Amerika Serikat-China Diambang Perang?

Jumat , 25 September 2020 | 10:19
Amerika Serikat-China Diambang Perang?
Sumber Foto : AP Photo/Susan Walsh
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

HUBUNGAN Amerika Serikat-China  memanas sejak  Donald Trump menjabat sebagai presiden tahun 2017. America First yang menjadi semboyannya membawa Amerika Serikat  berselisih dengan banyak negara, terutama dengan China.

Awalnya adalah perselisihan perdagangan karena merasa Amerika Serikat diperlakukan tidak adil. Washington banyak memberi kemudahan, tetapi Beijing tidak memberi imbalan yang memadai. AS dari tahun ke tahun mengalami defisit perdagangan.

Sebenarnya kedua negara telah mencapai kesepakatan perdagangan tahap pertama pada Rabu, 15 Januari 2020. China sepakat meningkatkan pembelian sejumlah produk pertanian, energi, manufaktur serta jasa senilai US$ 200 miliar dalam waktu dua tahun, di samping menurunkan tarif bea masuk produk-produk AS ke China.

Pada awal Mei lalu, kedua pihak juga sepakat melanjutkan pembicaraan untuk mencapai kesepakatan perdagangan tahap kedua. Tetapi kesepakatan ini menjadi terkatung-katung sebab perselisihan sudah kepalang meluas ke banyak bidang.

China disebut memanipulasi kurs yuan terhadap greenback. Saling menutup konsulat di kedua negara. Mempersoalkan hak cipta. Pembatasan sektor pendidikan dan teknologi terhadap generasi muda serta industri China.

Sekalian perselisihan tersebut sepertinya tak akan mereda sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat. Berarti ada ketegangan permanen.

Kecenderungan di atas mengingatkan kemungkinan kedua pihak akan kembali kepada periode Perang Dingin sebab perselisihan dewasa ini adalah ujungnya merupakan  benturan ideologi kapitalis liberal dengan komunis. Apakah benturan ini akan direalisasikan kepada konflik militer?

Presiden Xi Jinping telah menepis isu Perang Dingin dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB 24 September lalu, tetapi diketahui Komite Tetap Sentral Politbiro Partai Komunis China  telah memperbesar wewenangnya. Sebelumnya hanya menangani ideologi, kini mulai merambah bidang ekonomi dan kebijakan pemerintah lainnya. Padahal selama dua dekade ke belakang Dewan Negara yang mendominasi.

Melahirkan Frankenstein

Mengakhiri periode Perang Dingin yang lalu, Amerika Serikat membuka hubungan diplomatik dengan China tahun 1979 dengan tujuan. 

(1 ) Mengucilkan Uni Soviet. Upaya tersebut, disertai dukungan Paus Paulus Yohanes II  dan perlombaan senjata yang menguras kas negara, telah memporak porandakan Uni Soviet. Uni Soviet per 31 Desember 1991 terpecah menjadi 15 negara, antara lain Russia, Ukraina dan Belarusia. Pakta Warsawa juga bubar.

(2) Presiden Richard Milhous  Nixon (Presiden ke 37 AS, 1969-1974) berpendapat, China harus diajak bergabung dengan masyarakat internasional. Membuka China kepada dunia, membuka dunia kepada China.


AS menerapkan kebijaksanaan satu China. Menarik unsur-unsur Armada Ketujuh dari Selat Taiwan dan  mengakhiri keterlibatan militer di Vietnam.

Amerika Serikat juga mendorong China menjadi anggota organisasi internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO, WHO dan sebagainya. Dalam kerangka bilateral, produk-produk China diberi kemudahan memasuki pasar domestik AS, membiarkan adanya subsidi terselubung dan memberi keleluasaan mengakses teknologi serta pendidikan.

Dalam memoarnya yang diterbitkan tahun 1990, Nixon mengaku mulai mencemaskan pendekatannya kepada China pada 1978. “Seperti melahirkan hantu Frankenstein. Suatu ketika AS akan berhadapan dengan musuh yang belum pernah ada dalam sejarah.”

Ternyata Nixon yang berasal dari partai Republik itu benar. China masih membantu Vietnam Utara hingga berhasil mengalahkan Vietnam Selatan. Adapun Kebijaksanaan Satu China, tidak meredakan tekanan Beijing terhadap Taiwan.

Terkait penyatuan Taiwan, Mao Zedong mengatakan kepada Nixon dan Menlu Henry Kissinger bahwa negaranya dapat menggunakan kekuatan militernya pada suatu waktu dalam seratus tahun mendatang.

Sementara Presiden Xi Jingping menegaskan penyatuan Taiwan tidak bisa diserahkan kepada satu generasi ke generasi lainnya.

Persaingan Pemilik Hegemoni dengan  Kekuatan yang Meningkat

Amerika Serikat dan China secara nyata memperlihatkan aksi saling membalas. Sikap keras kedua pihak memperkuat dugaan perang akan terjadi, tetapi kapan?

