Siapa Pemenang Pandemi COVID-19?

Selasa , 24 November 2020 | 07:43
Siapa Pemenang Pandemi COVID-19?
Sumber Foto : Istimewa
COVID-19
POPULER

KETIKA penulis duduk di bangku kuliah, Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, tahun keempat, pada tahun 1965 mengikuti kuliah Teori Ekonomi Tingkat Atas (Advance Economic Theory) yang biasanya banyak bersifat Ilmu Ekonomi Kuantitatif.

Artinya banyak memanfaatkan Ilmu Matematika. Misalnya dirumuskan bahwa untuk memproduksi suatu barang diperlukan bahan-bahan berupa: Sumber Daya Alam – SDA (Natural Resources), Sumber Daya Manusia – SDM (Human Reources), dan Sumber Daya Kapital, dan Pengusaha (Entrepreneur) yang meramu sumber daya ekonomi itu untuk menjadi satu barang atau produk yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan para konsumen.

Secara Teori Ekonomi Kuantitatif dirumuskan dengan satu persamaan yaitu sebagai berikut, Q = F (Tanah, Tenaga Kerja, dan Pengusaha), yang disederhanakan menjadi Q = F (N, L, C, E) dibaca sebagai berikut. Untuk membuat suatu barang Q, diperlukan sumber daya ekonomi berupa : N dibaca Natural Resources, seperti tanah atau bumi dengan seisinya, dan L, yakni Labor, yaitu Tenaga Kerja Manusia, dan C dibaca Capital, yaitu segala sesuatu barang yang dapat digunakan untuk menghasilkan atau membuat barang lain, seperti : kuwali, panci, periuk, mesin-mesin, dan sebagainya.

Meskipun sudah ada ketiga unsur itu (sumber daya ekonomi), masih diperlukan sumber daya keempat yaitu : Pengusaha (Entrepreneur). Tanpa ada keempat unsur itu tidak mungkin dapat diproduksi suatu barang dan atau jasa. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang bisa membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia, Allah berfirman, “Jadilah bumi!, maka jadilah bumi ini”.

Di dalam masa pandemic COVID-19, para pengusaha yang selalu berperan sebagai penentu tren (Arah) dalam kegiatan ekonomi. Pengusaha seperti ini adalah sebagai pengusaha penentu arah (Trend Setter) dari ekonomi. Dia tidak pernah merasa gusar, bahkan mereka melihat selalu ada lobang untuk keluar dari kesulitan. Mereka keluar dengan cara berusaha dari rumah saja (Work From Home – WFH). Dan atau mereka memanfaatkan teknologi digital dan atau online, dan atau memanfaatkan tenaga robot dan seterusnya.

Bagi pengusaha seperti ini, mereka selalu merubah Ancaman-ancaman (Threats) menjadi Peluang (Opportunities). Mereka selalu mencari lobang penyelesaian, dan selalu bekerja keras dan cerdik.

Berlainan sekali dengan para pengusaha yang menangisi nasibnya. Disebut sebagai pengusaha yang selalu mengikuti tren, yakni disebut sebagai trend follower. Mereka ini lebih banyak mengeluh dari pada mencari lubang untuk keluar dari pada ancaman.

Pada akhirnya, mereka pada cabut atau hengkang dari bisnis itu. Dan mereka jual perusahaannya, dan lalu kemudian uang hasil penjualan itu dia tempatkan di bank, sebagai deposito berjangka. Dan dia hiduplah dari hasil bunga depositonya, sambil menanti akhir hayatnya.

Sedangkan, kepada pengusaha yang berprilaku sebagai penentu tren atau arah maka dia malah melihat adanya kesempatan untuk membeli perusahaan-perusahaan milik pengusaha trend follower itu, dengan harga yang murah. Kemudian dia ubah usaha yang dibeli itu, dari rugi menjadi untung! Dan dialah pengusaha pemenang pandemic COVID-19.

Mudah-mudahan di Indonesia ini, kita dikarunia oleh Allah SWT banyak pengusaha yang berprilaku sebagai trend setter! Alhamdulillahi Robbal A’lamin. (Marzuki Usman)

Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load