AS Luncurkan Amunisi Baru Serang China

Rabu , 29 Juli 2020 | 14:57
AS Luncurkan Amunisi Baru Serang China
Sumber Foto : Istimewa
Amerika vs China

DUA kekuatan dunia, China-Amerika Serikat bentrok langsung pada perang Korea dan perang Vietnam. Hampir 40 ribu tentara AS  tewas dan lebih dari 100 ribu lainnya luka-luka pada perang Korea (1950-1953), sementara 114.083 tentara China tewas dan 380.000 luka-luka. Sebanyak 70.000 lagi tewas karena luka-luka atau sakit sedangkan 25.651 hilang.

Dalam perang Indo-China, AS terlibat perang di Vietnam, Laos dan Kamboja, mulai tahun 1955 hingga 1975. Di Vietnam, sejumlah 1.446 tentara China dan 58.220. serdadu AS tewas. Total jumlah yang luka-luka dan hilang diperkirakan melebihi angka tersebut.

Amerika Serikat menghabiskan US$ 168 miliar (sekarang setara US$ 1 triliun) , termasuk US$ 111 miliar untuk operasi militer dan US$ 28,5 miliar sebagai bantuan kepada pemerintah Vietnam Selatan. Di perang Korea,  menghabiskan US$ 30 miliar atau saat ini setara US$ 276 miliar.

Jumlah korban dan anggaran yang amat banyak, mungkin menjadi penyebab mengapa Jenderal Dwight Dave Eisenhower, memperingatkan adanya bahaya dari military industrial-complex yang merupakan jalinan  industri militer dengan kementerian pertahanan, Gedung Putih dan Kemlu yang mendorong AS ke jurang perang.

Apakah potensi konflik saat ini juga diarahkan military industrial-complex?
Hubungan China-Amerika Serikat pada hakekatnya merupakan hubungan antara negara yang sedang bangkit dan yang dominan. Di dalamnya ada aspek kerjasama- kompetisi, serta perasaan dicurigai dan yang terancam dominasinya.

Pada awal 1970-an, Presiden Richard Milhous Nixon dan Menlu Henry Alfred Kissinger membangun hubungan akomodatif dengan China, untuk mengepung Uni Soviet. Nixon mengeluarkan China dari keterpencilan.

Dalam konteks ini kontribusi PM Zhou Enlai yang moderat dan sabar tak bisa dikesampingkan. Dia mengajak Kissinger makan bebek panggang saat perundingan menemui jalan buntu.

Deng Xiaoping (1978-1989), memanfaatkan peluang yang tersedia. Membangun perekonomian dan kekuatan militer  tanpa meninggalkan sistem politik yang otoriter dan ideologi komunis.

Hasilnya. Belanja militer  China pada tahun lalu mencapai US$ 177,6 miliar. Personil aktif berjumlah 2,035 juta. Nominal Produk Domestik Bruto US$ 14.140 triliun atau bila berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) US$ 27.307 triliun.

China dewasa ini mempunyai hubungan diplomatik dengan lebih dari 175 negara. Menjadi anggota Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto. Menjadi anggota dalam berbagai lembaga internasional.

Paling akhir adalah membangun  jalur ekonomi-perdagangan yang menghubungkan Asia-Eropa-dan  Afrika yakni One Belt One Road (OBOR). Program ini mencakup 65 negara dengan 4,4 miliar manusia. 

Dengan fakta-fakta di atas, Beijing dianggap menjadi ancaman terhadap dominasi AS. Bukan hanya Washington yang terganggu tetapi juga sekutu dekatnya, seperti Jepang, Australia dan Inggris. Bukan kebetulan pula bila semuanya berlatar belakang penjajah yang tak ingin dominasinya diganggu.

Amunisi Baru

Presiden Donald John Trump berupaya membalikkan keadaan dengan melancarkan tindakan agresif. Membangkitkan perang dagang sejak dua tahun lalu.

Menuduh wabah Covid-19 berasal dari kebocoran di laboratorium virologi di Wuhan. Menampilkan secara reguler kekuatan militer di Laut China Selatan. Paling akhir menutup Konsulat RRC di Houston, negara bagian Texas.

Pemerintah AS melalui Menlu Michael Richard Pompeo juga telah menambah aspek baru dalam tekanannya terhadap China. Ia berulangkali menyebut pemerintah dan partai Komunis China. Tujuannya untuk mengingatkan China mempunyai ideologi yang berbeda dengan mayoritas masyarakat internasional yang menganut faham liberal-demokratik.