Sejumlah pihak menyatakan China akan menyerang Taiwan pada saat pemilihan Presiden di AS pada  3 November mendatang, tetapi konflik terbuka antara Beijing-Washington tidak akan berlangsung dalam waktu dekat.

Bila terjadi konflik, di mana akan  berawal, laut Cina Selatan atau selat Taiwan?

Amerika Serikat menuduh China akan mendominasi jalur pelayaran di Laut China Selatan. China juga berselisih tentang batas laut dengan Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan dan Pilipina.


Tetapi konflik sulit terjadi di laut China Selatan karena Asean sudah membuat Asia Tenggara sebagai kawasan damai,bebas dan netral (ZOPFAN).

Asean menolak klaim China atas 90 persen wilayah laut China Selatan. Para pihak yang terlibat, termasuk Indonesia sebagai penggagas, juga sudah memiliki mekanisme dialog antar menteri pertahanan dan sebagainya.

Titik panas ada di selat Taiwan, tetapi apakah China mau terjebak menyerang Taiwan dengan alasan  penyatuan wilayah? Tindakan yang mengorbankan kemajuan ekonomi dan program OBOR yang melibatkan sedikitnya 75 negara.

Produk Domestik Bruto China  US$ 1.140 triliun pada 2019, sedangkan Paritas Daya Beli US$ 27.307 triliun. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu 6,1% sedangkan tahun ini diperkirakan 1%. 

Bumbu Pemilu Trump?

Dalam kampanye di Daytona, Ohio pada 22 September 2020 Trump menyatakan pesaingnya, Joe Biden,sepanjang  47 tahun karir politiknya telah merusak perekonomian Amerika Serikat dengan memberi lapangan pekerjaan kepada China. “Bila Biden menang maka Chinalah yang sebenarnya menang.”

Pada 3 November, orang Amerika akan memutuskan apakah kita mengangkat bangsa kita ke kemakmuran yang lebih tinggi atau membiarkan Joe Biden menghentikan ekonomi kita, memberlakukan kenaikan pajak sebanyak US$ 4 triliun dan memberikan pekerjaan kepada buruh-buruh di China.

"Membiarkan China menjadi anggota WTO merupakan kesalahan besar sebab ia bukanlah negara berkembang. WTO seperti roket yang membawa China ke kondisi seperti saat ini," kata Trump.

"Jika saya menang, kalian akan memiliki Presiden yang menempatkan America First dan saya akan mengupayakan America First," ujar Trump.

Kebijaksanaan Trump dalam beberapa tahun terakhir seperti mendorong Korea Selatan dan Jepang untuk memikul beban pembiayaan pasukan AS di kedua negara serta tekanan agar Jerman melakukan hal yang sama.

Sikap Washington, sebagai kontributor dana terbesar, yang akan keluar dari WHO merupakan bagian dari janjinya.

Dalam pidato pelantikan 20 Januari tahun,  2017 Trump mengumumkan pendekatan America First dalam perdagangan dan politik luar negeri, yang berpusat pada pengurangan defisit perdagangan AS, menyeimbangkan pembagian beban dengan sekutu-sekutunya, serta  menekankan bahwa hak semua bangsa untuk mendahulukan kepentingannya.

Defisit perdagangan barang  AS dengan China per 2019 mencapai US$ 345.204,2 juta, dengan rincian ekspor AS bernilai US$ 166.447,3 juta sedang impornya US$ 451.651,4 juta.

Sementara perdagangan barang hingga Juli 2020 menunjukkan, total ekspor mencapai US$ 58.527,8 juta, sedangkan impornya US$ 221.864,8 juta. Dengan kata lain AS mengalami defisit US$ 163.336,9 juta. Bila disetahunkan defisit perdagangan AS ke China diperkirakan sama dengan tahun lalu.

Sebetulnya defisit tidak bisa  sepenuhnya diartikan negatif. Para pengusaha AS memanfaatkan barang-barang tersebut untuk diolah dan diekspor ke Meksiko, Kanada dan Amerika Selatan.

Diplomasi megaphone Trump tidak dapat diartikan akan menjurus kepada konflik militer sebab pasti ditentang Korea Selatan dan Jepang yang menjadi lokasi tentara dan peralatan militer AS.

Taiwan pun demikian, sebab sekalipun berbeda faham politik dengan China daratan namun dalam ekonomi keduanya satu tempat tidur.

Mengangkat isu China, sepertinya juga merupakan upaya Trump agar rakyat tidak menuduh pemerintahnya gagal menangani wabah CoVID-19. Dewasa ini diperkirakan  sudah 203 ribu orang tewas, dengan terbanyak di New York, 32.696 orang. 

Satu-satunya kekhawatiran adalah perang sebetulnya merupakan persepsi para pemimpin terhadap keadaan yang berlaku. (Sjarifuddin)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load