Waspadai, Klaster Baru Bisa Berada di Pabrik

Senin , 06 Juli 2020 | 09:44
Waspadai, Klaster Baru Bisa Berada di Pabrik
Sumber Foto Duta.co
Ilustrasi
POPULER

JAKARTA--Berbagai temuan data dan fakta belakangan ini menunjukkan bahwa penyebaran virus corona (Covid-19) belum melandai, melainkan justru mengkhawatirkan. Penelitian sejumlah lembaga juga mendukung asumsi itu, sehingga mengharuskan kita lebih waspada dan tidak menganggap enteng. 

Masyarakat harus lebih waspada dan melindungi diri lebih baik. Pemerintah dan dunia usaha perlu bekerjasama dalam upaya meningkatkan pengendaliannya. Dunia usaha perlu lebih sigap karena resiko yang mereka hadapi bisa sangat besar, terkait keselamatan buruh  dan masa depan bisnisnya.

Kabar terakhir dari Semarang, Jawa Tengah, sungguh mngkhawatirkan. Dilaporkan terdapat ratusan pekerja dari tiga perusahaan telah terpapar dan dinyatakan mengidap Covid-19. Ini pukulan telak bagi Jawa Tengah yang selama ini dipandang cukup terkendali. Ternyata ada “api dalam sekam” yang sewaktu-waktu bisa menyebar kemana-mana.

Tidak seperti kasus penularan di pabrik milik HM Sampurna, Surabaya, dan pabrik Unilever di Cikarang, Jawa Barat, pemerintah kota Semarang masih merahasiakan nama ketiga perusahaan tersebut. Perusahaan besar atau kecil. Perusahaan nasional atau asing?

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, M. Abdul Hakam, enggan membeberkan secara detail profil ketiga perusahaan tersebut. "Dari perusahaan A ada sekitar47 orang yang positif, dari perusahaan B ada sekitar 24. Terbaru, ada lebih dari 100 karyawan dari perusahaan A yang positif Covid-19," ungkapnya.

Belum jelas berapa jumlah kasus yang pasti dan apakah penelusurannya sudah dilakukan lebih cermat. Di Semarang, berdasarkan data dari laman siagacorona.semarangkota.go.id, hingga Minggu (5/7), pukul 21.20 WIB, jumlah pasien positif mencapai 705 kasus.

Apapun penyebabnya, kasus di Semarang, seperti halnya di HM Sampurna dan PT Unilever Indonesia, menunjukkan bahwa klaster baru bisa berada di lingkungan perusahaan. Pekerja dan buruh bisa saling menular satu sama lain. Mereka sangat mungkin membawa virus kepada keluarga dan tetangga di tempat mereka tinggal.

Ini sebuah ancaman baru yang semestinya menjadi perhatian pemerintah, dunia usaha dan seluruh masyarakat. Pola pendekatan dalam pengendalian Covid tidak bisa lagi kaku hanya berdasarkan wilayah, melainkan harus komprehensif dan menyeluruh. Bahkan harus bersifat “total football” yang mengharuskan semua pihak berdisiplin menerapkan protocol kesehatan.

Hal ini perlu kita tekankan karena hasil survey terakhir yang dilakukan laporcovid.org bersama dengan Social Resilience Lab, Nanyang Technological University (NTU) di Jakarta, menyebutkan bhwa mayoritas warga masih menganggap enteng penularan COVID-19 atau virus corona.

Sebanyak 77 persen warga DKI Jakarta menganggap potensi penularan COVID-19 memiliki risiko kecil. Data tersebut didapat dari hasil survei secara acak terhadap 154.471 warga ibu kota. "Mereka menganggap dirinya tidak akan terkena COVID-19. Sangat kecil kemungkinannya untuk terkena," kata Peneliti Social Resilience Lab Sulfikar Amir dalam keterangan pers yang disiarkan virtual,  Minggu (5/7/2020).

Selain itu, terdapat 94 persen warga DKI yang tidak mengenal orang yang pernah terpapar virus corona. Menurut dia, data tersebut berimplikasi pada tingginya persentase warga yang menganggap risiko penularan COVID-19 kecil. "Karena mereka belum melihat orang di sekililingnya terkena COVID-19," kata Sulfikar.

Hal tersebut bisa menjadi masalah karena dalam membangun persepsi risiko seseorang akan dibentuk melalui gelembung sosial. Selama belum ada orang dalam gelembung sosial yang terpapar COVID-19, kata dia, maka mereka merasa nyaman dan aman. "Perasaan ini akan memengaruhi perilaku mereka dalam menjaga diri," ujar Sulfikar.

Survei itu hanya mengukur tingkat kepedulian warga Jakarta terhadap Covid. Daerah lain kurang lebih sama kondisinya. Bahkan sangat mungkin lebih memprihatinkan karena akses informasi yang lebih rendah, fasilitas kesehatan kurang dan berbagai factor lainnya. Fakta mengenai peningkatan jumlah kasus Covid di Jawa Timur yang semula rendah dan belakangan ini justru meningkat melampaui Jakarta, menunjukkan bahwa resiko di daerah bisa lebih tinggi.

Maka kita, sekali lagi, meminta pemerintah dan dunia usaha jangan memandang enteng mengenai penyebaran virus ini, justru perlu meningkatkan upaya-upaya pengendaliannya. Pemerintah  dan dunia usaha perlu duduk bersama untuk membahas cara pengendalian yang efektif di pabrik-pabrik, bahkan melakukan tracing bersama agar “api dalam sekam” bisa segera dipadamkan.

Jangan sampai kita terlambat mengendalikannya. Kini semua pihak justru harus lebih waspada, bertindak lebih cepat, agar tidak terjadi bom waktu yang dampaknya sangat besar dan merugikan.  

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load