Selamat Datang PM Jepang!

Senin , 19 Oktober 2020 | 06:18
Selamat Datang PM Jepang!
Sumber Foto : Istimewa
Yoshihide Suga
POPULER

TIGA pembicaraan di bawah ini berlangsung belasan tahun lalu, namun masih ada relevansinya sampai sekarang.

Seorang diplomat Jepang di Jakarta menyatakan negaranya sedang dipermainkan. Ujung tali yang satu dipegang China, tali lainnya dipegang Yahudi. Keduanya memutar-mutar tali hingga membuat Jepang berjingkrak-jingkrak.

Seorang mahasiswa tingkat doktoral dari Inggris berkeyakinan,  India  akan menggantikan Jepang sebagai negara termaju di dunia.

Bukan Indonesia? Ah. Tidak, katanya.
Jawabannya membuat saya kecewa sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu, rata-rata 6-7 persen per tahun.

Di kereta api Parahiangan yang sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, seorang bankir India menegaskan negaranya tidak akan muncul sebagai kekuatan ekonomi menggantikan Jepang.

Kenapa? Wilayah terlalu luas. Penduduk terlalu banyak. Politisi ribut melulu.

Ternyata yang muncul sebagai kekuatan ekonomi nomor dua, menggantikan Jepang adalah China.

Diperkirakan dalam 10-15 tahun ke depan, Amerika Serikat akan tergeser sebagai kekuatan ekonomi utama dunia. 

Raksasa Ekonomi

Data yang diterbitkan IMF baru-baru ini tentang Produk Domestik Bruto menyebutkan, Amerika Serikat berada di urutan pertama dengan jumlah US$ 20,49 triliun. China US$ 13,4 triliun. Jepang US$ 4,97 triliun. Jerman US$ 4 triliun. Inggris US$ 2,83 triliun. Prancis US$ 2,78 triliun. 

India di urutan ketujuh dengan US$ 2,72 triliun. Mengalahkan Italia US$ 2,72 triliun, Brasil US$ 1,87 triliun dan Kanada US$ 1,71 triliun.

AS, China dan Jepang  menjadi kekuatan ekonomi dunia karena melakukan investasi besar-besaran di sektor pendidikan. Membangun semangat wiraswasta dan memiliki sumber daya alam (kecuali Jepang).

AS juga sejak lama menerima imigran yang mendukung atau memiliki jiwa wiraswasta dan inovasi dalam ilmu pengetahuan serta teknologi. 

Di samping mempunyai industri manufaktur yang unggul. Faktor-faktor inilah yang membuat GDP membesar dari waktu ke waktu. Nilai sumber daya alam AS diperkirakan US$ 45 triliun.

China mempunyai cadangan sumber daya alam yang bernilai US$ 23 triliun, 90 persen diantaranya batubara dan mineral langka. Jutaan WN China berpendidikan luar negeri dan menjadi penggerak inovasi.

Kemajuan China tidak bisa dilepaskan dari peran Deng Xiaoping yang mempelopori reformasi di sektor swasta, mengendurkan peraturan pemerintah terkait harga. Investasi di bidang pendidikan. Buruhnya efisien.

Kekuatan ekonomi Jepang berasal dari produk-produk industri elektronika dan mobil.

Ekonomi Jepang mengalami kemunduran akibat krisis 2008. Jumlah penduduk yang makin sedikit, tapi yang menua  semakin banyak. Pembatalan Olimpiade tahun 2020.

Utangnya, tiga tahun lalu mencapai, 236% dari PDB padahal yang dinilai aman adalah dibawah 60%. Utang yang tinggi disebabkan resesi global 2008,  gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011. Ironisnya, program Abenomics, kurang berhasil mendongkrak perekonomian.

Mengikuti Amerika Serikat

Jepang menormalisasi dan membuka hubungan diplomatik dengan China pada 27 September 1972. Tujuh tahun lebih cepat dibandingkan dengan Amerika Serikat, walaupun Presiden Richard Milhouse Nixon melawat ke Beijing pada 21 Januaei 1972.

Keterlambatan AS itu antara lain disebabkan hubungan diplomatiknya dengan  Taiwan. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. 

Jepang menikmati manfaat hubungan Beijing-Washington DC dengan melakukan investasi serta membuka kantor konsulat di Shanghai, Qingdao, Dalian, Chongqing, Guangzhou dan Shenyang. Namun ketika Donald Trump melancarkan perang dagang,  Jepang terpengaruh. Banyak perusahaannya yang ingin keluar dari China karena khawatir ekspor ke AS dikenai tarif baru.

Sebetulnya, perusahaan-perusahaan tersebut akan memperoleh keuntungan dari pelaksanaan One Belt One Road (OBOR) yang digagas Presiden Xi Jinping. Mereka terpaksa pergi, tetapi membangun pabrik di negara yang terlibat dalam program OBOR, seperti  Thailand.

PM Suga ke Indonesia

Menlu Retno Marsudi menyatakan PM Yoshihide Suga dan rombongan akan melawat ke Jakarta, 20-21 Oktober 2020. Kedua negara akan membahas aspek kesehatan dan ekonomi di tengah pandemi CoVID-19, serta kontribusi kedua pihak dalam menciptakan stabilitas kawasan dan dunia, dalam konteks Indonesia dan Asean.

PM Suga tidak memiliki pengalaman internasional, tetapi memahami politik luar negeri karena delapan tahun mendampingi orang yang digantikannya, Shinzo Abe, ketika menjabat kepala sekretariat kabinet selama delapan tahun. Kini, yang diperlukannya adalah kedekatan dengan para pemimpin negara lain.

Jepang sepertinya juga ingin secara langsung mengetahui sikap Indonesia terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Sikap terhadap kebijaksanaan China yang asertif di laut China Selatan, disamping prospek investasi Jepang di Indonesia.

Investasi Jepang di Indonesia pada tahun lalu bernilai US$ 4,3 miliar, sedangkan China US$ 4,7 miliar. Nilai Amerika Serikat  mencapai US$ 989 juta.

Menurut BKPM investasi asing di Indonesia dalam triwulan pertama mencapai Rp 98 triliun.  Lima besar negara asal PMA adalah: Singapura (US$ 2,7 miliar),  China (US$ 1,3 miliar),  Hongkong, RRT (US$ 0,6 miliar), Jepang (US$ 0,6 miliar) dan Malaysia (US$ 0,5 miliar).

Kemungkinan Jepang juga akan menawarkan produk-produk militer seperti radar dan fasilitas perikanan di kepulauan Natuna.

Pemerintah China akan mengamati secara seksama diplomasi PM Suga di Asia Tenggara sebab Jepang dan AS pada dasarnya setali tiga uang.

Jadi penting bagi Indonesia untuk mengambil manfaat dari persaingan yang tengah berlaku seraya menjaga keseimbangan kepentingan China-Jepang terhadap Indonesia. (Sjarifuddin)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load