Bali Membidik "Digital Nomad" Yang Potensinya Besar

Minggu , 28 Juni 2020 | 09:55
Bali Membidik
Sumber Foto Pinterest
Ilustrasi
POPULER

JAKARTA--Peluang selalu saja terbuka, dimana saja dan kapan saja. Meski pandemi virus Corona (Covid-19) mendera hingga saat ini dan telah menghancurkan berbagai sector usaha, khususnya pariwisata, tampak ada peluang baru yang bisa dikembangkan ke depan.

Banyak eksekutif perusahaan di dunia yang menjadi terbiasa bekerja dari rumah (work from home—WFH) dan ternyata bisnis bisa berjalan. Artinya, bisnis bisa dijalankan dari jauh melalui bantuan teknologi yang semakin canggih sehingga tidak selalu harus bertatap muka lagsung dengan karyawan dan relasi. Teknologi telah memudahkan mereka untuk bekerja sekalipun dalam deraan kesulitan akibat pandemic ini. Mereka disebut sebagai digital nomad.

Para digital nomad itu terbiasa bekerja di mana saja, terutama di daerah yang aman dan nyaman serta memiliki dukungan sarana komunikasi yang baik dan stabil. Mereka, para eksekutif dan pengendali bisnis mencari tempat untuk memenuhi hasrat bisa bekerja dengan tenang, tanpa gangguan dan kebisingan kota besar.

Situasi baru tersebut yang tampaknya memotivasi pemerintah untuk mengembangkan kepariwisataan Bali membidik peluang baru tersebut. Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun ikut mengampanyekan ide Work from Bali kepada para investor dalam seminar bertajuk China Enterprises Going Global Risk Conference: 2020 Global Investment Services Forum and Foreign Embassies and Overseas Industrial Parks' Promotion Information Release di Beijing, beberapa waktu lalu.

“Tagar Work from Home selama masa pandemi berpeluang menjadi Work from Bali pascapandemi,” kata Djauhari. Bagi orang asing, katanya, bekerja dari Bali memberikan manfaat tersendiri. Selain biaya hidup yang relatif lebih murah, kualitas hidup pun lebih terjamin karena kelestarian lingkungan yang tetap terjaga.

Seminar itu dihadiri 50 peserta dengan jarak tempat duduk masing-masing sekitar 4 meter, yang diikuti secara daring oleh 2.000 orang dari berbagai perusahaan dan asosiasi bisnis di China itu digelar oleh Jiang Tai International Associates (JTIA), organisasi yang berafiliasi dengan berbagai investor China. Tugas utama JTIA adalah mengidentifikasi negara tujuan potensial dan memberikan rekomendasi bagi perusahaan yang akan melakukan investasi di luar negeri.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan "working from Bali" potensial dikembangkan di Pulau Dewata. "Pandemi COVID-19 ini adalah momentum yang tepat. Pandemi ini di sisi lain menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baru, bekerja tidak melulu dari kantor. Bekerja dengan lebih sehat, lebih fresh, tanpa perlu pusing sewa kantor atau berdesakan di lift," kata Wagub yang akrab dipanggil Cok Ace itu saat membuka Webinar series #5 dengan tajuk "Road Map to Bali Next Normal Imagine Working From Bali, Why Not" di Denpasar, pekan lalu.

"Saya jadi teringat cerita seorang warga negara Prancis yang dalam jangka waktu setahun bisa dua kali berkunjung ke Bali dalam rentang waktu yang cukup lama. Ternyata dirinya memang sengaja bekerja dari Bali. Tinggal di Bali untuk mengurus perusahaannya dengan modal laptop kecil, dan teras villa sederhana di Ubud," ucap Cok Ace.

Dari cerita itu, dia berpandangan "working from Bali" bisa dilakukan. Peluang ini bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata baru di Bali, yakni dengan mengembangkan "working space" yang memadai bagi para turis seperti ini. Apalagi, Bali punya modal besar untuk hal tersebut. Pertama, udaranya relatif bersih dengan cuaca yang stabil sepanjang tahun. Lalu , pemandangan memukau, pasir putih, langit biru, merupakan perwujudan "bersih" yang sesungguhnya.

Bali memiliki vibrasi tersendiri, suatu "healing power" yang diperoleh dari beragam upacara yang dilaksanakan hampir setiap hari. Memberikan ketenangan bagi siapapun. Dalam aspek keamanan dan kenyamanan, masyarakat Bali sangat terkenal dengan keramahan, hospitality-nya. Orang Bali sangat menerima perbedaan dan asalkan tidak menimbulkan ketersinggungan maka akan sangat mudah orang luar untuk nyaman di Bali.

Jadi gagasan untuk menarik para digital nomad bekerja lebih lama di Bali patut didukung karena ini merupakan terobosan yag memiliki prospek bagus. Potensinya besar dan diperkirakan  dalam setahun Indonesia bisa menarik devisa hingga US$2milyar dari segmen ini. Bila berhasil maka menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengkampanyekan gagasan serupa.

Di masa depan tentu bukan hanya Bali yang bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para eksekutif perusahaan besar dunia. Di Indonesia banyak sekali lokasi yang bisa dikembangkan, yang tentu harus dipersiapkan pemerintah dengan baik, terutama sarana dan prasarana telekomunikasi, kenyamanan dan keamanan serta akomodasi yang memadai. (BC)



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load