Media Sosial versus Media Arus Utama

Sabtu , 30 Mei 2020 | 10:55
Media Sosial versus Media Arus Utama
Sumber Foto dok/ist
Ilustrasi media sosial
POPULER

ADA pertanyaan singkat namun penting bagi media dan wartawan di era digital seperti sekarang ini?

Bagaimana media arus utama dapat bertahan dari gempuran media sosial yang digambarkan sudah tumpah-ruah mengisi semua sudut kehidupan masyarakat di abad sekarang ini.

Jujur saja dalam beberapa hal, media arus utama terkadang tertinggal jauh dari isu yang disodorkan media sosial. Keterbatasan SDM terutama reporter menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Di zaman informasionalisme guncing diangkat ke tingkat tinggi dalam layanan pesan singkat, short message service, SMS dan terutama Twitter yang tidak lain berarti medium berceloteh, bergunjing, meski sekaligus juga menjadi garis depan revolusi informasi yakni "berita rakyat untuk rakyat, rakyat untuk pemimpin, pemimpin untuk rakyat dan pemimpin untuk pemimpin", di mana pun dan kapan pun.

Dalam konteks ini maka kemudian pengertian berita menjadi bias. Jauh dari kata sakral: diagung-agungkan dan menjadi corong suara rakyat. Maka yang terjadi kemudian: berita tidak lebih dari big talk on small things maka guncing dalam Twitter dan semacamnya sangat sering menjadi small talk on small things. Kondisi itu dibarengi pula dengan penyertaan gambar-gambar foto yang menggiurkan dan terkadang di luar kewajaran.

Parahnya lagi kondisi itulah yang sangat disukai mereka yang menamakan dirinya kaum milenial. Mereka happy banget dan menikmati itu. Maka mereka pun berlomba-lomba untuk eksis di media sosial.

Banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Di antaranya faktor kecepatan yang bisa langsung direspon dalam pola pikir instan. Reaksi sesaat terhadap rangsangan seketika. Mereka tak berpikir panjang. Jari menulis berita di media sosial lebih tergantung dari kecepatan jari ketimbang ketelatenan berpikir. Salah belakangan!

Lainnya, deep thinking membuat waktu karena jauh diperlukan bukan menyelami soal sampai akar-akarnya. Cukup asal tahu saja yang penting tidak ketinggalan informasi. Sudah cukup itu! Akhirnya yang terjadi informasi tidak bisa dibedakan lagi: mana informasi mana kebisingan (noise) atau mana gabah mana sekam. Tragis memang!

Kondisi itu jauh berbeda pada media arus utama. Ada jenjang penurunan naskah berita sampai tayang apalagi di media cetak. Beda dengan di media online karena di media yang satu ini gate keeper hanya berada di editor. Lalu berita langsung dicemplung dan naik di media online.

Faktor kecepatan agar menjadi media online yang pertama mengabarkan kejadian atau peristiwa itu terkadang menjadi senjata makan tuan bagi media online. Kecepatan berita mengalahkan akurasi fakta.

Di sini sebenarnya kesalahan di media online padahal hakiki dari jurnalisme adalah verifikasi fakta-fakta yang diperoleh reporter di lapangan. Ada juga cover both side yang kadang pura-pura dilupakan demi speed berita dan agar segera publik tahu peristiwa atau kejadian yang dilaporkan.

Kesalahan bisa belakangan apalagi untuk breaking news. Yang penting berita naik dulu. Pola pikir yang demikian sudah waktunya diubah karena media bertanggungjawab atas semua berita yang ditayangkan.

Belum ada lagi apa yang dinamakan ideologi media yang menjadi pijakan media untuk membuat framing atas kejadian atau peristiwa yang diliput reporter yang nantinya ditayangkan.

Dalam konteks ini maka kemudian yang terjadi berita bukan lagi sesuatu yang lengkap dan terbentuk secara penuh - berita diciptakan. Berita dikonstruksi sejurus dengan ideologi media yang bersangkutan.

Bukan rahasia umum lagi bahwa organisasi berita menetapkan suatu agenda topik yang membentuk berita. Padahal ini bertolak-belakang dengan ide awal bahwa berita adalah sekumpulan peristiwa dan fakta yang mengandung kebenaran dari "luar sana".

Singkat kata: berita di media arus utama dapat cenderung terhadap pandangan yang lain, pada satu interpretasi terhadap pelbagai peristiwa daripada interpretasi yang lain. Dan itu bisa saja terjadi karena tidak ada komunikasi yang dapat benar-benar netral.

Agaknya persoalan ini menjadi catatan penting bagi pengelola media arus utama. Silakan merenung panjang!(E-2)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load