"Tak Berdaya Di Sudut Kerling Wanita"

Jumat , 04 September 2020 | 01:54
Sumber Foto Bachtiar Sitanggang
Bachtiar Sitanggang
POPULER
Oleh Bachtiar Sitanggang
 
Sedikit banyak ada keterpautan hati saya dengan Kejaksaan Agung. Bagaimanapun, ketika Ismail Saleh SH menjadi Jaksa Agung RI, beliau penah mengadakan lomba penulisan pada hari Adhyaksa tahun 1983. Sebagai wartawan Harian Umum Sinar Harapan saya mengikutinya, dan menjadi jurara pertama.
 
Secara tak langsung, saya menjadi dekat dengan lembaga penegak hukum. Pak Ismail Saleh sendiri adalah mantan Pemimpin Kantor Berita Antara, otomatis dekat dengan wartawan. Hebatnya, setiap Jumat, pasti ada saja berita dari Kejagung, otomatis akan menjadi berita ”besar” keesokan harinya, sebab berita dari pejabat atau instansi lain tidak ada yang menonjol.
 
Walaupun saya telah menjadi Advokat, “hubungan bathin” dengan Kejaksaan ini seolah terus berlangsung. Demikian juga setelah Kejagung menjadi populer akibat ulah salah seorang jaksa wanita bernama Pinangki Sirna Malasari. Sebagaimana biasanya, saya suka menelusuri apa, siapa dan bagaimana serta mengapa dengan kasus-kasus yang menarik, tidak hanya menyangkut Kejaksaan. Sebagai mantan wartawan lapangan, keingin-tahuan itu tetap membara.
 
Setelah menelusuri melalui internet, khayalan saya tertuju pada lagu Sabda Alam, ciptaan komponis nasional Ismail Marzuki. Semua generasi tua pasti tahu lagu yang mendayu-dayu dengan suara biola yang mengetuk kalbu. Liriknya: “Diciptakan alam pria dan wanita/Dua mahkluk dalam asuhan dewata/Ditakdirkan bahwa pria berkuasa/Adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu/Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya/Tekuk lutut di sudut kerling wanita”.
 
Seandainya Ismail Marzuki masih hidup, barangkali saya akan bertanya padanya, bagaimana asal mula dari lirik lagu ciptaannya itu, kalau kita kaitkan dengan keperkasaan sang Jaksa yang berperan dalam kasus Djoko Sugiarto Tjandra saat ini.
 
Betapa berperannya Jaksa Pinangki Sirna Malasari, wanita karier bergelar Doktor Hukum, dengan segala kepiawaiannya merancang berbagai skenario mulai dari RT, sampai Fatwa Mahkamah Agung. Bolak-balik ke luar negeri, bebas tanpa hambatan, kalau tidak ada ijin alasannya apa, kalau tidak ada ijin artinya ada yang bertekuk lutut di sudut kerling-nya sehingga tidak ditindak.
 
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang beredar di media massa, kepergiannya ke luar negeri serta pertemuannya dengan sang buronan Djoko Sugiarto Tjandra adalah seijin dan sepengetahuan atasannya. Apa benar? Sang “aktris” konon juga mengurus Peninjauan Kembali (PK) perkara buronan ke Mahkamah Agung dan mengurus Fatwa agar Putusan PK MA Tahun 2009 atas nama sang buronan tidak dapat dieksekusi.
 
Seandainya, semua upaya oknum Jaksa ini berhasil, lirik lagu Ismail Marzuki harus diubah menjadi “ada kala pria tak berdaya/ Tekuk lutut di sudut kerling wanita” akan menjadi “....ada kala negara dikacau keserakahan wanita”.
Untung niat “tidak baik” itu gagal. Kalau tidak, lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki itu kurang futuristik.
 
Masyarakat berharap Polri dan Kejaksaan Agung mau dan mampu mengungkap apa adanya serta sebenarnya yang terjadi dengan Jaksa yang mengutak-atik hukum, aturan dan tatanan negara dan bangsa ini. Siapa-siapa saja yang bertekuk lutut di sudut kerling matanya?
 
Salut dengan ketegasan Polri menindakan oknum jajarannya yang terlibat, yang bertekuk lutut di sudut kerling sang “aktris”. Lain halnya instansi lain, masih seperti memegang “lintah” dipegang-dilepaskan. Harus disadari bersama, bantah-membantah dari pejabat sudah tidak diakui masyarakat lagi.
 
Bantahan normatif dari Juru Bicara MA Andi Samsan Nganro yang normatif tentang Fatwa dan PK, tidak cukup lagi. MA harus pro-aktif mengusut kebenaran BAP Pinangki yang beredar di media. Sebaiknya mereka-mereka yang terseret-seret namanya, sadar diri daripada dipermalukan nanti di sidang pengadilan, kecuali telah disterilkan di Penyidikan.
 
Memang kekhawatiran masyarakat mulai muncul. Jangan-jangan “kuku” sang “aktirs” juga sudah menancap di Pengadilan Negeri yang akan memeriksa dan mengadilinya. Untuk itu Mahkamah Agung harus memberi jaminan.
Mahkamah Agung harus membuktikan dirinya tidak masuk dalam kategori “....ada kala, tak berdaya/Tekuk lutut di sudut kerling....”. Masyarakat menunggu, tegaknya hukum dan terwujudnya keadilan.***
 
*Penulis adalah watawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
 
 


Sumber Berita: Bachtiar Sitanggang
KOMENTAR

End of content

No more pages to load