Aspek itu sekaligus menunjukkan, Jepang dan negara-negara Barat yang perekonomiannya mendunia, tidak pernah dianggap sebagai ancaman.Penyebabnya adalah mereka memiliki ideologi yang sama dengan Amerika Serikat.

Penyebutan aspek baru memperlihatkan pemerintah AS membuka lebih banyak amunisi. Mulai dari proteksionisme, manipulasi nilai tukar yuan, perdagangan, subsidi yang tidak sah menurut hukum, investasi, kekonsuleran, intelijen, militer, kedaulatan di laut,  pendidikan dan ideologi untuk melemahkan China.


Washington juga mengecam tindakan  brutal pemerintah China terhadap suku Uyghur. Melakukan pembatasan visa terhadap para pejabat China yang dianggap bertanggung jawab dalam penerapan UU Keamanan di Hong Kong.

Perdagangan kedua negara sebetulnya menguntungkan Amerika Serikat karena menciptakan 1,8 juta lapangan kerja pada sektor jasa, barang modal dan pertanian, tapi merusak industri AS yang berupah murah. Yang dicemaskan saat ini adalah  China mulai membuat  produk berteknologi tinggi berkat ‘mencuri’.

Para pencuri itu disebut berkedok ilmuwan yang bekerja di berbagai perusahaan dan pusat riset. Beberapa diantaranya  diketahui anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Partai dan Kemajuan Ekonomi
Deng Xiaoping bersikap pragmatis dalam memakmurkan rakyat dan negaranya. Ia memperkenalkan ekonomi kapitalisme-pasar liberal, tetapi partai komunis yang menetapkan kerangka acuan dan peraturannya.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah dan partai saling mengisi sebab presiden  juga petinggi dalam struktur pimpinan partai. Pengendalian pada satu tangan ini, atau populer dengan julukan otoriter, terbukti efektif sebagai terlihat dalam pemberantasan korupsi dan minuman keras.

Model ekonomi dan pemerintahan otoriter bukan hal baru. Singapura dan Korea Selatan telah menerapkan dan berhasil. Kunci utama, seperti arah dan tujuan yang jelas, konsisten dalam mengejar target, disiplin dan keteladanan. PM Zhu Rongji minta disediakan satu peti mati untuk dirinya, bila terbukti melakukan korupsi.

Apa Akhirnya?

Amerika Serikat – China pernah bermusuhan, lalu pada era Nixonbersahabat. Sebelum 2001, AS berupaya mengintegrasikan China ke dalam masyarakat internasional dengan menjadi WTO dan sebagainya.
Ketika Beijing tumbuh sebagai kekuatan ekonomi, AS berupaya membendungnya.

Presiden Obama (2009-2017),  mengalihkan perhatian negaranya ke Asia. Ia mengajak China bergabung ke dalam struktur keamanan Pasifik.  Tujuannya untuk menjinakkan.

Trump menerapkan pendekatan yang berbeda. Ia menilai para pendahulunya telah melakukan kesalahan yang harus dikoreksi. Dikatakannya, China telah menjadi penantang kekuatan, kepentingan dan pengaruh Amerika Serikat.

Trump Perlu Legitimasi Baru

Masalah China menjadi isyu sentral yang dibawa Trump dalam pencalonannya pada 2016. Sejauh ini Trump tak berhasil menekan China. Setiap sanksi selalu dibalas sanksi.

Trump akan berada pada titik yang tidak memungkinkannya kembali. Kondisi ini akan membawa kedua negara kepada era Perang Dingin baru.Washington telah mengajak Australia, Jepang dan Inggris menghadang China di laut China Selatan.

Ajakan itu juga diarahkan kepada beberapa anggota Asean yang berkonflik kedaulatan dengan China. Baru Filipina yang menyatakan tidak sanggup berperang dengan China.
Kondisi Asia dalam beberapa bulan ke depan amat rawan.

Trump memerlukan legitimasi untuk dipilih kembali. Dia akan menghindari perang langsung dengan China, tetapi ceritanya akan lain bila salah satu sekutu atau yang dianggap sekutunya diserang. (Sjarifuddin)

  

KOMENTAR

End of content

No more pages to load