Filsafat Idul Adha

Minggu , 26 Juli 2020 | 16:15
Filsafat Idul Adha
Sumber Foto dok/Istock
Ilustrasi Idul Adha
POPULER

IDUL Adha dalam bahasa Arab mengandung arti Hari Raya Qurban—dari kata ud-hiyah, yang artinya kurban. Hari besar Islam ini memperingati peristiwa kesabaran Nabi Ibrahim yang dengan taat melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putra satu-satunya, Ismail. Namun Tuhan Yang Maha Besar menggantikannya dengan domba.

Al-kisah, Nabi Ibrahim yang berdomisili di Hebron, Palestina, setelah menempuh perjalanan sekitar 1.200 kilometer bersama istrinya Siti Hajar dan bayi kecilnya Ismail ke jazirah Arab, tiba di suatu lembah tandus dan sempit, kawasan pegunungan Sirat, dikelilingi bukit-bukit Ajyad, Abu Qubais, Qu’aiq’an, Hira’ dan Thair. Lembah Bakka tersebut - yang kemudian dinamakan Mekah, dipilih Nabi Ibrahim untuk tempat bermukim Siti Hajar dan Isma’il. 

Tidak lama, Nabi Ibrahim harus kembali ke Hebron. Sekitar sebelas tahun kemudian, barulah Nabi Ibrahim menuju Bakka dengan kerinduan yang mendalam, bersua kembali dengan istri dan anaknya tercinta. Dalam suasana batin yang demikian, ujian besarpun diterima. Dalam mimpi, Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya. 

Tatkala hal tersebut disampaikan kepada sang putra, Ismail meminta ayahnya untuk menjalankan perintah yang diterima dari Allah. Tatkala keesokannya mereka mendaki gunung dan menemukan lokasi untuk melaksanakan, pada detik terakhir, Allah menghentikan, dan menggantinya dengan seekor domba.

Dalam kaidah agama, kisah pengorbanan tersebut merupakan contoh keimanan dan ketaatan kepada Tuhan, yang bersifat mutlak atau absolut. Mengalahkan nilai moral kecintaan kepada keluarga yang bisa bersifat relatif.    

Aspek Filosofis dan Politik Dinasti  

Gambaran filosofis diatas tergambarkan bahwa keimanan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as kepada Allah, mengalahkan nilai kecintaan ayah terhadap anaknya.

Dalam dimensi nilai kebenaran sosial juga seringkali harus ada yang dipilih untuk “terkorbankan”. Sebagai contoh, pertemuan arisan untuk suatu paguyuban adalah positif bagi upaya mempererat silaturahmi. Namun dalam suasana pandemi Covid-19, mencegah terjadinya penularan antar sesama anggota masyarakat adalah hal yang lebih penting. Sehingga nilai positif pertemuan harus dikorbankan, untuk upaya mencegah penularan virus Corona.

Contoh lain, untuk mengungkapkan rasa cinta orang tua kepada anak, maka dibelilah laptop dan handphone. Akan tetapi ada ekses bagi sang remaja, yakni etos belajarnya sangat menurun, bahkan hilang, karena pengaruh keasyikan main games, gadget dan medsos. Dua hal yang memiliki nilai positif, tapi juga ada ekses. Kegembiraan sang anak harus dikorbankan, dibatasi atau dikendalikan “kesenangan”nya, demi kualitas diri sang anak dan masa depannya.

Siapapun tentu memiliki kecintaan kepada putra-putrinya, berkeinginan untuk sukses, berkedudukan tinggi, menjadi pejabat, dan rejekinya melimpah. Namun rasa cinta tersebut dalam sistem sosial, budaya dan politik yang menuntut keadilan, kejujuran, serta menilai pribadi lebih atas dasar kompetensi dan kualitas, dari pada garis keturunan,-- maka rasa cinta keluarga tersebut harus “dikorbankan”.

Dalam sistem Politik Dinasti apabila yang di-orbitkan oleh impian sang tokoh atau keluarganya, ataupun ambisi yang bersangkutan dengan pertimbangan memiliki kelebihan keturunan atau dekat dengan sang tokoh maka ada beberapa resiko yang diakibatkannya. Pertama, yang bersangkutan bila menduduki posisi yang secara kepemimpinan tidak dimiliki, atau dari aspek manajerial kurang difahami, bisa mengakibatkan tekanan batin atau stress pada dirinya sendiri. Publik akan melihat langsung kekurangan, kelemahan atau ketidakmampuan yang bersangkutan. Kalau masa lalu jadi omongan di warung kopi, masa kini akan jadi viral di media sosial.

Ekses yang kedua, tokoh yang jadi “andalan” kenaikan jabatan tersebut akan menurun reputasinya. Apabila selama ini atau sebelumnya dianggap sebagai pemimpin yang jujur, objektif, tulus demi bangsa dan negara, menjadi merosot dianggap publik sebagai person yang nepotis, mementingkan keluarga, mengabaikan keadilan dan merusak demokrasi. Ketiga, lembaga yang dipimpin secara manajerial bisa mengalami permasalahan. Termasuk juga staf atau pejabat yang di bawahinya akan sering mengalami kesulitan psikologis maupun administratif.

Resiko yang keempat, stakeholder, masyarakat, bahkan bisa jadi bangsa dan negara, akan menanggung dampak langsung atau tidak langsung adanya pejabat tidak kompeten yang dipaksakan memiliki kekuasaan atau kewenangan, lantaran Politik Dinasti.

Dengan melihat plus-minus Politik Dinasti, ada baiknya direnungkan untung dan ruginya. Lebih baik legowo, berfikir jernih untuk kebaikan semuanya, kecintaan pribadi kepada keluarga tersebut seyogyanya “dikorbankan”, dengan memilih kebaikan yang ada dalam nilai kultural, sosial dan politik masyarakat, sehingga menguntungkan bagi diri yang bersangkutan, sang tokoh, bahkan masyarakat, bangsa dan negara.

Telah jelas bahwa jabatan adalah amanah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhori, Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa apabila sebuah amanah atau jabatan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.(Dr Soen’an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load