Perusuh Anarko, Kenapa Dibiarkan?

Senin , 12 Oktober 2020 | 10:38
Perusuh Anarko, Kenapa Dibiarkan?
Sumber Foto Radar Bogor
Coreten-coretan yang diduga dilakukan kelompok Anarko
POPULER

JAKARTA--Kelompok Anarko. Siapa mereka? Siapapun anggota kelompok itu, merekalah yang dituding polisi sebagai pelaku kerusuhan, perusakan dan pembakaran saat berlangsung unjuk rasa buruh dan mahasiswa pekan lalu di berbagai kota. Mereka bukan peserta unjuk rasa, melainkan kelompok yang sengaja menimbulkan kerusuhan dan huru hara.

Orang-orang itu tampaknya bergerak secara pragmatis, tergantung siapa yang mensponsori  dan membayar. Gerakannya pun terarah. Tampaknya ada skenario yang dikehendaki, misalnya, perusakan fasilitas publik seperti halte bus, taman dan bangunan pemerintah lainnya. Itu terjadi di sejumlah kota, seperti di Jakarta dan Yogyakarta, berlangsung massif dan menimbulkan kerugian cukup besar.

Jelas gerakan para penyusup itu berbeda tujuan dengan para buruh dan mahasiswa yang menolak pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja. Polisi pun mengatakan kerusuhan dilakukan kelompok anarko terjadi setelah demonstrasi selesai. Malam hari mereka bergerak melakukan perusakan dan  pembakaran

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, polisi menangkap anggota kelompok ini yang menyusup ke tengah-tengah pengunjukrasa.  "Beberapa orang yang diamankan yang terindikasi itu dari kelompok Anarko. Itu sebanyak 796 orang di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Polda Metro Jaya (Jakarta), Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat," kata Argo di Mabes Polri, Jumat, 9 Oktober 2020.

Jumlah sebanyak itu, katanya, merupakan bagian dari sekitar 3 ribu orang yang secara total ditangkap kepolisian selama aksi tersebut di seluruh Indonesia. Namun tidak dijelaskan mengapa mereka dikategorikan sebagai anarko, apa kriteria dan tanda-tandanya? Mungkin saja polisi sudah tahu karena sudah lama mengikuti gerakannya.

Menurut Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Eddison Isir, kelompok anarko inilah yang memancing kericuhan saat unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja. "Sejumlah upaya untuk melakukan perusakan sudah nyata di depan mata. Sehingga kita lakukan tindakan pendorongan dan pembubaran serta penceraiberaian yang berlangsung hingga kurang lebih pukul 18.30 WIB sampai jam 19.00 WIB," katanya.

Kabid Humas Polda Jaya Kombes Yusri Yunus menyebut para perusuh itu sengaja menunggangi aksi demo yang dilakukan oleh elemen buruh dan mahasiswa. "Ini memang perusuh yang menungggangi teman-teman buruh melakukan unjuk rasa ini," ucap Yusri.

Jadi siapa kelompok anarko itu? Masyarakat tidak pernah jelas memahami pernyataan polisi mengenai kelompok Anarko ini. Padahal keberadaan mereka sudah lama diketahui, setidaknya polisi sudah menyebut kehadiran kelompok ini di tengah kerusuhan di Jakarta beberapa waktu lalu. Misalnya, ketika terjadi unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) tahu lalu yang juga berbuntut kerusuhan. Jadi polisi sudah tahun ada kelompok liar sengaja menimbulkan kerusuhan dengan memanfaatkan situasi yang terjadi.

Pada April yang lalu, polisi jugu sudah menemukan bukti-bukti mengenai rencana aksi kelompok anarko yang akan melakukan penjarahan besar-besaran di tengah pandemi Covid. Polisi meringkus beberapa pelaku vandalisme yang memprovokasi masyaakat. Mereka menulis, misalnya,  'kill the rich', 'sudah krisis, saatnya membakar', juga tulisan 'mau mati konyol atau melawan'.

Para pelaku membuat tulisan itu menggunakan pilox dan ditulis di tiang listrik hingga tembok rumah. Kelompok ini juga ditengarai menyusun skenario agar tercipta penjarahan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa saat wabah virus corona berlangsung. "Pada 18 April 2020 mereka berencana melakukan aksi besar-besaran di pulau Jawa, vandalism. Tujuannya menciptakan keresahan, dan memanfaatkan masyarakat untuk melakukan keonaran hingga penjarahan," Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana, ketika itu.

Nah, jelas bahwa sebenarnya polisi sudah mengetahui adanya kelompok “penunggang” yang memanfaatkan situasi untuk menciptakan kerusuhan. Polisi sudah lama mengenali mereka dan memiliki bukti-bukti rencana aksi jahat mereka. Mengapa tidak diantisipasi dengan baik? Mengapa polisi tidak menangkap mereka, membongkar jaringannya, seperti polisi meringkus orang-orang yang dicurigai teroris?

Polisi semstinya bertindak tegas, jangan sampai membiarkan mereka dan baru bertindak setelah kerusakan terjadi. Penyusupan dan penungangan oleh kelompok ini jelas merugikan para pengunjuk rasa yang menjunjung tuntutan keadilan dan berjalan damai. Polisi sekarang harus bertindak untuk membongkar jaringan dan meringkus mereka. Kalau tidak maka akan berulang kasus-kasus penyusupan dan penunggangan, juga rawan menimbulkan fitnah  dan tudingan tidak benar terhadap buruh dan mahasiswa yang murni menyuarakan tuntutan keadilan. (BC)



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load