Prospek Hubungan China-Jepang di Bawah PM Yoshihide Suga

Sabtu , 19 September 2020 | 07:49
Prospek Hubungan China-Jepang di Bawah PM Yoshihide Suga
Sumber Foto : usnews.com
PM Yoshihide Suga

PM Yoshihide Suga tidak ingin disebut sebagai duplikat penggantinya, Shinzo Abe, melainkan menerapkan pendekatan yang pragmatis dengan memperhitungkan situasi saat ini. Perekonomian Jepang sangat terganggu dengan Wabah CoVID-19.

Pertumbuhan ekonomi minus 7,82 pada kuartal kedua 2020. Jepang juga memiliki utang yang besar, jumlah yang berusia lanjut semakin banyak.

Sejalan dengan kondisi tersebut, masih menerapkan Abenomics, kebijaksanaan yang ditinggalkan pendahulunya. Terhadap China, dia juga tetap menjalankan "Seikei Bunri" yakni membuat sekat-sekat agar satu bidang tak mempengaruhi bidang lain.

Konkretnya, memisahkan isu politik dari ekonomi atau sengketa wilayah dari hubungan bisnis.  

Abenomics dirancang untuk membangkitkan perekonomian dengan cara menerapkan kebijaksanaan moneter yang longgar, dalam mana bank sentral meningkatkan jumlah beredar. Melaksanakan stimulus fiskal dan reformasi struktural. Sejumlah pihak menyebutnya tiga ujung tombak.

Menkeu merangkap Wakil Perdana Menteri Taro Aso tetap pada posisinya, demikian pula Menlu  Motegi Toshimitsu. Menteri Pertahanan dijabat Kishi Nobuo, adik Shinzo Abe. Pejabat lama, Kono Taro, kini menjabat Menteri Urusan Reformasi Pemerintahan. Taro diperkirakan menjadi penantang Suga pada pemilihan umum pada Oktober  2021.

Abe Memandang China

Shinzo Abe dua kali menjabat PM. Periode pertamanya, sejak 26 September 2006 hingga 26 September 2007. Pada 26 Desember 2012, kembali terpilih dan pada 28 Agustus 2020, mengundurkan diri karena sakit usus.

Kolitis ulseratif atau ulcerative colitis adalah peradangan pada usus besar (kolon) dan bagian akhir usus besar yang tersambung ke anus (rektum). Kondisi ini sering kali ditandai dengan diare yang terus menerus, disertai darah atau nanah pada tinja.

Da Zhigang, direktur pada Institut Pengkajian Asia Timur pada Akademi Ilmu-ilmu Sosial Provinsi Heilongjiang  menyatakan, Abe merupakan politisi yang pragmatis dan pemimpin yang memperbaiki hubungan China-Jepang dalam beberapa tahun terakhir.

Abe aktif melakukan berbagai upaya yang berhati-hati, namun aktif untuk membuat kontak dengan para pemimpin China melalui saluran-saluran bilateral maupun multilateral.

Pendekatannya tersebut minimal tidak membawa negaranya ke dalam konflik terkait kepulauan Senkaku atau Diaoyu yang diperebutkan kedua negara.

Walaupun menurut  Da,  Abe mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan rakyat Jepang, yang sangat dipengaruhi kelompok kanan, agar Jepang bergabung dengan Aliansi Intelijen Lima Negara untuk membendung China.Kelima Negara itu adalah AS, Selandia Baru, Kanada, Inggris dan Australia.

Abe juga mendapat tekanan dari partai-partai oposisi yang memaksanya supaya bersikap lebih keras terhadap isyu Laut China Selatan dan demokrasi di Hong Kong.

Putra Menlu Shintaro Abe, 1982-1986, ini lebih menerapkan seikei bunri yakni membuat sekat-sekat agar satu bidang tak mempengaruhi bidang lain dalam hubungan dengan China. Konkretnya, memisahkan isu politik dari ekonomi atau sengketa wilayah dari hubungan bisnis.

Hasilnya total perdagangan Beijing-Tokyo mencapai 20% dari total perdagangan Jepang dengan negara-negara lain atau sekitar US$ 317 miliar pada tahun lalu. China merupakan mitra dagang Jepang terbesar.

Pendekatan serupa itu tampaknya sejalan dengan keinginan para pendukung partai Liberal Demokrat (LDP) yang terdiri dari banyak perusahaan. Termasuk yang menanam modal atau menjalin hubungan dagang dengan China.

Total perdagangan Beijing-Tokyo mencapai 20% dari total perdagangan Jepang dengan negara-negara lain atau sekitar US$ 317 miliar pada tahun lalu. China merupakan mitra dagang Jepang terbesar.

Akal Cerdik

Jepang menolak bergabung dengan Aliansi Intelijen Lima Negara, sebaliknya Abe mendirikan sekretariat Dewan Keamanan Nasional (NSC) yang secara permanen berada di dalam Sekretariat Kabinet.

Sekretariat Kabinet ketika itu dipimpin Yoshihide Suga, yang kini menjadi pengganti Abe.

Abe memerintahkan NSC , kementerian pertahanan dan Kedubes Jepang di seluruh dunia menggali informasi tentang hubungan China-Jepang. Ditambah dengan segala informasi tentang kegiatan China di seluruh dunia, terutama di Asean, Afrika dan Amerika Serikat.

Sebelumnya informasi hanya diberikan oleh para diplomat yang memperoleh pendidikan bahasa China dan yang peduli dengan hubungan kedua negara.

Sekalipun tidak bergabung dengan Aliansi Lima, Abe membiarkan Jepang dijadikan tuan rumah bagi  23 pangkalan militer darat, laut dan udara Amerika Serikat. Mulai dari Misawa, di pulau Honsu  sampai Kadena dan Futenma, keduanya di Okinawa. Membujur dari utara ke selatan.

