Refleksi 2020, Xi Jinping-Donald Trump Saling Berbalas Syair

Rabu , 23 Desember 2020 | 09:17
Refleksi 2020, Xi Jinping-Donald Trump Saling Berbalas Syair
Sumber Foto : Istimewa
Xi Jinping dan Donald Trump.
POPULER

PRESIDEN China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump saling berbalas menaikkan tarif impor selama 2020. Trump juga menuduh China memanipulasi nilai tukar yuan terhadap US$, melanggar hak paten, hak cipta dan hak kekayaan intelektual negara. Xi membantah semuanya, membalas menaikkan tarif impor produk AS , seraya mengajak berunding. 

Sikap China yang tegas menimbulkan tanda tanya. Apakah Xi Jinping mengambil jalan berbeda dengan para pendahulunya?
Dalam konteks tersebut XI dibandingkan dengan Deng Xiaoping yang bersikap rendah hati terhadap negara-negara Barat. Deng juga seolah memberi dukungan kepada AS yang sedang berupaya menghancurkan Uni Soviet.

Mengikuti nasehat ahli strategi Zun Tzu, Deng memanfaatkan momentum dengan membuka negaranya dan memberi kesempatan kepada kaum kapitalis. Tetapi Dengan mensyaratkan perusahaan asing harus bermitra dengan perusahaan domestik. 90 persen produknya di ekspor, sedangkan mitra domestik juga membangun perusahaan dengan produk serupa tetapi orientasinya di di dalam negeri.

Pemerintah juga melarang investasi asing dalam perawatan kesehatan. Padahal raksasa-raksasa farmasi sangat menginginkan pasar yang berisi lebih dari 1,6 miliar jiwa itu.

Alhasil pasar dalam negeri tetap dikuasai perusahaan pemerintah. China juga menarik keuntungan dari keanggotaannya dalam WTO pada 2001.

Perekonomian makin kuat dan tumbuh rata-rata 8-10 persen per tahun. Produk-produk buatan China tak lagi yang murah dan gampang rusak, tapi juga berteknologi tinggi seperti buatan Huawei. China muncul sebagai pesaing Amerika Serikat.

Menutup Demokrasi, Memberantas Korupsi

Deng juga menutup pintu kepada mereka yang menginginkan sistem politik demokrasi. Insiden Tienanmen pada 15 April- 4 Juni 1989 menunjukkan pemerintah tidak mentolerir kebebasan politik, namun menyepakati korupsi dan sebagainya dibabat habis.

PM Zhu Rongji pada 1998 menyatakan, sediakan 100 peti mati. 99 diantaranya untuk koruptor dan satu peti untuk saya bila korupsi.

Hukuman mati terhadap koruptor dengan ditembak dilakukan siang hari, setelah sebelumnya yang bersangkutan diarak keliling kota.

Mungkin karena takut banyak pejabat yang mati bunuh diri sebab khawatir aksi kriminalnya mempermalukan keluarga.

Tahun 2019, sejumlah 18.585 pejabat partai maupun pemerintah dituntut karena melakukan korupsi. Xi Jinping menegaskan ia akan mengincar pejabat dan petinggi lebih dulu karena lebih efektif dalam memberantas korupsi.

Menerapkan hukuman berat terhadap koruptor sangat tepat. Pembangunan ekonomi memerlukan kestabilan politik dan keamanan, rakyat memerlukan kesejahteraan. Rakyat akhirnya lupa dengan Sekjen Partai Hu Yaobang yang disingkirkan Deng cs karena berfaham liberal.

Merendah Bukan Lemah

Deng merendah dan ramah, tetapi bukan berarti lemah. Kepada PM Inggris Margareth Thatcher yang ingin mengulur-ulur waktu penyerahan Hong Kong, ia menyatakan masalah kedaulatan tidak bisa dirundingkan.Thatcher yang dijuluki berpendirian seperti besi itu menyerah. 

Hong Kong diserahkan tahun 1997, lalu Beijing menerapkan satu negara dua sistem selama 23 tahun. Hong Kong dimanfaatkan betul sebagai pusat investasi dan keuangan, dalam mana banyak perusahaan China go public dan mendirikan kantor-kantor di pulau tersebut.

Seiring dengan itu, pemerintah juga mempersiapkan kota-kota di pinggir pantai seperti Shenzen sebagai pusat ekonomi. Bahkan pulau Hainan konon sedang dipersiapkan seperti Hong Kong.

Tahun ini, Undang-Undang Keamanan Nasional diterapkan untuk mengakhiri otonomi dan kebebasan. Sempat terjadi demonstrasi yang sengit dengan dukungan Inggris, Amerika Serikat namun kemudian dipadamkan.

Para pembangkang rupanya khawatir akan dimasukkan ke penjara di China Daratan.
Tampak para pemimpin China lainnya, seperti Jiang Zemin, Zhao Ziyang, Hua Guofeng, Hu Jintao, Wen Jiabao hingga Xi Jinping bersikap konsisten. Mereka hanya melakukan modifikasi di sana-sini, tetapi tujuan tetap serupa.

