Sikap Keras AS Bangkitkan Nasionalisme China

Jumat , 22 Mei 2020 | 12:25
Sikap Keras AS Bangkitkan Nasionalisme China
Sumber Foto dok/Reuters
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

PENGARUH Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat di dunia tengah menurun. Hal itu yang antara lain diungkapkan Menteri Pertahanan Malaysia Muhammad Sabu beberapa waktu lalu. Kemerosotan pengaruh itu makin diperparah dengan pembuatan One Belt One Road (OBOR) yang menghubungkan China dengan puluhan negara di Asia, Eropa dan Afrika.

Berkenaan dengan perkembangan tersebut sangat menarik untuk melihat kebijaksanaan Washington. Bagaimana melemahkan China yang dianggap sebagai penyebab penurunan tersebut?

Presiden Donald Trump menekan melalui dua aspek. Pertama, pada sektor perdagangan dalam mana Amerika Serikat mengalami defisit sebab itu menuntut China memberi konsesi. Kedua, menuduh China lalai mengatasi awal pandemi virus corona (Covid-19) yang bermula di Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China Tenggara.

Diperkirakan dua aspek itu hanya merupakan sasaran antara. Tujuan utamanya adalah meruntuhkan China agar tidak menjadi pesaing, seperti Rusia dewasa ini. Caranya, melalui tekanan militer seraya membangkitkan gerakan anti-China di Asia Tenggara.

Washington berkepentingan menciptakan konflik militer lantaran ekonominya sangat ditopang industri yang menghasilkan produk-produk yang secara langsung maupun tidak langsung untuk keperluan militer. Kabarnya sayap kanan di kalangan pemerintah tengah mendorong munculnya Perang Dingin Baru.

Presiden Dwight David Eisenhower dalam pidato perpisahan pada 17 Januari 1961 mengingatkan bangsanya tentang pengaruh negatif military-industrial complex.

Analisisnya ini benar karena sampai sekarang, Amerika Serikat selalu menciptakan konflik. Hal ini menyebabkan anggaran militer AS meningkat, sedangkan negara-negara terlibat konflik membeli peralatan militer buatan AS.

Konflik selalu jauh dari batas negara seperti di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Dewasa ini Venezuela dan Iran sedang diojok-ojok. China juga demikian melalui eksploitasi isu Suku Uighur dan masalah Hong Kong. Eskalasi konflik dengan China kemungkinan meningkat dalam beberapa waktu mendatang.

Konflik Dagang Mereda?

Sepertinya ketegangan di sektor perdagangan mereda. Para perunding kedua pihak menandatangani Kesepakatan Perdagangan Fase 1 di Washington DC pada 1 Mei 2020. Inti kesepakatan adalah China berjanji membeli tambahan produk pertanian AS serta barang dan jasa lainnya sekitar USD200 miliar selama dua tahun.

Kedua negara juga sepakat memisahkan isu perdagangan dengan isu kesehatan. Para perunding setuju tetap membuka jalur koordinasi dan komunikasi, sekalipun terjadi ketegangan terkait isu Covid-19. Di samping, menyepakati adanya perundingan kesepakatan tahap II.

Data kepabeanan China mengungkapkan, China mengalami surplus US$ 38,73 miliar dalam perdagangan AS periode Januari hingga November 2020. Padahal, Beijing sudah banyak memberi konsesi, penyebabnya kemungkinan karena produk China lebih kompetitif dan ditopang "permainan" mata uang.

Virus Wuhan

Amerika Serikat menuduh penyakit yang disebabkan virus corona (Covid-19) mulanya merebak di pasar grosir makanan laut di Wuhan, Provinsi, Hubei. Dari lokasi ini, virus yang bisa menular dari manusia ke manusia itu tersebar ke seluruh dunia, 223 negara dan teritori dalam hitungan hari.

Menurut data Worldmeter per 21 Mei 2020 sejumlah 5.14.952 terpapar virus Covid-19, meninggal 329.997 dan sembuh 2.034.790 orang. Terbanyak di Amerika Serikat dengan 1.593.039 terpapar, 94.941 tewas dan 370.812 orang sembuh.

Amerika Serikat menuduh virus berasal dari laboratorium virologi di Xiaohongshan, distrik Wuchang, Wuhan. Namun menurut Jonna Mazet, periset dari Universitas California di Davos, yang pernah bekerja di Laboratorium Wuhan seperti dikutip Business Insider menyatakan sangat tidak mungkin terjadi kebocoran karena pengamanan sangat ketat.

Dalam perkembangan baru terungkap, ternyata AS mendanai penelitian di laboratorium virologi Wuhan selama bertahun-tahun. Jumlah dana mencapai US$3,7 juta.

Sementara Shi Zhengli, yang pernah meriset virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV), menyatakan kepada majalah Scientific American bahwa contoh virus yang ada di laboratorium tidak sama dengan Covid-19. Jadi darimana virus  corona ini berasal?

