Mencari Pemicu Perang AS-China

Selasa , 02 Juni 2020 | 15:08
Mencari Pemicu Perang AS-China
Sumber Foto : Istimewa
Donald Trump dan Xi Jinping.
POPULER

JANGAN lupa, nenek moyang rakyat dan penguasa Amerika Serikat dewasa ini adalah imigran. Mereka berasal dari Eropa dan bagian dunia lain. Motif ke AS adalah mencari ‘dunia’ baru agar lebih sejahtera, melarikan diri dari tekanan politik, agama dan bisa jadi  hukum.

Di antara para imigran itu banyak orang pandai dan kreatif. Mereka memberi kontribusi bagi tumbuhnya AS sebagai negara adidaya.

Werhner von Braun, kelahiran Jerman, merancang roket Saturnus pembawa Apollo ke bulan.

Anak imigran Jerman, Julius Robert Oppenheimer, yang memimpin pembuatan bom atom pertama.

Pemenang hadiah Nobel John Kenneth Galbraith, ekonom ternama itu, dilahirkan di Kanada. 

Di samping ahli IT, keuangan, kedokteran, ilmu kimia dari  keluarga imigran India, China, Iran dan sebagainya.

Kehebatan dalam ilmu dan teknologi serta ekonomi, pada 1960-an telah  menghasilkan 75 persen dari GDP dunia. Kehebatan dan keunggulan ini memperkuat idealisme yang dibawa para imigran. Mempelopori kebebasan dan keadilan.

Motif itu terbawa sampai sekarang. DPR baru-baru ini membuat UU yang memberi sanksi kepada China terkait berlaku tidak adil terhadap suku Uyghur dan mengekang Hong Kong. UU itu diloloskan Kongres.

Tindakan Amerika Serikat tidak mengenal batas negara. Presiden Saddam Hussein digantung  karena Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal. 

Pemimpin Libya Moammar Gaddafi diseret-seret dan disiksa sampai mati sebab memerintah secara tidak demokratis dan mensponsori terorisme.

Osama bin Laden di rumahnya di Abbottabad, Pakistan diberondong  oleh anggota Navy SEAL Tim 6. Dia dituduh  mendalangi penghancuran Menara Kembar di New York pada 9 September  2001.

Presiden Barrack Obama, Menlu Hillary Clinton dan belasan pejabat menyaksikan dengan tenang adegan mengerikan itu dari Ruang Perang, Gedung Putih pada 2 Mei 2011.

Obama lalu terpilih untuk kedua kalinya. Sebelumnya George Walker Bush juga terpilih kembali setelah ‘memenangkan’ perang di Irak.

Saddam Hussein, Gaddafi, Osama bin Laden dibunuh oleh tentara AS dan oposan di dalam negeri. AS juga kerap membantu melakukan kudeta terhadap pemimpin asing.

Presiden Chile Salvador Guilermo Allende Gossens dijatuhkan dalam operasi berkode Jakarta Operation. Pemimpin berfaham Marxis yang terpilih secara demokratis dalam pemilu 1971, tewas dalam kudeta dua tahun kemudian. Pelaku utamanya Jenderal Augusto Pinochet.

Bisa dibayangkan, Washington dapat melakukan apa saja yang dikehendaki sekalipun jauh dari batas negara. Motifnya demokrasi (kebebasan) , HAM (keadilan), dan terkadang pengabaian terhadap lingkungan hidup.

Siapa dapat menyangkal, kegagalan Indonesia membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 karena diancam dijatuhkan sanksi oleh AS.

Dasar sanksi itu Countering America's Adversaries Through Sanctions Act.
Motif mewujudkan kebebasan, keadilan merupakan alasan penghantar saja. Tujuan utamanya adalah mengkoloni, menguasai sumber daya alam/ bahan tambang  dan menjadikannya sebagai pasar bagi barang dan jasa.

