ASI Memutus Rantai Kemiskinan

Rabu , 05 Agustus 2020 | 09:25
ASI Memutus Rantai Kemiskinan
Sumber Foto dok/Shutterstock
Ilustrasi

AIR Susu Ibu (ASI), memiliki posisi yang strategis dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, Badan Kesehatan Dunia (WHO - World Health Organization) dan Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF - United Nations Children’s Fund), serta beberapa organisasi lainnya pada tahun 1992, mulai memperingati yang kini dikenal sebagai Minggu ASI se-Dunia (World Breastfeeding Week) pada tanggal 1-7 Agustus.

Peringatan yang kini dilakukann oleh sekitar 100 negara tersebut sebagai tindak lanjut ‘’Innocent Declaration’’ tahun 1990. Thema yang dipakai tahun ini adalah ‘’Support Breastfeeding for a Healthier Planet’’.

Manfaat ASI diperoleh pada empat hal. Pertama, menurut para ahli medis, ibu yang menyusui dapat mengurangi resiko kanker payudara, sakit gula dan sakit jantung. Saat ini diperkirakan 20.000 wanita di dunia, meninggal karena kanker payudara.

Kedua, bagi sang jabang bayi apabila sejam setelah lahir menikmati air susu ibunya, maka memiliki daya imune, terhindar dari diare atau penyakit infeksi lainnya. Bila demikian halnya, bisa mengurangi angka kematian bayi, yang saat ini di dunia diperkirakan mencapai 820.000 bayi per tahun.

Ketiga, dalam enam bulan, dan lebih baik lagi hingga usia dua tahun, kepada si kecil diberikan susu ibu, maka perkembangan otaknya akan sangat positif, menjadi remaja yang cerdas. Pertumbuhan fisiknya juga akan sesuai dengan usia, terhindar dari kondisi stunting.

Keempat, apabila anak yang dilahirkan dan diberi ASI tersebut menjadi sehat dan cerdas maka memberikan harapan optimis, setelah dewasa akan menjadi anggota masyarakat yang secara ekonomis, lumayan. Mereka merupakan generasi baru yang terputus dari rantai kemiskinan.

Mengingat sangat pentingnya ASI terhadap kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat masa depa maka Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sangat serius mengharap segenap Pemerintah di dunia mendukung penerapan 10 langkah dorongan penerapan ASI pada masyarakat.

Sepuluh langkah yang dimaksud terkait dengan masalah makro seperti kebijakan, pelatihan, pembimbingan, hingga yang langsung dilakukan sang ibu sejak persiapan kelahiran, sentuhan pertama pada sang jabang bayi, serta makanan bergizi yang wajib dikonsumsi. Telah banyak dikenal, konsumsi telor, ikan, susu dan ati, merupakan asupan tinggi protein dan mineral yang banyak dibutuhkan. Dengan demikian maka ASI yang berkualitas menjadi jembatan menghasilkan generasi baru yang sehat, cerdas dan sejahtera.(Dr Soen'an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Ketua Jejaring Pasca Penen untuk Gizi Indonesia.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load