Angkatan Darat Amerika Serikat mempunyai laboratorium biologi di Fort Detrick, Fredrick, negara bagian Maryland dekat Washington DC. Laboratorium yang mempelajari berbagai virus termasuk virus penyebab Ebola dan cacar, ditutup pada Agustus 2019. Bersamaan dengan merebaknya penyakit influenza versi baru di AS dengan gejala-gejala yang berbeda dari penyakit flu terdahulu.

Israel juga dikabarkan mempunyai laboratorium virologi yang berada di bawah Otoritas Akreditasi Laboratorium Israel. Seperti Laboratorium Klinik Rumah Sakit Universitas Hadassah yang luasnya mencapai 2.400 meter persegi. Laboratorium ini meriset berbagai jenis penyakit flu.

Sejauh ini belum diketahui secara pasti sumber penyebab Covid-19. Untuk sementara kelelawar Afrika menjadi penyebabnya. Kelelawar itu menggigit trenggiling yang kemudian dijual di Pasar Wuhan.

Yang membingungkan korban pertama, seorang wanita, dideteksi di Wuhan pada Oktober 2019 tetapi dia mengaku belum pernah ke Pasar Wuhan. Tudingan kemudian tertuju kepada lima tentara AS, dari jumlah 300 tentara AS, yang mengikuti di Olympiade Militer Dunia di Wuhan pada 18-27 Oktober 2019. Kelimanya diduga sejak dari negaranya sudah terpapar Covid-19.

Peran WHO

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan dukungan 122 negara pada Senin 18 Mei 2020 mengeluarkan rancangan resolusi yang menyerukan penyelidikan tidak berpihak mengenai wabah Covid-19. Pernyataan WHO itu tidak menyebut China sebagai secara spesifik sebagai sumber virus dan sejak awal gagal menangani meluasnya virus tersebut.

Rancangan tersebut dinilai kelompok garis keras di Australia sebagai hanya "menggugah selera". Mereka menyesalkan sikap PM Scott Morrison dan Menlu Marise Payne yang lebih menyukai seruan WHO tersebut.

Sikap kedua petinggi cenderung melunak sebab sebelumnya menyerukan penyelidikan asal mula Covid-19. Australia bersama AS bersikap keras dan malahan satu kapal perangnya HMAS Paramatta bergabung dengan kapal-kapal AS di Laut China Selatan.

Gegara sikap keras itu, China menaikkan tarif hingga 80,5 persen atas impor biji-bijian dari Australia. China berdalih kenaikan itu disebabkan pemerintah Australia melakukan dumping dan dumping. Kenaikan berlaku mulai Selasa, 19 Mei 2020 dan membuat para pengusaha Australia harus mencari pasar baru.

China Membantu Pembangunan

Dalam perkembangan yang sama, China menjanjikan bantuan US$2 miliar selama dua tahun untuk membantu pembangunan ekonomi-sosial di negara-negara yang terdampak Covid-19. Presiden Xi Jinping menekankan bahwa bantuan tersebut lebih diutamakan untuk negara-negara berkembang.

Dalam pidato pada pembukaan sidang ke-73 WHO Senin lalu, Xi secara virtual mengutarakan enam usul untuk mengendalikan wabah Covid-19. Keenamnya adalah melakukan pengawasan, menghentikan penyebaran virus, dan menghentikan transmisi lintas batas sesegera mungkin. Mendesak dunia untuk memberikan dukungan yang lebih besar bagi Afrika, sebagai negara berkembang dengan sistem kesehatan masyarakat yang lebih lemah.

Nasionalisme China Akan Bangkit

Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew pernah menyatakan China memerlukan waktu 30 tahun untuk mengalahkan Amerika Serikat. China saat ini cenderung berkompetisi dibandingkan dengan tujuan menggeser dominasi Amerika Serikat.

Bagaimanapun China masih memerlukan Amerika Serikat untuk menopang pertumbuhan ekonominya. Bila China terus ditekan maka sikap nasionalisme akan bangkit, ujar Lee ketika diwawancarai Graham Allison cs beberapa tahun lalu. Allison saat itu menjadi Direktur John F. Kennedy School of Government, Harvard University.

Menurut data yang dibuat Universitas Brown, pemerintah Amerika Serikat menghabiskan US$1,1 Triliun dolar untuk perang yang mahal di Irak selama tahun 2003-2010. Sejumlah US$757, 8 miliar digunakan secara langsung oleh Pentagon.

Di Afghanistan selama 18 tahun, sejak 2001-2019, jumlah dana yang dihabiskan mencapai US$2 Triiliun. Sebanyak 2.400 personil militer AS dan lebih dari 38 ribu penduduk sipil Afghanistan tewas, ungkap Sarh Al Mukhtar dan Rod Nordland dalam artikelnya di New York Times, Desember tahun lalu.

Hal ini merusak program pelaksanaan soft-power USAID di berbagai penjuru dunia, serta merusak program kesejahteraan di dalam negeri, seperti Medicaid. Adapun China membelanjakan US$90 miliar untuk program OBOR.