Slogan Lama

Sebagaimana dikemukakan di atas , politik luar negeri merupakan pencerminan aspirasi di dalam negeri. Prinsip ini semakin peka pada tahun pemilihan Presiden.

Donald Trump yang bertanding lagi pada November nanti berusaha keras menunjukkan diri sebagai kepala pemerintahan yang memahami aspirasi calon pemilih. Supaya negaranya tetap sebagai nomor satu di dunia.Tapi bagaimana caranya?

Dalam pemilihan Presiden pada 2016, Trump mengusung slogan Make America Great Again. Kemudian dalam pidato pelantikannya, Trump mengutarakan America First.

Slogan itu bukan hal yang baru. Presiden Ronald Reagan dari Republik mencanangkan Let’s Make America Great Again. Begitu pula dengan America First. Ia merupakan slogan kaum Republiken pada 1880. Baru meluas secara nasional sesudah digunakan Presiden Woodrow Wilson tahun 1915.

Pengusung America First waktu itu ingin Amerika Serikat tidak usah terlibat dalam Perang Dunia I dan II.  America First menunjuk kepada politik luar negeri yang menekankan kepada nasionalisme, uniteralisme, proteksionisme dan isolasionisme.

Kemudian Klux Klux Klan, organisasi yang berpendapat ras kulit putih adalah ras yang terbaik,  menambahnya sebagai anti imigran, terutama yang bukan datang dari Eropa.

Faham Klux Klux Klan mungkin mengilhami perlakuan agresif anggota kepolisian Minneapolis Derek Chauvin,  yang menewaskan George Floyd pada 25 Mei 2020. Chauvin ditangkap pada Jumat , 29 Mei 2020, dengan dakwaan membunuh tingkat tiga dan pembunuhan tingkat kedua. Dia dipecat dan diancam hukuman penjara maksimal 25 tahun.

Ahli strategi komunikasi politik dan penasehat Trump,  Steve Bannon, disebut mengartikan America First dalam bentuk nasionalisme ekonomi. (1) Memperketat peraturan perdagangan bebas. (2) peraturan imigrasi lantaran para imigran merebut lapangan kerja kulit putih. (3) Menolak perjanjian Paris yang mengatur pengurangan emisi karbon di 188 negara. AS menyumbang 15% dari total emisi karbon dunia.

Terhadap China

Bannon cuma tujuh bulan bersama Trump tetapi gagasannya masih dilaksanakan sampai sekarang.  Misalnya, keluar dari perjanjian Paris pada November 2019.

Di samping meninjau kembali hubungan dagang dan pemberian kemudahan kepada China.
Trump memperluas tekanan kepada China dengan mengangkat suku perlakuan terhadap suku  Uyghur.

Pemberlakuan UU Keamanan baru terhadap  Hong Kong. Mempersoalkan kebebasan bernavigasi di Laut China Selatan. Menuduh China sebagai sumber pandemi Covid-19, dalam mana Menlu Mike Pompeo memakai sebutan virus Wuhan, sedang Trump menjuluki virus China.

Kelakuan Trump terhadap negara lain maupun dalam menangani kerusuhan domestik dalam beberapa hari terakhir tak beda dengan perannya dalam film seri televisi seri The Apprentice. Lugas-lugas saja.

Namun bila ingin berperang dengan lain, Trump sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata tidak bisa berlaku seperti diktator. Dia harus mendapat dukungan  Kongres, yang terdiri dari Senat dan DPR. Dukungan Konggres juga penting buat memperoleh anggaran perang.

Dengan demikian Trump dan partai Republik harus bisa meyakinkan anggota Konggres agar menyetujui perang dengan China. 

Tapi apa alasannya? Apa pemicunya?
George W. Bush didukung menghabisi Irak karena negara itu dinilai memiliki senjata pemusnah massal. Obama disokong menyerbu Afghanistan lantaran di situ jadi basis terorisme, memiliki sumber daya alam, berbatasan dengan China dan negara-negara pecahan Rusia.

