Kebijakan Ekonomi Makro Burung Unta?

Selasa , 04 Agustus 2020 | 11:39
Kebijakan Ekonomi Makro Burung Unta?
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

KETIKA itu penulis pada tahun 1973-1975, lagi menuntut ilmu di Departemen Ekonomi, Universitas Duke, di Durham, Negara Bagian CaroIina Utara, Amerika Serikat.

Pada suatu hari, penulis duduk ikut kuliah wajib, mata kuliah, Seminar Keuangan Negara (Public Finance) untuk mahasiswa Sarjana Strata Dua (S2), sebagai persiapan untuk mengambil Sarjana Strata Tiga (S3). Dan yang mengikuti kuliah ini, cuma 6 orang mahasiswa.

Penulis hanyalah mahasiswa asing sendiri saja yang bukan Warga Negara Amerika Serikat. Selebihnya ada mahasiswa Warga Negara Amerika Serikat. Kuliah Seminar Keuangan Negara (Public Finance Seminar) ini adalah disampaikan oleh Profesor William (Bill) Yohe. Beliau ini adalah salah seorang Ahli Ilmu Keuangan Negara yang terkenal di Amerika Serikat.

Profesor itu menceritakan bahwa di Eropa pada Abad Pertengahan, yakni abad ke 18 dan ke 19, kebanyakan negara-negara pada waktu itu masih berbentuk Kerajaan Ber-Parlemen, artinya sudah tidak ada lagi bentuk Kerajaan yang mutlak atau Monarki Absolute. Pada Kerajaan dan Parlemen, keputusan kegiatan-kegiatan untuk membangun negara adalah Keputusan Perdana Menteri bersama Parlemen atau Perwakilan Rakyat.

Profesor Yohe pada waktu itu menjelaskan, “Kebijakan Keuangan Negara Burung Unta?” Penulis bertanya, “Apa maksud Kebijakan Keuangan Negara Burung Unta? Beliau menjawab, malah berupa pertanyaan kepada penulis, “Apa Mr. Usman sudah pernah melihat Burung Unta?” Penulis menjawab, bahwa di Indonesia tidak ada Burung Unta!

Beliau menjelaskan bahwa Burung Unta itu banyak terdapat di Benua Afrika. Burung Unta itu, kalau diuber oleh musuhnya, misalnya oleh Singa, maka si Burung Unta menggali pasir, lalu kepala dan lehernya masuk kedalam lobang, pada hal badan besarnya si Burung Unta tertinggal jelas sekali kelihatan besarnya. Maka si Burung Unta yang sudah merasa aman, maka datanglah nasib naasnya, badannya disantap dengan lahap sekali oleh Singa itu.

Sebagai analogi kata sang Profesor Yohe, “Ada suatu negara Kerajaan yang keuangannya lagi morat-marit, karena ada musibah Pandemi Flu Babi. Dan, Kerajaan perlu uang banyak untuk mengatasi Flu Babi itu, pada hal posisi Keuangan Negaranya lagi cekak aus.

Maka, Kepala Kas Kerajaan mengusul kepada Raja dan Parlemen supaya menerbitkan Surat Utang Negara (Obligasi). Dan, diminta kepada Bank Senteral untuk harus membeli obligasi itu. Dan tidak lagi ditawarkan kepada rakyat banyak.

Sang Kepala Kas Kerajaan merasa sudah aman, bahwa kebijakan itu tidak akan menimbulkan gelombang protes dari rakyat.

Ternyata, rakyat jelas melihat kebijakan seperti itu adalah aneh. Uangnya Bank Sentral, adalah dari hasil dengan mencetak uang baru lagi. Dan, akibatnya timbullah inflasi.

Maka rakyat bisa jelas membaca, bahwa inflasi itu karena Bank Sentral mencetak uang untuk membeli Surat Utang Negara itu.

Maka kata Profesor Yohe, “Ini adalah contoh Kebijakan Ekonomi Makro Burung Unta. Akibatnya, sang Raja kecewa, karena tingkat inflasi menaik, karena barang-barang keperluan untuk memenuhi hidup rakyat, harganya meroket. Maka sang Raja, langsung memecat Kepala Kas Kerajaan yang canggih memanfaatkan Kebijakan Ekonomi Makro Burung Unta itu”. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.



KOMENTAR

End of content

No more pages to load