Ancaman Menjadi Peluang, Surat Hutang Obligasi Berkelanjutan

Selasa , 27 Oktober 2020 | 13:00
Ancaman Menjadi Peluang, Surat Hutang Obligasi Berkelanjutan
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

SEBAGAI akibat negatif dari adanya wabah COVID-19, maka kebanyakan perusahaan-perusahaan, baik milik swasta, (Badan Usaha Milik Swasta – BUMS), maupun milik negara atau daerah (Badan Usaha Milik Negara - BUMN), dan (Badan Usaha Milik Pemerintah Daerah–BUMD), semuanya terimbas dalam hal pembiayaan kegiatan rutin, dan investasi dari perusahaan tersebut.

Di dalam keadaan normal sebeIum adanya pandemi COVID-19, perusahaan dapat memperoleh pembiayaan untuk kegiatan rutin dan atau investasi, dapat diperoleh dari sumber; laba yang ditahan (Return Earning), pinjaman atau kredit dari bank, atau kreditur lainnya. Hal ini pada waktu itu, yakni sebelum wabah COVID-19, pembiayaan itu dapat diperoleh relatif dengan mudah, sudah tersedia sumber-sumber dananya.

Namun, kemudian ketika efek negatif dari wabah COVID-19 juga menerpa pihak perbankan, maka pada gilirannya perbankan juga yang mengalami pertumbuhan kredit macet yang sangat mengkhawatirkan. Dan, demikian juga pemanfaatan pembiayaan dari pasar modal, juga terganggu, karena banyak juga perusahaan publik yang terdaftar (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI), banyak juga yang terpapar dan terkapar. Akibatnya, para investor pasar modal juga menurun kegiatan investasinya kepada produk pasar modal, seperti : saham dan obligasi.

Hal seperti ini, terlihat dari pada menurunnya angka index harga saham dan obligasi pada Bursa Efek Indonesia, semenjak merajalelanya pandemi COVID-19, sejak awal tahun 2020.

Khusus untuk produk pasar modal surat hutang obligasi, ternyata ada opsi untuk menerbitkan Surat Hutang Obligasi Berkelanjutan, dibaca Hutang Pokoknya tidak dibayar lagi selamanya, alias sampai hari kiamat? Dan bunganya juga akan dibayar selamanya, atau abadi.

Dari sudut penawaran, yakni dari pihak perusahaan yang menerbitkan Surat Hutang Obligasi Berkelanjutan - SHOB (Consule), perusahaan tersebut hanya membayar bunga setiap tahun kepada, Pemegang SHOB (Consule), dan pokoknya tidak dibayar.

Apa sebabnya Pemegang SHOB (Consule) itu mau membeli produk SHOB ini? Jawabnya, misalnya bunga yang ditawarkan kepada pemegang SHOB adalah 10 persen pertahun. Berarti setelah 10 tahun, penghasilan bunga yang sudah diterima itu, samalah besar jumlah uangnya dengan hutang Pokok yang tercantum pada SHOB. Dan si pemegang SHOB ini tetap menerima penghasilan bunga itu selamanya, sampai hari kiamat!

Dan dari sudut perusahaan penerbit SHOB (Consule) ini, karena tidak perlu membayar pokoknya, maka uang yang dikeluarkan untuk membayar bunga SHOB itu, secara Accounting, diberlakukan sebagai ongkos (expanses) perusahaan. Dengan perkataan lain, biaya itu akan mengurangi penghasilan perusahaan yang akan kena pajak. Pada gilirannya kegiatan seperti ini akan meningkatkan posisi Cast Flow dari perusahaan.

Dengan perkataan lain, sebagai akibat pandemi COVID-19, perusahaan-perusahaan akan memanfaatkan pembayaran dengan menerbitkan SHOB (Consule) untuk menopang pemulihan kegiatan investasi untuk membuat perusahaannya berlari kembali lebih kencang untuk meraup, keuntungan yang sebesar-besarnya. Semogalah! (Marzuki Usman)

 Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load