Pelanggan Adalah Raja!

Selasa , 28 Juli 2020 | 09:09
Pelanggan Adalah Raja!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

DI dunia Barat, misalnya di : Amerika Serikat (AS), Kanada, Eropa (Belanda, Perancis, Jerman, Swedia, Norwegia, dan sebagainya), di dalam berbisnis atau berdagang atau berjualan dan seterusnya, para penjualnya, baik berupa : perseorangan, toko (shop), mal atau pusat perbelanjaan, dan kegiatan perdagangan jasa-jasa seperti : hotel, perbankan, asuransi, travel biro, dan seterusnya, mereka itu semua menganut kebudayaan yang sudah merupakan perilaku atau tabiat sehari-hari, yakni : pelanggan itu adalah raja (Customer is The King).

Jadi mereka para produsen barang dan atau produsen jasa-jasa selalu sangat memperhatikan para pelanggannya. Misalnya membeli pakaian (baju, celana, jaket, dan seterusnya) di suatu toko atau shop, kalau ternyata si pembeli merasa tidak cocok seleranya, atau ukurannya kebesaran atau kekecilan dan seterusnya.

Kalau si pelanggan itu datang kembali ke toko tempat dia membeli tadi, dan meminta untuk mengembalikan atau menukar dengan baju yang cocok, maka yang punya toko melayani dengan sopan santun dan bertanya, “Apa yang bisa saya bantu, supaya anda akan merasa puas?” Selama si pelanggan bisa memperlihatkan bukti bawa ia sudah bayar, maka pastilah keluhan pelanggan akan diterima dengan senang hati dan apa maunya si pembeli atau pelanggan akan dipenuhi. Mereka berpendapat, tidak boleh kehilangan pelanggannya. Karena “pelanggan adalah raja! (Customer is The King!)”.

Pengalaman penulis ketika bermukim di kota Durham North Carolina, kota tempat penulis menuntut ilmu di Kampus Duke University pada tahun 1973-1975. Penulis mendapat pengalaman yang unik, yang rasanya tidak akan terjadi seperti itu di Indonesia.

Pada suatu hari penulis membeli baju di suatu toko di pusat perbelanjaan atau mal, di North Gate Center, di kota Durham, Negara Bagian North Carolina. Penulis ketika membayar dengan menggunakan kartu kredit dari Bank Centeral North Carolina, dan ternyata saldo rekening penulis di bank itu tidak cukup untuk membayar belanja, senilai USD 10. Tetapi kartu kredit penulis tetap diterima oleh si pemilik toko.

Dan ketika penulis sampai ke rumah, telepon berdering, dan penulis angkat. Rupanya si penelepon adalah karyawan bank itu, dan menyampaikan kepada penulis, bahwa kekurangan bayar semestinya akan terjadi, oleh bank itu, penulis ditalangin dulu, atau otomatis diberikan kredit. Dan, dia meminta penulis untuk segera menyetor sejumlah tertentu, supaya rekeningnya cukup uang atau dananya.

Hal yang seperti ini, sangat tidak mungkin akan kita peroleh di Indonesia. Biasanya di setiap toko ada poster,  “Hari ini kontan”. Kadang-kadang ditambah lagi seperti ini, “Hari ini kontan, besok boleh berutang!”.

Ada lagi teman penulis yang sudah lebih dari dua puluh tahun memegang kartu kredit dari suatu bank. Dan ketika Kartu kredit itu diperpanjang, maka kepada si pemegang kartu kredit itu harus menelepon kepada nomor tertentu pada bank itu. Dan ketika dia menelepon, maka dijawab oleh petugas bank itu, “Mohon untuk kejelasannya atau klarifikasi, tolong disebut tanggaI lahir, nama ibunya, dan alamat rumahnya, dan berapa batas limit kartu kreditnya?”

Teman saya itu, sudah karena berusia 77 tahun (Lansia) atau Glanmur, dibaca, Golongan Lanjut Umur, telah banyak yang lupa, maka kartunya tidak bisa dipakai. Kalau di Amerika Serikat pelanggan yang sudah memakai jasa bank itu lebih dari sepuluh tahun, dia dikasih kehormatan sebagai pemegang kartu kredit emas atau gold. Kalau sudah lebih dari dua puluh tahun, diberi predikat atau sebutan pemegang kartu kredit platinum.

Biasanya untuk pemegang kartu kredit platinum, perpanjangannya berjalan secara otomatis dan tidak perlu lagi menelepon banknya lagi.

Ketika saya ceritakan pengalaman saya berurusan dengan bank di Amerika Serikat itu, kepada sahabat karib saya, lalu dia berkomentar, “Marzuki, anda beruntung punya pengalaman bahwa “Pelanggan adalah Raja, Customer is The King”. Tetapi di negara yang tercinta ini, dia berujar sebagai berikut, “Pelanggan dia butuh aku, makanya harus ikut maunya aku! Tidak suka, carilah toko yang lain!”

Penulis bertanya, “Apakah kebiasaan aneh itu tidak bisa berubah? Beliau menjawab, “Marzuki hal itu sudah berkaratan, dan tidak bisa berubah lagi sampai hari kiamat!” Lalu penulis ngebatin, “Ya Indonesiaku, nasibmu belum bisa berubah?” (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.







KOMENTAR

End of content

No more pages to load