Budaya Mau Menang Sendiri?

Senin , 29 Juni 2020 | 09:28
Budaya Mau Menang Sendiri?
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman

PADA suatu hari penulis diminta oleh Dokter Ahli Prostat, untuk periksa darah, biasalah penyakit penunggu badan orang Lansia yang sudah berumur 77 tahun.

Biasanya saya diceloteh oleh para cucunda, “Datuk (kakek), orang Lansia, atau Manula, mana teman-temannya lagi ya?” Biasanya penulis menjawab, “Mereka sudah mendahului Datukmu untuk melapor kepada yang memberi kehidupan, yakni Gusti Allah!”

Ketika penulis mendaftar di Klinik Pemeriksaan darah, “Siti Darmawati”, di salah satu jalan Kampung di Jakarta, dan penulis terkejut bahwa penulis diminta menanda tangani surat pernyataan, bahwa kalau terjadi kecelakaan, maka penulis setuju untuk tidak akan menuntut klinik itu.

Dalam arti tidak boleh menuntut pegawai dan yang empunya klinik itu! Penulis, lalu ngebatin, “Wah, si Klinik ini, maunya menang sendiri!”

Pengalaman penulis ketika di tahun 1973-1975, lagi bermukim di negeri Paman Sam (Uncle Sam), Amerika Serikat (AS). Di sana, kalau ada hal-hal yang tidak wajar di Klinik, mau si sakit atau pasien, silahkan menuntut klinik itu!

Keadaan yang sama kita terima juga kalau, ketika itu berbelanja kepada suatu warung. Lalu anda pasti membaca poster yang berbunyi, “Barang yang sudah dibayar, tidak boleh dikembalikan!” Penulis ketika membaca poster seperti itu lalu ngebatin, “Ini yang punya warung, mau menang sendiri”.

Ketika penulis mengeluh hal ini kepada sahabat karib penulis, ia lalu berujar, “Marzuki, engkau harus bisa menerima budaya di negara Republik Indonesia tercinta ini, yakni, “Budaya Menang Sendiri”.

Dia lalu memberi contoh lagi sebagai berikut. Ketika seseorang untuk mengobati penyakitnya dan dokter harus mengoperasi si sakit. Kepada si sakit, dan keluarganya diharuskan untuk menanda tangani surat pernyataan bahwa kalau terjadi apa-apa yang tidak bagus, maka si sakit dan keluarganya sudah menanda tangani suatu pernyataan bahwa mereka tidak akan menutut dokter dan Rumah Sakit.

“Wahai Marzuki”, ujar sohib saya itu, “Engkau haruslah menerima dengan senang hati, Budaya Menang Sendiri!!” Dia tutup lagi dengan Kalimat Pamungkas, “Habis Perkaralah Marzuki?” Lalu penulis ngebatin lagi, “Bagaimana masa depan NKRI kita?” (Marzuki Usman)

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load