Belajarlah dari Kasus Korsel, Jangan Longgarkan Kedisiplinan

Minggu , 31 Mei 2020 | 07:36
Belajarlah dari Kasus Korsel,  Jangan Longgarkan Kedisiplinan
Sumber Foto abadikini.com
Ilustrasi
POPULER

Sudah tak sabar kita menunggu kapan waktunya bisa memasuki masa transisi menuju kondisi normal baru (new normal) setelah terbenam di rumah selama beberapa bulan. Terlebih lagi dunia usaha yang ingin segera bisa memulai lagi aktifitas bisnis mereka setelah mengalami tekanan kerugian yang tidak kecil.

Kita semua sudah jenuh tinggal dan bekerja di rumah. Dunia usaha juga sudah berteriak agar pembatasan sosial segera dilonggarkan. Saat ini, arahnya memang menuju esana. Tapi kapan waktunya? Ini yang tidak mudah menentukannya. Belajar dari pengalaman beberapa Negara, kita harus berhati-hati, jangan sampai keputusan pelonggaran masa pembatasan justru menimbulkan eforia yang merugikan. Apalagi, suka atau tidak, disiplin masyarakat kita relative rendah sehingga resikonya bisa lebih besar.

Lihatlah Korea Selatan. Pemerintah Korsel terpaksa harus menerapkan kembali tindakan penguncian ketat di ibu kota Seoul setelah terjadi lonjakan terbesar infeksi Virus Corona COVID-19. Langkah ini menyusul terjadinya peningkatan kasus harian terbesar dalam 53 hari. Warga Seoul diminta menghindari pertemuan sosial atau pergi ke tempat-tempat ramai, termasuk restoran dan bar.

Pekan lalu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 79 infeksi baru dengan 67 di antaranya dari daerah Seoul. Para pejabat mengatakan otoritas kesehatan semakin sulit melacak rute penularan untuk infeksi baru dan mendesak orang untuk tetap waspada di tengah kekhawatiran gelombang kedua infeksi COVID-19.

Klaster-klaster penularan COVID-19 bermunculan dan ini sangat mengkhawatirkan. Padahal Korsel sempat menjadi model keberhasilan penanganan virus Corona, kini menghadapi pandemi gelombang kedua. Situasi ini memprihatinkan, sekaligus menjadi bukti strategi tanpa lockdown seperti yang dilakukan Korsel, ternyata tidak sepenuhnya berhasil.

Dunia terkejut dengan fakta yang terjadi di negeri ginseng itu. Kalau Korsel yang masyarakatnya berdisiplin tinggi bisa mengalami gelombang kedua seperti itu, kita sepatutnya lebih waspada. Apalagi, kondisi geografis Indonesia sangat luas dan tingkat kedisiplinan masyarakatnya berbeda-beda.

Sejauh ini, Gugus Tugas Penanganan Covid sudah mempublikasikan 102 kabupaten yang masuk kategori hijau. Tidak termasuk DKI Jakarta. Di wilayah Ibukota RI ini, masa puncak penularan tampaknya sudah berlalu. Saat ini terjadi trend penurunan, meski namun belum aman. Apalagi, tercatat sejumlah kasus baru yang cukup tinggi, meski itu bukan dari penularan lokal, melainkan para pekerja migran yang mendarat di bandara Soekarno-Hatta.

Pemberlakuan ketentuan Surat Ijin Keluar Masuk (SIKM) Jakarta secara ketat dan perpanjangan larangan mudik dan arus balik diharapkan bisa menekan penularan lebih rendah lagi. Kapan Jakarta siap menuju kenormalan baru, bisa saja tidak lama lagi.

Daerah-daerah lain berbeda kondisinya. Di Jawa Timur, misalnya, penularan Covid dipandang masih tinggi. Beberapa ahli bahkan mengatakan Jatim masih menunju puncak, yang diprediksi baru tercapai minggu ketiga atau keempat Juni nanti. Artinya, masa transisi pun masih cukup lama lagi.

Bagaimanapun keadaannya, kita tetap optimistis masa transisi menuju kondisi normal baru akan segera datang. Hal itu bergantung pada kesiapan pemerintah dan keseriusannya mengendalikan penyebaran virus, juga kondisi kesadaran dan kedisiplinan warga. Semakin disiplin masyarakat, lebih cepat kita memasuki masa transisi dan hidup normal kembali.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load