Tanggung Jawab Perusahaan Terhadap Rakyat di Sekitarnya

Selasa , 22 September 2020 | 07:53
Tanggung Jawab Perusahaan Terhadap Rakyat di Sekitarnya
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi CSR

SEJAK tahun 1980-an, pada masa pembangunan Repelita ke III, perusahaan di dunia sudah mulai peduli kepada rakyat atau masyarakat di sekitar lokasi perusahaan itu, dan atau termasuk juga para pemasok bahan baku, dan bahan penolong, dan juga para konsumen dari produk perusahaan itu.

Hal ini, juga berlaku pada perusahaan-perusahaan yang ada di Provinsi Jambi yang sudah mulai juga melaksanakan budaya CSR ini.

Praktiknya

Pengeluaran biaya untuk CSR ini, di berlakukan sebagai ongkos (Expenses) atau biaya dari perusahaan itu. Hal ini berarti akan mengurangi pendapatan perusahaan sebelum dipungut pajak penghasilan perusahaan (PPh Badan). Secara tidak langsung sebagian dari pengeluaran CSR ini berarti dibiayai oleh negara.

Seharusnya, pengeluaran CSR itu harus dibebankan kepada penghasilan atau keuntungan setelah kena PPh. Hal ini berarti, para pemegang saham atau pemilik perusahaan itu benar-benar peduli kepada rakyat di sekitar lokasi perusahaan itu.

Bagaimana Semestinya Penggunaan Uang CSR?

A. Meningkatkan keterampilan dari rakyat di sekitar lokasi perusahaan itu. Misalnya banyak yang sudah terlatih menjadi :

1. Pemijit, tukang cukur dan sebagainya
2. Pengasuh orang tua
3. Tenaga terampi ; listrik, air minum, online dan sebagainya

B. Meningkatkan kepandaian atau kecerdasan rakyat di sekitar lokasi perusahaan, sudah banyak yang lulus, S1, S2, dan bahkan S3. Menambah jumlah tenaga kerja profesional, di sekitar perusahaan.

Dengan meningkatnya jumlah tenaga terampil dan tenaga profesional, maka dalam menghadapi tantangan pasca pandemi COVID-19 akan dapat diatasi dengan baik.

Strategi umum menghadapi masa pasca pandemi COVID-19, adalah, siap sedia untuk menghadapi keadaan yang terjelek. (If worse come to the worse), dan sudah siap sedia (ready) untuk memanfaatkan peluang (opportunity), yang akan muncul.

Para pebisnis haruslah memiliki 2 sikat dalam menghadapi masa pasca pandemi COVID-19, yaitu sikat pertama, untuk bersih-bersih. Sikat kedua untuk meraup peluang bisnis. (Marzuki Usman)

Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load