Jokowi "Memercik Air Di Dulang"

Senin , 29 Juni 2020 | 08:42
Jokowi
Sumber Foto Watyutink
Ilustrasi

JAKARTA--Ini kebijakan yang tidak biasa dalam cara pemerintah berkomunikasi dengan public. Secara sengaja pemerintah merilis rekaman suasana dan arahan Presiden Joko Widodo, termasuk kejengkelannya menyikapi kinerja sejumlah menterinya, dalam sidang kabinet yang berlangsung beberpa waktu lalu.

Isi videonya terbilang sangat sensitif. Dari tayangan yang diunggah di YouTube tersebut, publik bisa mengetahui betapa Presiden kesal dengan kinerja sejumlah menteri kabinetnya yang dipandang bekerja biasa-biasa saja, seolah dalam kondisi normal, padahal Negara berada di tengah krisis kesehatan dan juga ekonomi.

Penjelasan Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden RI Bey Triadi Machmudin, menunjukkan  kesengajaan pemerintah untuk merilis video tersebut. Sebab Sidang Kabinet Paripurna tersebut bersifat intern dan tertutup. "Namun setelah kami pelajari pernyataan Presiden, banyak hal yang baik, dan bagus untuk diketahui publik, sehingga kami meminta izin kepada Bapak Presiden untuk mempublikasikannya. Makanya baru dipublikasi hari ini," kata Bey.

Video arahan Presiden Jokowi kepada jajarannya itu berselang 10 hari sebelum dipublikasikan. Penonton video bisa menyaksikan arahan Jokowi, termasuk kejengkelannya, karena ia menilai dalam tiga bulan terakhir tidak ada progres signifikan. 

Padahal, katanya, situasi saat ini memerlukan langkah luar biasa (extra ordinary) karena dunia termasuk Indonesia sudah diambang krisis. Maka ia menegaskan akan melakukan langkah-langkah “extra ordinary” apa pun, demi menyelamatkan 267 juta rakyat Indonesia. "Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat Perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan," kata Jokowi pula.

Ia terlihat sangat kecewa. "Saya harus ngomong apa adanya, tidak ada progres signifikan (dalam penanganan krisis akibat Covid-19). Tidak ada," kata Jokowi.

Penyebaran video rekaman sidang kabinet yang bersifat tertutup ini terbilang luar biasa. Pada masa lalu kita paling-paling hanya memperoleh bocoran, yang tentu tidak lengkap. Kesengajaan merilis kejengkelan Presiden Jokowi tersebut bisa menimbulkan spekulasi:

Pertama, Presiden ingin rakyat mengetahui bahwa keadaan saat ini memang sangat berat, baik mengenai pandemi virus corona (Covid-19) yang belum bisa dikendalikan, maupun tekanan ekonomi yang diakibatkannya.

Kedua, beberapa kebijakan yang ditempuh untuk mengendalikan situasi krisis tidak berjalan dengan baik karena sejumlah menteri tidak memiliki sense of crisis, tidak bekerja maksimal dan tidak memiliki kebijakan terobosan.

Ketiga, Presiden ingin memperoleh dukungan public untuk melakukan beberapa langkah, yang ia sebut sebagai extra ordinary, termasuk merombak jajaran kabinetnya.

Pertanyaannya, apakah cara seperti itu efektif? Bukankankah membuka aib para menteri di depan umum justru bisa “memercik air di dulang” yang terkena muka sendiri? Cara mempublikasikan video kejengkelan itu juga hanya mempermalukan para menteri yang kinerjanya jeblok, padahal ia sendiri yang memilihnya.

Kini semua sudah terbuka. Dari video tersebut makin diketahui bahwa kualitas para pemimpin pemerintahan ternyata biasa-biasa saja. Mereka bukan orang-orang terbaik di bidangnya, yang mampu mencari jalan keluar dan langkah terobosan di tengah kesulitan. Mereka bukan pula pemimpin yang bersedia mencurahkan perhatian dan kemampuannya untuk diabdikan sepenuhnya pada kepentingan rakyat.

Maka sebenarnya tidak ada halangan bila Presiden ingin merombak kabinetnya. Namun perlu diingatkan agar Jokowi berhati-hati memilih figur baru sehingga tidak terperosok berkali-kali karena salah memilih orang. Pertimbangan menjaga keseimbangan partai-partai pendukung tidak lagi relevan lagi dalam memilih calon menteri cabinet. Kini sangat diperlukan para professional yang memiliki jiwa pengabdian kepada rakyatnya.



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load