Keluarga dalam Sistem Sosial

Senin , 29 Juni 2020 | 09:35
Keluarga dalam Sistem Sosial
Sumber Foto dok/psychologies.co.uk
Ilustrasi keluarga.

KELUARGA adalah komponen dari ibu, ayah, suami, isteri dan anak. Inti dari masyarakat ini secara makro tentu merupakan bagian sangat penting dan strategis dalam berbangsa dan bernegara.

Pakar sosiologi Lamanna dan Riedmann (1991), menyampaikan bahwa fungsi keluarga adalah untuk reproduksi, pemenuhan kebutuhan ekonomi dan perlindungan emosional.

Pendapat lain adalah dari Friedman (1998), yang mengungkapkan lebih lengkap, yaitu pembentukan afektif atau sikap sosial, sosialisasi dengan individu lain, reproduksi, ekonomi dan kesehatan.

Secara yuridis atau legalistik, pada Undang Undang No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera dan Peraturan Pemerintah No.21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera, disebutkan bahwa peran keluarga terdiri dari aspek agama, sosial-budaya, cinta-kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan.

Dalam hal pengembangan individu atau anggota keluarga, yang tentu merupakan bagian dari masyarakat, dan lebih besar lagi sebagai warga negara atau komponen bangsa, maka kiranya posisi keluarga dapat diperankan dalam pembinaan lima aspek.
Pertama, pembinaan dalam beragama, sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian maka terbentuklah pribadi yang taat menjalankan perintah agama, serta manjauhi larangannya.

Kedua yaitu fungsi membina kesehatan. Peduli kondisi kesehatan keluarga, mewujudkan suasana fisik lingkungan rumah yang bersih dan sehat, serta suasana emosional yang positif. Dan tidak lalai untuk menyediakan asupan gizi yang baik.
Diperhatikan pula gizi anak sejak dikandungan sampai usia dua tahun dan berikutnya, agar terhindar dari kondisi stunting dan lemahnya potensi kecerdasan.

Ketiga adalah fungsi pendidikan, terutama bagi anak-anak. Melalui pendidikan, mewujudkan keluarga penerus yang lebih baik. Kualitas individu banyak terbentuk oleh faktor pendidikan.

Dengan pendidikan yang baik dan asupan gizi yang tinggi, akan memutus rantai kemiskinan, lantaran mewujudkan generasi yang berbobot.

Namun kondisi era digital masa kini harus diwaspadai. Memang patut disyukuri, kemajuan ini mendorong generasi Zaman Now lebih cepat dan mudah untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, banyak keluhan dan bukti nyata, apabila salah didik, maka sang anak atau remaja terpengaruh oleh sikap negatif tokoh yang ditontonnya, dan bisa juga terbuai games yang memusnahkan etos belajar ataupun etos kerja.

Keempat adalah pembinaan rasa cinta tanah air, atau kebangsaan. Masa kini adalah era persaingan global yang tinggi. Sebagai inti sistem suatu bangsa, keluarga harus berperan juga untuk menyadarkan, sebagai bagian dari bangsa yang sedang bersaing.
Apabila berada di barisan belakang dari bangsa-bangsa di dunia, maka akan menjadi bagian suatu bangsa yang terpuruk di kemudian hari. Apalagi kemajuan teknologi dan kebebasan berpendapat memiliki ekses dapat menebar ujaran kebencian serta nasionalisme, melalui medsos atau forum komunikasi lainnya.

Kelima adalah fungsi keluarga dalam menanam rasa kasih sayang kepada sesama manusia, terlepas dari etnis, ras, suku ataupun agama yang dipeluknya. Keberhasilan suatu individu adalah pribadi yang memiliki relasi positif dengan banyak kawan. Dan sebaliknya, kebencian atau permusuhan tentu menghasilkan derita dan kesusahan. Dalam skala bangsa juga terbukti, bangsa yang terpecah senantiasa berbuntut dengan permasalahan.

Seorang sufi dari Persia menyampaikan : "Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber. Ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri."

Serupa dengan ungkapan filosof Romawi, yang menyatakan bahwa kita sejatinya ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama.

Hari Keluarga

Mengingat pentingnya posisi keluarga dalam pembentukan inndividu, bahkan mewarnai kualitas masyarakat dan suasana dalam berbangsa dan bernegara, maka ditetapkanlah Keputusan Presiden Nomer 39 Tahun 2014, Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Juni. Pada awalnya, almarhum Presiden Soeharto pernah pula mencanangkan Hari Keluarga pada tanggal 29 Juni 1993, di Lampung.

Pemilihan tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional tersebut juga konon diantaranya mempertimbangkan apresiasi perjuangan kemerdekaan atau kepahlawanan dengan keluarganya.

Dalam rangka mengakhiri Agresi Militer II Belanda yang berlangsung sejak 19 Desember 1948, pada tanggal 22 Juni 1949 diselenggarakan pertemuan antara Republik Indonesia, BFO dan Belanda, di bawah pengawasan Komisi PBB dipimpin Christchley, yang salah satu hasilnya adalah pengembalian Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta.

Dengan demikian maka seminggu setelah kesepakatan damai tersebut, yakni tanggal 29 Juni, adalah kembalinya para pejuang, termasuk Tentara Republik Indonesia, bisa ketemu kembali keluarga yang dirindukannya. Para keluarga pejuang dan gerilyawan tersebut telah banyak bersabar dan memberikan dorongan moril yang sangat besar kepada segenap pejuang nasional.

Pemilihan tanggal tersebut juga dikaitkan dengan moment puncak keberhasilan kristalisasi perjuangan panjang Gerakan Keluarga Berencana pada tanggal 29 Juni 1970, yang dipimpin Prof Dr. Haryono Suyono.

Di dunia internasional, posisi keluarga juga memperoleh penghargaan yang sangat positif. Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1994 telah menetapkan International Family Day tanggal 15 Mei. Dan pada beberapa negara telah memiliki Family Day pada hari yang berbeda dengan International Family Day yang ditetapkan PBB.

Misalnya di Amerika Serikat, dirayakan pada minggu pertama bulan Agustus, Australia hari Selasa pada minggu pertama bulan November, dan Kanada pada hari Senin minggu ketiga bulan Februari.

Dengan demikian maka masyarakat global juga mengakui peran penting setiap keluarga. Maka sesuai kaidah agama juga, bahwa pada hakekatnya manusia adalah "khalifah di dunia" maka keluarga sebagai inti siatem sosial mendapat amanah untuk mewujudkan individu yang mengimani Tuhannya, mencintai sesama ummat manusia, dan memelihara lingkungan hidupnya.(Dr Soen’an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Dosen IISIP Jakarta.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load