Yang menarik semua petinggi menghormati Mao Zedong. Mengabadikan jenazahnya, serta memasang fotonya di atas gerbang Istana Terlarang. Dalam foto itu Mao memandang lapangan Tiananmen yang disisinya terdapat mousoleum tempat jasad Mao dibaringkan.

Konsistensi

Para pengamat Barat menyebut konflik selalu terjadi dalam pertarungan memperebutkan posisi-posisi penting. Seberapa sengit konflik itu, tak sepenuhnya diketahui pihak luar.

Hanya saja dalam ilmu politik terdapat adagium atau pepatah,..konflik selalu bermuara kepada konsensus. Kasus Hu Yaobang misalnya, menjadi petunjuk.
Xi Jinping mewarisi konsistensi, konsensus dan sistem politik-ekonomi yang relatf cocok , sambil membangun kekuatan pendukung di kalangan partai komunis dan Dewan Negara.

Makanya ia dengan mudah merealisasikan program One Belt One Road (OBOR), Forum Kerjasama Afrika-China, Organisasi Kerjasama Ruang Angkasa Asia-Pasifik dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RECEP) yang mencakup 15 negara serta menguasai 30 persen ekonomi dunia.

RECEP bermaksud meliberalisasi perdagangan dan investasi, secara bertahap menurunkan tarif, memotong birokrasi serta menetapkan aturan baru tentang pengadaan barang, kebijakan kompetisi dan e-commerce.

RECEP nampaknya akan menyaingi The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) yang beranggotakan sebelas negara, tanpa China dan Amerika Serikat. AS keluar dari Trans Pacifi Partnership yang menjadi cikal bakal CPTPP.

Pendekatan Non-Konfrontatif

Keikutsertaan dalam berbagai forum dan memprakarsai OBOR menunjukkan Beijing lebih banyak melakukan kerjasama ekonomi berbasis kerjasama multilateral dibandingkan. Suatu pendekatan non konfrontatif yang menarik minat dan simpati.

Tetapi pada sisi yang lain, China menerapkan kebijaksanaan yang konfrontatif di laut China Selatan. (1)Mengklaim sejumlah pulau dan gugusan karang di kepulauan Spratley dan Paracel. (2) Mengklaim laut seluas dua juta kilometer persegi yang jaraknya 2.000 km dari daratan China. (3) Keberatan dengan penggunaan nama China Airlines (CAL) oleh perusahaan penerbangan Taiwan. (4) Klaim atas kepulauan Senkaku yang kini dikuasai Jepang. (5) Menyatakan kemarahan kepada pemerintah Korea Selatan karena memasang sistem pertahanan dengan peluru kendali balistik yang dapat menembak jatuh peluru kendali.

Diperkirakan sikap konfrontif itu bertujuan menggalang sikap nasionalisme dan mempersatukan kekuatan di dalam negeri di tengah kemerosotan pertumbuhan ekonomi. Selama empat tahun terakhir, pertumbuhan merosot. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi mencapai 6,11%, turun dari tahun 2018 (6,75%), tahun 2017 (6,95%) dan 2016 (6,85%). Tahun 2020 diperkirakan 5,8 dan tahun depan 8,4%.

Bagaimana dengan Joe Biden?

Kegagalan Donald Trump memperpanjang masa jabatan, setidaknya menunjukkan banyak pihak di dalam negeri AS menginginkan pendekatan baru terhadap China.

Memperbaiki neraca perdagangan tanpa mengedepankan kebijaksanaan proteksionis. Meredakan perang dagang dengan melanjutkan perundingan tahap kedua.

Tetapi tujuan Washington tak akan pernah padam untuk mencegah pertumbuhan pengaruh China.

Negara-negara di Asia juga tidak menginginkan China tumbuh tanpa pesaing. Mereka ingin AS memusatkan perhatian ke Asia .

Kebanggaan Lama

Bangsa China sejak ribuan tahun lalu sudah berpengalaman dalam konflik. Mereka juga mempunyai kebanggaan dengan identitas menjadi warga Kerajaan Langit. Mempunyai kebudayaan tinggi.

Melahirkan filsuf-filsuf terkemuka. Membuat bangunan-bangunan megah dan tata kota yang indah.

Chauvinisme itu rontok setelah kalah dengan Inggris pada perang Candu pertama (1839-1842). Dampaknya membiarkan orang-orang asing mendirikan pemukiman dan berbisnis di pelabuhan.

Lalu, membiarkan para pendeta menyebarkan agama Kristen ke pedalaman.
Kekalahan dalam Perang Candu II ( 1856-1860) dari Prancis-Inggris makin menjatuhkan moral karena harus menyerahkan Hong Kong kepada Inggris. Di samping harus lebih membuka diri.

Kekalahan dalam Perang Candu membuka mata bahwa ada bangsa lain yang memiliki keunggulan dalam pembuatan senjata dan lainnya. Mereka dengan cepat belajar dan meniru sambil tetap menyimpan kebencian terhadap bangsa Barat.

Sejarah memang berulang, Deng berhasil menarik pelajaran dari pengalaman di masa lalu. Xi Jinping pun begitu, walau lebih sulit. Dia telah menetapkan negaranya bakal menjadi nomor satu ada 2035. Kuat secara ekonomi maupun militer. (Sjarifuddin)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load