Abe juga menolak rencana Indo-Pasifik yang digagas AS dan Australia, dengan lebih memilih poros Jepang-Asean-India. Tapi membeli 105 F-35 buatan AS seharga Rp 333,6 triliun.

Jepang mempererat hubungan dengan Asean yang beberapa anggota berselisih atas klaim wilayah dengan Cina di laut Cina Selatan. Juga dengan India yang berkonflik dengan China di lembah Galwan, Ladakh yang merupakan bagian dari provinsi Kashmir. Provinsi ini juga diperebutkan India-Pakistan.

Abe diam-diam juga bekerjasama dengan Taiwan, sekalipun menetapkan kebijaksanaan ‘satu China’.
Terkait isu Hong Kong, Jepang bersama Australia menyatakan kedukaan yang mendalam sehubungan dengan cara-cara pemerintah China membungkam aktivis pro demokrasi di Hong Kong. Abe menawarkan untuk menampung penduduk Hong Kong dengan keahlian tertentu menetap di Jepang.

Bagaimana dengan Suga?

Sudah hampir pasti, Yoshihide Suga yang tidak berpengalaman politik luar negeri dan isu keamanan, akan mengikuti langkah-langkah Abe. 

Hal tersebut dapat datandai dari penggantian Menteri Pertahanan Taro Kono dengan Nobuo Kishi, adik Shinzo Abe.

Kono diketahui bersikap keras terhadap China dan mendukung masuknya Jepang dalam Aliansi Intelijen Lima Negara. Ia juga berulangkali mengingatkan dampak bagi Jepang, sehubungan dengan ambisi militer China dan provokasi terus menerus di laut China Timur dan Selatan. Suga memindahkan Kono menjadi menteri urusan reformasi administratif.

Yang menarik, Suga mempertahankan Toshimitsu Motegi sebagai menteri luar negeri. Motegi mengkritik China terkait pemberlakuan undang-undang keamanan di Hong Kong.

Belum diketahui apakah Suga akan mengikuti jejak Abe untuk mengupayakan perubahan pasal sembilan dalam UU Jepang yang membatasi secara ketat penggunaan kekuatan bersenjata dengan tujuan melindungi diri dan menyatakan tidak sah menggunakan kekuatan militer dan mengobarkan perang.

Sepertinya Yoshihide Suga akan berhati-hati dalam memprakarsai kebijaksanaan baru atau keliru melaksanakan program yang ada. Birokrat ini menjabat PM berkat prakarsa faksi Shisuikai yang diketuai Toshihiro Nikai.

Dalam pemilihan ketua LDP yang otomatis menjadi perdana menteri Suga memperoleh 377 suara atau 70% dari total suara yang ada yakni 534. Total suara itu terdiri dari 393 anggota parlemen yang berasal dari LDP dan 141 perwakilan partai dari seluruh Jepang.

Lawannya, Ketua Dewan Kebijaksanaan LDP Fumio Kishida mendapat 89 suara dan mantan Menteri Pertahanan Shigeru Ishiba meraih 68 suara.

Meskipun menang mutlak, skuad kabinetnya diisi para pendukung maupun faksi lawannya. Komposisi ini setidaknya dihargai semua pihak karena mengutamakan harmoni (wa).

Di LDP terdapat tujuh faksi, yakni Seiwa Seisaku Kenkyukai yang dipimpin Hiroyuki Hosoda dengan 97 anggota. Faksi Shikokai yang diketuai Taro Aso dengan 54 anggota. Faksi Heisei Kenkyukai yang dikepalai Wataru Takeshita dengan 53 anggota.
Faksi Kochikai yang diketuai Fumio Kishida dengan 46 anggota. Faksi Shisuikai dipimpin Toshihiro Nikai dengan 45 anggota. Faksi Suigetsukai dengan ketua Shigeru Ishiba dengan 19 anggota. Yang ketujuh Faksi Kinmirai Kenkyukai dengan pemimpinnya Nobutero Ishihara yang beranggotakan sebelas orang.

Suga juga mendapat dukungan dari mitra koalisi LDP, partai Komeito yang didirikan para anggota organisasi Buddha Nichiren. Komeito memperoleh 35 kursi di Majelis Rendah dan 25 kursi di Majelis Tinggi Parlemen. Jadi dia adalah birokrat tulen.

Menyadari kondisi itu, Suga mengangkat para menteri yang berasal dari tujuh faksi LDP serta Komeito.  Kemungkinan besar alasan itu juga yang mendorongnya mengangkat adik Shinzo Abe.

Ancaman belum reda. Taro Kono mengingatkan, dia akan menjadi perdana menteri satu hari nanti.

Reaksi China

Jurubicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menyatakan negaranya siap bekerjasama dengan Jepang di bawah kepemimpinan PM Yoshihide Suga.

Diharapkan kedua negara tetap berpegang kepada empat dokumen yang telah dibuat Perdana Menteri Shinzo Abe yakni  meningkatkan kerjasama mengatasi pandemi CoVID-19, mempromosikan pembangunan sosial dan ekonomi serta terus melanjutkan perbaikan jalinan kerjasama.

Direktur Pusat Studi Jepang Universitas Fudan, Hu Lingyuan menyatakan, Abe telah memberi kontribusi besar bagi perbaikan hubungan kedua negara. Dulu, Suga diangkat oleh Abe menjadi sekretaris kabinet dan kini menjadi perdana menteri maka selayaknya sikap dan ideologi dasarnya terhadap China adalah sama. (Sjarifuddin)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load