Pandemik COVID-19 dan Reaksi Pengusaha

Selasa , 08 September 2020 | 07:55
Pandemik COVID-19 dan Reaksi Pengusaha
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

WABAH COVID-19 ini, sudah sepertinya semakin dia suka bermukim di dunia, dan sudah barang tentu COVID-19 sudah semakin lama bermukim di Indonesia.

Ambillah contoh, DKI Jakarta, yang diumumkan pada media cetak dan juga secara digital online, gambar peta DKI Jakarta semakin merah, merata ke segala pelosok DKI Jakarta. Sudah barang tentu akan berakibat kepada pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta.

Dari data berita resmi statistik per tanggal 1 September 2020, terbitan Biro Pusat Statistik (BPS), ada 53 kota di Indonesia mengalami deflasi bisa dibaca mengalami, resesi. Kota Kupang mengalami deflasi tertinggi sebesar -0,92 persen.

Akibat selanjutnya dari pada deflasi ini, yang disebabkan oleh turunnya pendapatan atau penghasilan rakyat konsumen. Satu dan lain, sebagian banyak perusahaan yang terpaksa tutup toko.

Hal ini terjadi karena karyawannya tidak bisa bekerja seperti biasanya, yakni bekerja semuanya. Karena harus ikut aturan kesehatan untuk terhindar dari wabah COVID-19. Pada gilirannya produksi perusahaan berkurang. Dan daya beli rakyat juga menurun. Jadi ada dua kekuatan yang menyebabkan terjadinya resesi ekonomi.

Karena belum terlihat, bahwa kapan COVID-19 mau hengkang dari bumi Indonesia, maka para pebisnis akan tenggelam kepada dua situasi, yaitu : pertama, Fear Of Mising Out (FOMO), dibaca khawatir tidak ada jalan keluar, dan kedua, There Is No Alternative (TINA), dibaca tidak ada pilihan lagi? Jadi, “Tinggal tunggu mati?”

Akan tetapi penulis yakin, bahwa masih banyak para pebisnis-pebisnis yang akan berusaha sekuat tenaga untuk merubah ancaman (Thereats) dari COVID-19, menjadi kesempatan emas (Golden Opportunities).

Pebisnis yang masuk golongan ini adalah pebisnis yang yakin bahwa Indonesia dikarunia Ilahi. Yakni yang ada di dunia ini, cuma beradanya di Indonesia saja. Dalam bahasa Ekonomi, disebut NKRI banyak memiliki keberuntungan mutlak (Absolute Advantages), seperti : alam Yang Indah, Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta tertentu, yang tidak bisa diganti oleh teknologi digital, seperti : cukur rambut, pijit-pijit, mengurusi lansia, dan seterusnya.

Sektor-sektor inilah yang diharapkan sebagai sektor yang akan menggerakan ekonomi Indonesia, yang akan bangkit kembali untuk keluar dari resesi, menjadi ekspansi, alias booming atau bergairah! (Marzuki Usman)

Penulis adalah pengamat ekonomi dan pendiri pasar modal.

 

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load