Jokowi Dan Orang-orang Di Sekitarnya

Kamis , 22 Oktober 2020 | 18:01
Jokowi Dan Orang-orang Di Sekitarnya
Sumber Foto kbr.id
Presiden Joko Widodo
POPULER

Oleh Taufik Darusman

Ketika Joko “Jokowi” Widodo dilantik untuk kedua dan terakhir kalinya sebagai presiden, pada Oktober tahun lalu, banyak bila boleh dikatakan kebanyakan masyarakat Indonesia menaruh harapan besar ia akan benar-benar dapat mewujudkan potensiya sebagai pemimpin nasional yang sejati.

Ibarat pemikiran politik konvensional yang dianut kebanyakan orang ketika itu, kali ini Jokowi tidak lagi disandera – seperti pada 2014 – oleh kekuatan-kekuatan politik yang membantu ia memenangkan Pilpres 2014. Kini, ia memiliki kebebasan untuk menempatkan orang yang tepat pada posisi tempat yang tepat pula untuk membantunya mengelola negara. Pada kenyataannya, tidak sepenuhnya demikian halnya.

Tak lama setelah Jokowi mulai menyusun personil kabinetnya, praktek dagang sapi segera dimulai. Ini suatu proses yang membuat demokrasi gaya Indonesia terkenal sebagai berantakan dan rumit. Basis politiknya, Partai Demokrasi  Indonesia-Perjuangan (PDIP), sebagai contoh, bersikeras untuk mendapatkan sekian banyak kursi di kabinet, demikian juga parpol-parpol pendukung yang membantu Jokowi memenangkan pilpres. Secara agak terlambat Jokowi mulai menyadari bahwa perpolitikan riil (real politics) bukan sekedar berurusan dengan memenangan pilpres atau pemilu; ia juga berurusan dengan menyenangkan para sekutu demi menjaga kesinambungan kehidupan politis.

Dewasa ini yang kita saksikan adalah para pejabat militer pasca-reformasi memegang sejumlah portofolio dalam bidang-bidang investasi, maritim, kesehatan, dan agama dengan hasil yang biasa-biasa saja. Kita juga menyaksikan wakil-wakil parpol mengelola, antara lain, perdagangan, lingkungan, tenaga kerja, perikanan, dan informatika. Sebagai pengakuan pro forma kepada golongan muda, Jokowi memutuskan agar darah segar menangani turisme dan  BUMN.

Dalam suatu keputusan yang mengundang cemoohan yang agak santun, ia juga menunjuk sejumlah asisten khusus muda yang tampaknya agak bingung dalam bagaimana melaksanakan tugas-tugas mereka. Di lain pihak, Jokowi mendapat pujian atas pilihan orang-orang untuk untuk menggawangi hankam, keuangan, pekerjn umum, dan luar negeri. Semua ini menimbulkan pertanyaan, sebaik apa Jokowi mampu mengelola negeri ini dengan timnya dalam empat tahun mendatang?

Kendati banyak tantangan yang dihadapi bangsa ini, yang utama dalam benak Jokowi dan para menterinya dewasa ini adalah pandemi Covid-19. Berdasarkan pola perkembangannya, pada akhir tahun virus mematikan ini akan memapar 400,000 penduduk Indonesia. Hingga kini lebih dari 12,000 orang Indonesia telah tewas akibat virus Corona, yang juga mengakibatkan perekonomian terjerumus daam resesi ditandai dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Beban Jokowi kini bertambah dengan adanya protes masif dari serikat buruh, akademisi, dan mahasiswa terhadap Omnibus Law. Produk hukum ini, yang praktis merombak sekitar 70 UU guna membuat iklim usaha di negeri ini lebih kondusif, secara umum patut mendapatkan acungan jempol. Tetapi sekali lagi, para menterinya menyia-nyiakan peluang emas untuk mendekatkan diri mereka dengan masyarakat umum. UU itu mengesankan suatu fait accompli, hal yang menguatkan anggapan sementara pihak bahwa pemerintah ini telah mulai mempraktekkan cara-cara Orde Baru.

Dalam suatu analisa yang dicermati dengan baik oleh banyak pihak, Ray Rangkuti, direktur eksekutif Lingkar Madani, sebuah LSM ternama, mencatat bahwa Jokowi telah mengadopsi gaya kepemimpinan Soeharto yang mengandalkan dukungan penuh parlemen dan pengambilan keputusan pemerintah pusat. Seperti halnya pada Orde Baru, ia menambahkan, Jokowi menomorduakan upaya pemberantasan korupsi  dan pada saat yang sama mendukung versi baru dari KKN: putra dan mantunya terjun dalam Pilkada sebagai calon walikota pada Desember.

Tidaklah mengejutkan bahwa survey oleh Kompas selama Oktober 14-16 2020 menunjukkan bahwa 52.50% dari 529 responden di 80 kota/kabupaten di 34 propinsi tidak puas dengan kinerja Jokowi dalam bidang-bidang ekonomi, politik dan keamanan, pemegakan hukum dan kesejahteraan sosial.

Singkatnya, masalah yang dihadapi Jokowi bukanlah bahwa ia menghadapi terlalu banyak tantangan; ia tidak cukup banyak orang-orang kompeten untuk membantu ia mengambil keputusan-keputusan jitu. Seperti yang kerap kali diucapkan, seorang pemimpin yang baik hanya dapat menjalankan tugasnya dengan baik mana kala ia dikelilingi oleh orang-orang baik pula.

Penulis adalah wartawan senior berkedudukan di Jakarta.



Sumber Berita: Taufik Darusman
KOMENTAR

End of content

No more pages to load