Kalau saja BUMN dan BUMD Go Public Sejak Dulu.....

Selasa , 10 November 2020 | 08:55
Kalau saja BUMN dan BUMD Go Public Sejak Dulu.....
Sumber Foto : Istimewa
Bursa Efek Indonesia

ADALAH kebiasaan teman-teman penulis, ketika belajar di Duke University, Durham, North Carolina, Amerika Serikat, mereka apabila memperoleh sesuatu yang sangat menyenangkan, maka mereka, berkata secara spontan, “Thanks God! I do have my grade 100 on my Doctoral Examinition”.

Ternyata kebiasaan (habits) seperti ini, rupanya menular kepada perilaku penulis, ketika pasar modal Indonesia, pada tahun 1989 mencapai prestasi yang terbaik dibandingkan dengan pasar modal Shanghai, Republik Rakyat China.

Pada waktu itu pasar modal Indonesia sudah menjadi buah bibir dunia. Surat kabar dan atau majalah terkenal di dunia, seperti : Herald Tribune, Koran tersohor di Kerajaan Inggris, juga koran Asahi Simbun, di Kota Tokyo, Jepang dan Majalah Times, New York, AS.

Semestinya, pada waktu itu kita memanfaatkan pasar yang terbaik ini untuk membuat seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Pemerintah Daerah (BUMD), semuanya dijadikan perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dan, setelah itu Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah, mengambil kebijakan untuk menjual 10 persen dari saham yang dimilikinya, pada setiap BUMN dan BUMD, kepada Investor di seluruh dunia.

Menurut teman penulis seorang Profesor Glen Jenknis, dari Universitas Harvard, Pemerintah Indonesia akan panen hasil penjual saham yang 10 persen itu akan memperoleh penghasilan sebesar 100 miliar dolar Amerika Serikat.

Beliau melanjutkan sebagai berikut, “Gunakanlah dari uang sebesar USD 100 miliar itu, sebesar USD 50 miliar, belilah surat obligasi Bank Dunia yang berjangka waktu 50 tahun. Kemudian, gunakanlah hasil investasi dari obligasi Bank Dunia itu, digunakan untuk mencicil utang Republik Indonesia kepada Bank Dunia. Artinya menurut Beliau, utang Indonesia akan lunas, dan NKRI tetap masih memiliki obligasi Bank Dunia itu yang sebesar USD 50 miliar.

Dan uang sebesar USD 50 miliar lainnya itu, gunakanlah untuk membangun pra-sarana : perhubungan darat, laut, dan udara, dan juga pelabuhan laut, darat dan udara!

Ternyata, rupanya sejarah belum memihak kepada Indonesia untuk membuat rakyat Indonesia, terampil, cerdas, dan kaya! Kata orang awam, alias rakyat banyak, “Masih ada harapan untuk memperoleh hidup selalu nikmat dan kaya?” (Marzuki Usman)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load