Puasa dan Lebaran

Kamis , 21 Mei 2020 | 10:00
Puasa dan Lebaran
Sumber Foto dok/Antara/Zarqoni Maksum
Pelaksanaan Shalat Id di Masjid Istiqlal Jakarta.

BULAN Ramadhan kali ini dalam kondisi yang berbeda. Pandemi Covid-19 melanda dunia. Bahkan, di negeri ini dalam tahap yang tampak semakin meningkat. Umat Islam menjalani ibadah puasa dalam suasana untuk mencegah penularan, diharapkan agar senantiasa di dalam rumah. Keadaan demikian dapat diambil sisi positifnya.

Puasa adalah ibadah yang diamanatkan oleh Tuhan guna meningkatkan ketaqwaan. Puasa adalah amal melaksanakan perintah Tuhan yang tidak terlihat fisik oleh individu lain, sebagaimana melakukan sholat, menyampaikan zakat, pergi haji, bahkan mengucapkan kalimat syahadat. Ibadah lain tersebut terlihat dan terdengar secara nyata oleh orang lain. Dengan demikian, puasa adalah amalan ibadah, hanya Tuhan yang mengetahui kebenarannya.

Terkait dengan ibadah ‘’di rumah saja’’ dapat diambil hikmahnya, secara filosofis dalam melaksanakan ibadah puasa beserta berbagai ibadah penyerta yang dianjurkan-Nya, berpeluang meningkatkan komunikasi yang berangkat dari nurani, ihlas, karena Allah. Bukan terdorong oleh semangat dilihat oleh tetangga, teman sekerja, atau pribadi lainnya. Maka ketaqwaan yang ada, meningkatkan kualitasnya, betul-betul karena Allah, lillahi ta’ala.

Lebaran  

Apabila melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan benar, dijanjikan terhapus segala dosa sebelumnya. Namun tersisa asumsi pertanyaan, mengenai dosa yang bersumber dari kekhilafan atau kesalahan yang menyinggung atau menyakiti orang lain. Untuk menyempurnaan diri agar terbersih dari dosa, menjadi fitrah, suci, maka dalam tradisi Nusantara, setelah Ramadhan di awal bulan Syawal ditambahkan, ‘’memohon maaf lahir dan batin’’.

Tradisi awal, di zaman Rasulullah, setelah Ramadhan para sahabat banyak mengucap takbir, berpakaian yang terbaik, dan saling mengucap ‘’taqoballahu minna wa minkum’’ - yang mengandung arti, semoga Allah mengabulkan ibadah (Ramadhan) kita. Kultur Islam kemudian menambah dengan ucapan yang konon merupakan bagian dari dendang untuk kaum wanita di zaman Andalusia, ditulis oleh  penyair Stafiyuddin Al-Huli, berbunyi: minal ‘aidin wal faizin, yang berarti - semoga kita tergolong orang yang kembali (bersih) dan berhasil (dalam berpuasa).

Di Indonesia banyak salah kaprah, diterjemahkan sebagai ‘’mohon maaf lahir batin’’. Era berikutnya ada ucapan lain, yakni ‘’kullu ammin wa antum bi khoir’’, yang mempunyai arti - semoga kita setiap tahun dalam kebaikan. Budaya komunikasi ini kemudian diwadahi secara massive berupa pesta Halal Bihalal, yang konon di awali oleh Raja Mataram, KGPAA Mangkunegara I, atau Pangeran Sambernyawa.

Pertemuan kebersamaan ini juga dimanfaatkan oleh Presiden Soekarno untuk menambah keguyuban para tokoh bangsa pada 1946.  Kultur Lebaran kemudian membawa ekses, yaitu mewujudkan suasana pesta yang mewah dan hedonis, rawan untuk menjadi ajang seremonial yang tidak murah dan basa-basi. 

Terkait dengan kondisi saat ini guna menghindari bertambah merebaknya pandemic Covid-19, kewajiban social distancing, bisa diambil sisi positifnya, guna meningkatkan kualitas berlebaran, mengurangi ekses. 

Dengan Lebaran ‘’di rumah saja’’, para keluarga bisa tetap mengucap takbir, dan berdoa kepada Allah dengan hati nurani penuh penghayatan. Semoga ibadahnya di bulan Ramadhan diterima, serta menjadi insan yang kembali suci dari dosa. Permohonan maaf kepada keluarga lain atau para sahabat, dapat disampaikan melalui whatsApp, videocall atau media sosial lainnya.

Semoga para sahabat yang telah beribadah puasa dan bersyukur dalam Ied Mabarak, dapat mengambil hikmah suasana prihatin ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqoballahu minna wa minkum, minal ‘aidin wal faizin, kullu ammin wa antum bi khoir.(Dr Soen'an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Dosen IISIP Jakarta. 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load