Anggaran yang sangat besar dalam kedua perang itu menggaris bawahi pernyataan Eisenhower tentang dampak negatif meluasnya peran industri militer dalam pemerintahan. Eisenhower adalah jenderal legendaris dalam Perang Dunia II dan faham tentang pahitnya perang. Ironisnya presiden dari kalangan sipil yang banyak melibatkan negara dalam konflik.

Memperhatikan Dalam Negeri

Kemerosotan pengaruh AS di dunia dewasa ini memang disebabkan kehadiran China hingga pemerintah AS harus berhati-hati dalam memiliki kebijaksanaan. Sebetulnya, para pemilih calon-calon dalam Pilpres 2016 menginginkan presiden yang peduli situasi di dalam negeri.

Para pemilih ingin agar pemerintah belajar dari kegagalan Inggris yang lebih memperhatikan pengaruhnya di dunia, dibandingkan kesejahteraan di dalam negeri. Inggris pada 1950-an hingga 1970-an terlibat dalam berbagai konflik di Timur Tengah, Afrika hingga Asia Tenggara yang berakhir dengan kehilangan jajahan, aset dan nyawa. Saat itu, pemerintah Inggris tidak memprioritaskan kesejahteraan di dalam negeri.

Diplomasi Dua Jalur

Dewasa ini China melawan setiap tindakan yang memojokannya. Bila Presiden Xi Jinping berbicara dalam nada yang diplomatis, tetapi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang, China menilai "menyerang" negeri itu tidak akan mampu mengembalikan waktu dan nyawa karena Covid-19.

Pernyataan Shuang tersebut merupakan reaksi atas kecaman negara lain, termasuk rencana 5.000 warga AS mengajukan class action ke China. Di samping rencana Israel dan AS yang akan mengajukan ganti rugi triliunan dolar. Adapun Australia berniat membawa kenaikan tarif oleh China ke WTO.

Adapun China Daily mengungkapkan China tidak pernah menuntut Amerika Serikat sebab flu burung (H1N1) yang disebabkan negara itu. Flu ini menyebar di 214 negara pada tahun 2009 yang menewaskan 200 ribu orang. Tidak ada yang menuntut ganti rugi kepada AS.

Perilaku Presiden AS

Dunia menunggu apa yang akan dilakukan Trump untuk melemahkan pengaruh China dan membuatnya terpilih kembali pada November 2020. Presiden George W Bush tidak ragu menyerang negara lemah seperti Afghanistan dan Irak walaupun kemudian tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah massal tak terbukti.

Begitupun Presiden Barack Obama yang dengan tenang melihat beberapa orang anggota Navy Seal memberondong mati Osama bin Laden di Abbotabad, Pakistan pada 2 Mei 211. Laden disebut dalang peristiwa penghancuran gedung kembar WTO pada 11 September 2001.

Obama terpilih untuk kedua kali pada 6 November 2012 yang antara disebabkan terbunuhnya bin Laden itu. Belakangan terungkap keluarga Bin Laden memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Bush. Kakak tertua Osama yakni Salem pada 1970-an, bersama George Walker Bush mendirikan perusahaan minyak Arbusto Energy, di negara bagian Texas, tempat kelahiran Bush, ungkap American Free Press.

Presiden Trump telah memerintahkan gugus tugas Armada Ketujuh berlayar di Laut China Selatan dan Selat Taiwan. Sementara pesawat pembom jarak jauh B-1 Lancer yang mampu membawa bom nuklir terbang dari pangkalan udara Ellsworth di Dakota Selatan, ke Laut China Selatan, 3 Mei lalu. Penerbangan selama 32 jam itu sepertinya untuk mengenali medan.

Angkatan Udara AS juga telah memindahkan empat pesawat pembom berat B-1 bersama 900 personil di pangkalan udara Anderson, Guam. Sebelumnya keempat pesawat dan personilnya berpangkalan di Dyess, Texas.

Trump menghadapi China yang lebih kuat dari Afghanistan, Irak, Syria, maupun Libya dalam aspek militer dan cadangan devisa. Rakyat China mempunyai kebanggaan nasional sejak ribuan tahun lalu, saat Amerika Serikat lebih banyak dihuni bison. Rakyat China juga selalu teringat ketika mereka dihinakan dalam Perang Candu I dan 2 pada 1839-1842 dan 1856-1860. Ketika itu Inggris menyelundupkan dari India ke China, namun para tentara Dinasti Qing menyegel gudang dan membuang candu ke laut.

Terjadi perang yang berakhir dengan kekalahan China. Berdasarkan perjanjian Perjanjian Nanjing dan Perjanjian Tianjin, Hong Kong, Macau, dan Taiwan diserahkan kepada Inggris, Prancis, dan Portugis. Perjanjian itu sangat memalukan dan diingat sampai sekarang. Jadi mana mungkin China mau tunduk lagi kepada Trump dan bangsa-bangsa Barat lainnya.(sjarifuddin)

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load