Hidup Berdampingan Dengan Corona

Jumat , 29 Mei 2020 | 11:42
Hidup Berdampingan Dengan Corona
Sumber Foto Kompasiana.com
Ilustrasi
POPULER

Oleh Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi

Baru-baru ini Dr. Michael Ryan Executive Director WHO menegaskan bahwa virus corona akan tetap ada untuk selamanya. Itu berarti virus Corona yang mematikan masih akan ada di antara kita dan di dekat kita. Bahayanya masih mengancam kita di kantor, masjid dan pasar, karena karyawan akan kembali bekerja, masjid akan segera dipenuhi jamaahnya dan pasar akan disesaki para penjual dan pembelinya.

Perasaan bahwa dunia kembali sehat, sebenarnya hanyalah ilusi. Pertanyaan kapan semuanya akan menjadi normal kembali? Semakin kita mempertanyakannya semakin kita bertambah kecewa dan akhirnya berubah menjadi stress

Ternyata karantina mandiri bukanlah satu-satunya solusi permanen yang paling tepat. Memang benar bahwa mengkarantina orang di rumah mereka, minimal bisa mengurangi kemungkinan tertular virus, tetapi juga mengurangi kejahatan, kecelakaan mobil dan semacamnya. Meskipun itu bukan solusi, melainkan cara untuk melewati fase transisi.

Sebagian besar pemerintah di dunia kini mulai secara bertahap mencabut pembatasan, seperti karantina wilayah, lockdown, PSBB dan sejenisnya. Diharapkan dalam beberapa waktu ke depan kehidupan akan kembali normal. Paling tidak masuk pada fase New Normal.

Di Indonesia, pemerintah juga tengah mengupayakan pemberlakuan fase New Normal tersebut. Pemerintah juga ingin memperoleh masukan, respon dan saran dari berbagai elemen masyarakat agar kebijakan yang akan ditempuh bisa berjalan dengan baik. Beberapa organisasi besar seperti PP Muhammadiyah telah meminta penjelasan komprehensif dan jaminan pemerintah terkait resiko pemberlakuan new normal.

Hal tersebut bisa dipahami karena saat ini public masih bingung. Di satu pihak BNPB menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 masih belum dapat diatasi. Tetapi pemerintah pusat justru ingin melonggarkan aturan. Bahkan mengajak relaksasi.

Masjid dan Mall

Sebagian masyarakat masih mempertanyaakan kenapa orang masuk masjid diatur ketat, sedangkan orang masuk pasar tidak ada pengaturan seketat orang tempat ibadah. Seakan-akan ada pembenaran terhadap kebijakan pemerintah yang lebih memperdulikan kemajuan ekonomi dari pada memperhatikan mental spiritual masyarakat. Bukankah motto +62, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”?. Apalagi penyebutan jiwa didahulukan daripada badan, sudah barangtentu ada maksud di balik itu.

Kalaulah MRT, mall dan sarana publik lainnya diperiksa kesiapannya oleh Presiden, lalu siapa yang akan memeriksa kesiapan mesjid dan sarana ibadah lainnya. Paling tidak, sampai dengan akhir Mei 2020, umat Islam sudah 12 kali tidak Jumatan di mesjid, Lalu siapa yang akan menginstruksikan masjid sudah bisa dipakai Jumatan dan berbagai peribadatan lainnya sudah bisa digunakan? Apakah Presiden, Pengurus MUI, PBNU, PP Muhammadiyah, atau menunggu fatwa ulama Al-Azhar? Atau dibiarkan masyarakat kebingungan sehingga mereka mau membukanya masing-masing.

Mengatur Layar

Sejatinya, setelah karantina ditinggalkan dan epidemi masih berlanjut, yang dapat mengurangi resiko covid-19 adalah kesadaran pribadi masing-masing akan bahaya itu sendiri, dan menanganinya dengan kehati-hatian yang diperlukan. Seperti kecelakaan mobil, kita tidak bisa berhenti mengemudi atau menyeberang jalan, agar kita tidak celaka, tetapi kita harus memakai sabuk pengaman dan mematuhi instruksi keselamatan.

WHO dan pemerintah sudah menginstruksikan dan menginformasikan bahwa senjata utama untuk memerangi covid-19 antara lain mencuci tangan setidaknya dua puluh detik. Kenapa, seolah-olah virus mengerti arti sepuluh atau dua puluh detik? Intruksi dan informasi ini harus disampaikan kepada masyarakat sesuai dengan daya nalar mereka, sehingga keperluan mencuci tangan masuk ke otak bawah sadar mereka, lalu perilaku itu menjadi kebiasaan mereka.

Lima langkah pencegahan covid-19, yaitu cuci tangan, gunakan masker, hindari menyentuh muka, terutama mata, hidung dan mulut, jaga jarak dengan orang lain setidaknya satu meter, dan akhirnya jika anda merasakan demam tinggi, dan batuk, anda harus memeriksa atau mengisolasi diri anda, harus bisa dipatuhi oleh semua warga negara dan dilaksanakan dengan sukarela.

Menurut Jimmy Dean: “Saya tidak bisa mengubah arah angin, tetapi saya bisa mengatur layar saya untuk selalu mencapai tujuan saya. ” Jadi tidak ada pilihan lagi… Apakah kita akan menyesuaikan diri kita dengan gaya hidup New Normal, yang kita rasakan tidak normal ini atau kita tidak akan survive dan akan mati terkena infeksi Corona. Mungkin ada orang yang tidak sabar dan akhirnya kembali ke gaya hidup yang lama. Itu akan membahayakan dirinya juga membahayakan orang lain. Berhati-hatilah….

Yang bisa kita lakukan adalah… sesuaikanlah diri kita dan keluarga kita masing-masing dengan protokol kesehatan dalam setiap kita bertindak, biasakanlah hidup di dunia New Normal ini dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang mungkin pada awalnya membuat kita tidak nyaman. Tapi percayalah, bila kita biasakan… semuanya akan kembali seperti normal. Semoga kita bisa.

(Penulis adalah Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu BudayaUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load