"The Best" atau "The Second Best"

Selasa , 03 November 2020 | 07:44
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman

ADA teman penulis, seorang ekonom (ahli ekonomi) cukup terkenal di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Beberapa minggu lalu, saya bertanya kepada Beliau, bagaimana pengusaha kita menyikapi efek negatif dari pandemi COVID-19 ini? Dia berujar sebagai berikut;

“Ya Marzuki, ketika engkau kuliah di Duke University, Durham, North Carolina, USA, anda bukankah pernah kuliah tentang bagaimana mencari solusi dari pemecahan suatu masalah?”

Biasanya sang profesor menjelaskan sebagai berikut. “Di dalam setiap menghadapi suatu masalah (problem), dan kita haruslah mencari hasil penyelesaian, yang unik. Artinya, hanya itulah satu-satu caranya untuk keluar dari masalah itu, dan semua pihak yang terlibat merasa puas sekali. Dibaca sebagai solusi yang unik dan win-win, sehingga tidak ada pihak yang berkeluh kesah. Itulah solusi yang paling baik, disebut solusi, “The best solution” atau “Solusi yang paling bagus."

Tetapi di dalam kenyataannya, bahwa solusi yang paling bagus itu tidak diperoleh, maka kita terpaksa pergi ke solusi yang kedua, yakni solusi yang nomor dua baiknya (the second best solution). Solusi seperti adalah lebih baik dari pada tidak ada solusi apa-apa.

Di dalam dunia usaha menghadapi efek negatif dari pandemi COVID-19 ini, yang paling baik adalah pengusaha-pengusaha yang dengan adanya ancaman efek negatif dari wabah COVID-19 ini, maka dia malah melihat peluang (Opportunity), misalnya untuk mencebur ke bisnis menyediakan apartemen, atau hotel khusus untuk para penderita COVID-19 yang menentukan tempat tinggal, untuk menjalankan isolasi lokal atau karantina lokal.

Di pihak lain, para pengusaha itu mencebur juga kepada usaha untuk memproduksi barang-barang, seperti : masker, helm penutup muka yang transparan, dan cairan pembersih tangan dan sebagainya.

Teman penulis tadi menyimpulkan, bahwa pengusaha yang cerdik di dalam keadaan apapun juga, dia selalu memperoleh penyelesaian yang paling baik, yakni the best solution. Kalau yang paling baik belum diperoleh, maka solusi sementara, pergi kepada solusi yang nomor dua bagus, yakni the second best solution. Dan toh dia selalu ada saja idenya, untuk menyelesaikan setiap masalah! (Marzuki Usman)

Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load