Dewasa ini sengketa dagang meredup karena secara bertahap Beijing dan Washington sudah mencapai kesepakatan fase pertama.

Kedua pihak menyadari saling memerlukan terlebih dalam kondisi dunia seperti ini. China misalnya, adalah negara yang paling mungkin membantu Boeing Corp. yang berada diambang kebangkrutan.

Negara-negara yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan sudah kepalang memiliki mekanisme penyelesaian sengketa batas wilayah melalui melalui Konvensi Hukum PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Sekalipun meyakini perlunya perimbangan kekuatan di kawasan yang strategis tersebut.

Kasus suku Uyghur juga hanya memperoleh simpati internasional yang terbatas. AS tidak dapat mengeksploitirnya.

Kematian George Floyd menunjukkan kegagalan pemerintah Trump menangani aksi rasisme (HAM) di dalam negeri.

Trump masih berpeluang ‘ memainkan’ kasus Hong Kong yang secara bertahap akan kehilangan aturan Satu Negara Dua Sistem. Meskipun begitu menghilangkan status Hong Kong berbagai sangsi juga akan merugikan pebisnis AS.

Dewasa ini terdapat hampir 300 perusahaan yang mempunyai basis regional dan lebih dari 1.300 perusahaan IT, keuangan hingga asuransi AS yang beroperasi di Hong Kong.  Di situ juga bermukim 85 ribu WN AS.

Sebelumnya Deng Xiao Ping cs menjadikan Hong Kong sebagai tempat untuk belajar dan pintu masuk modal asing ke Cina Daratan.

Dewasa ini di Hong Kong terdapat sedikitnya 1.125 perusahaan dan 25 bank China.

Tampaknya bila terjadi sesuatu dengan HK, China sudah mempunyai Shenzhen, Shantou, Zhuhai, Xiamen dan lain-lain. Pelabuhan laut dan bandara internasional ada di mana-mana.

Perlu pula diketahui peran HK dalam perekonomian China Daratan sudah menurun. Ini pula  yang mungkin membuat China berani mengajukan UU Keamanan Nasional yang seharusnya diberlakukan 27 tahun lagi.

Pandemi Covid-19 mulanya digadang-gadang sebagai pintu masuk utama berkonflik dengan karena jumlah korban yang tewas di AS terbanyak di dunia, lebih dari seratus ribu orang.Tetapi Presiden Xi Jinping menyatakan penyebabnya bukan kebocoran laboratorium P-4 Institut Virologi di Wuhan, melainkan karena sebab-sebab alamiah.

Apakah perang AS-China akan tercetus?

Proses pengambilan keputusan di AS bukan berada di lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif melainkan di tangan pelobi atau kalangan industri yang akan mengambil manfaat dari keputusan yang diambil. Mereka akan bekerja sama dengan media dan ahli-ahli strategi komunikasi politik seperti Steve Bannon.

Para pelobi dan kalangan industri itu juga yang  akan menjamin apakah presiden yang menjabat akan terpilih lagi atau dibiarkan tumbang.

Masyarakat pemilih sebetulnya hanya pelengkap penyerta. Bila terjadi perang, anak-anak/keluarga mereka yang dikorbankan.

Trump mungkin akan lebih mendengarkan saran pelobi dan kalangan industriawan daripada yang lain.

Lawan yang dihadapi AS adalah China, pemilik kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. China sudah bersahabat dengan lebih dari 150 negara yang ikut program One Belt One Road.

Dalam kaitannya dengan situasi yang memanas  dengan Amerika Serikat, Xi Jinping cs barangkali akan mengikuti pesan Sun Tzu.. (1) Memelihara persahabatan dengan negara tetangga. (2) Memperkuat hubungan dengan para sekutunya. (3) Mereka yang terampil dalam ilmu perang selalu akan membawa musuh ke tempat di mana ingin bertempur dan tidak dibawa ke sana oleh musuh. (Sjarifuddin)



KOMENTAR

End of content

No more pages to load