahun 2093 (masih ada seratus tahun lagi). Semua peserta geleng-geleng kepala, seraya berteriak, “No”. Lalu penulis ajukan lagi maju ke tahun 2050, dan peserta masih geleng-geleng kepala, seraya berkata, “ No (tidak)”.

Akhirnya, penulis mengusulkan mulai Perdagangan Barang dan Jasa, yang bebas, akan diberlakukan di dunia pada tahun 2020. Dan semua peserta sepakat, dan berkata, “Iya”.

Posisi Indonesia pada waktu pembentukan Organisasi WTO itu adalah sebagai Anggota dan Pendiri. Adapun negara China, ingin sekali berposisi sebagai anggota dan pendiri. Akan tetapi, dihalangi oleh Amerika Serikat dan konco-konconya. Boro-boro mau menjadi pendiri, menjadi anggota WTO, baru diterima pada tahun 2002.

Ternyata China tidak berkecil hati. Ketika mereka kembali ke negaranya, maka mereka mulai tahun 1993 bertekad, setiap tahun mengirim setengah juta lulusan Sekolah Tinggi China ke masing-masing negara : Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Amerika Latin, dan Australia, untuk menggondol gelar Doktor dari pelbagai ilmu pengetahuan.

Hal ini berarti, setelah lima tahun belajar di luar negeri, maka mulai tahun 1998 dan seterusnya, di China akan kebanjiran tenaga ahli Doktor lulusan : Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Amerika Latin, dan Australia. Dan mereka sudah mengamalkan ilmu dan kebolehannya di negara mereka.

Dan tidak heranlah bahwa China itu sudah bisa membuat produk tiruan, bahkan lebih baik kwalitasnya dibanding dengan produk aslinya. Dan negara China semakin terbang meroket untuk memimpin ekonomi dunia.

Dan, kapanlah akan sampai juga giliran Indonesia untuk memimpin ekonomi dunia? Semogalah dalam waktu tidak terlalu lama, Insya Allah! Amin. Mudah-mudahan sebelum ajal menjemput Marzuki Usman. Allahu akbar walillah ilhamd. (Marzuki Usman)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load