Belajar Dari Sejarah!

Selasa , 20 Oktober 2020 | 07:20
Belajar Dari Sejarah!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman

PANDEMI COVID-19 belum kelihatan tanda-tanda akan mereda. Bahkan terbersit berita, sudah ada kejadian wabah COVID-19 menimpa satu keluarga? Ya Allah Robb Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, kehadirat-Mu hamba ridho-MU untuk melenyapkan wabah COVID-19 ini.

Dalam keadaan situasi ini, banyak orang yang sudah mengeluh, pesimis masa depan dirinya, keluarganya, dan rakyat NKRI. Ada teman penulis menganjurkan kepada penulis untuk jangan bosan-bosan untuk belajar dari sejarah masa lalu. Kata beliau ini, “Ambillah contoh bagaimana terjadinya kota Singapura, menjadi Kota Pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara."

Sejarahnya terjadi pada abad ke-19, pada waktu itu Inggris menawarkan kepada Belanda untuk tukar guling, antara Bengkulu yang dikuasai oleh Inggris dengan Pulau Temasek, yang dikuasai oleh Belanda.

Karena Belanda merasa terganggu dengan adanya Bengkulu yang dikuasai oleh Inggris, maka Belanda setuju dengan tawaran Inggris itu. Dan Belanda melihat lagi, bahwa Inggris itu bodoh, karena tanah jajahan yang luas ditukar dengan pulau yang kecil.

Maka faktanya sekarang, Singapura menjadi kota pelabuhan yang tersohor di dunia. Sementara Bengkulu, tetap tidak dikenal dunia.

Peristiwa yang lain adalah, ketika pada abad ke-19 juga, Inggris menawarkan kepada Belanda untuk menukar jajahan Belanda di Amerika Serikat, yaitu Pulau New Amsterdam, di kota New York, dengan dua pulau kecil di depan Pulau Banda, yang digunakan oleh Inggris untuk menembak meriam mereka ke kapal-kapal Belanda yang lagi mengangkut rempah-rempah dari Banda ke Roterdam.

Maka sekali lagi Belanda kecewa, karena belakangan pada abad ke-20, Pulau New Amsterdam itu lalu menjadi Pulau Manhattan. Dan kemudian menjadi pusat keuangan sedunia.

Belajar dari sejarah itu, maka penulis mengusulkan pulau Kumala yang berada di Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Kertanegara, itu bisa dibuat menjadi seperti Manhattan yang berada di New York, Amerika Serikat. Dan kita berikan nama. “Pulau Kumala, Manhattan-nya Indonesia untuk Asia Tenggara dan Asia Timur”.

Penulis berpendapat bahwa ide teman ini bukanlah hal yang nyeleneh, tetapi dia bisa melihat jauh ke depan, dan penulis berharap, bahwa: pemuka, tokoh adat, dan tokoh-tokoh perguruan tinggi, dan pemerintah daerah tergelitik rasa ingin tahunya, dan juga tidak ingin untuk mengulangi sejarah kebodohan penjajah Belanda yang menukarkan dua wilayah dengan Inggris. Yang sekarang ini menikmati hasil tukar menukar wilayah itu.

Di dalam masa Pandemi COVID-19 ini, hendaknya kita haruslah rajin mengasah otak dan pemikiran yakni, “Bagaimana untuk mengkayakan rakyat NKRI?” Sehingga mereka menjadi tuan rumah di tanah air sendiri, dan dimuliakan oleh manusia sedunia. Dan hal seperti ini, Insya Allah akan terjadi, begitu wabah Pandemi COVID-19, lenyap dari bumi pertiwi Indonesia. Allahuma Amin Ya Robb. (Marzuki Usman)

Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load