Manakah Sumber Ideal Pemimpin di Masa Covid-19?

Jumat , 15 Mei 2020 | 14:09
Manakah Sumber Ideal  Pemimpin di Masa Covid-19?
Sumber Foto : Istimewa
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

PERTANYAAN ini telah menjadi perdebatan sepanjang zaman. Mana yang lebih baik, pemimpin yang berasal dari keturunan atau yang dibentuk? 
Ternyata tak ada jawaban yang tegas. Teori tentang  keturunan, lingkungan dan kejiwaan sosial yang terkait kepemimpinan cenderung  bersifat spesifik.

Barangkali yang tepat adalah bila semua unsur digabungkan ditambah dengan kecepatan yang bersangkutan untuk belajar atau bercermin dari pengalaman.

Pemimpin Dibentuk

Organisasi militer dikenal terstruktur, teratur dan rapih. Ini dimungkinkan karena personilnya sejak mula dibentuk agar memiliki pola tindak dan pola pikir yang sama serta diikat dengan disiplin. A...kata Markas Besar, maka ..A..pula kata Koramil.
Pemuda yang berniat menjadi perwira harus seleksi administratif, mental/ideologi, psikologi, kesamaptaan dan intelektualitas di tingkat komando daerah militer. Apabila  lulus, dikirim ke akademi militer untuk menjalani seleksi tahap akhir.

Di sini Panglima TNI yang turun tangan langsung menyeleksi. Dapat dipastikan ada gugur, sekalipun jumlahnya tidak sebanyak pada seleksi di kodam.

Para lulusan seleksi itu telah berstatus sebagai calon prajurit taruna. Mereka kemudian ‘dicuci’ selama tiga bulan dengan berbagai materi yang menghasilkan pribadi khas militer. Berdisiplin.

Tak ada keraguan dalam bersikap dan bertindak. Menerapkan kebiasaan tentara mulai dari bangun sampai tidur lagi. NKRI harga mati!

Lolos dari situ, maka yang bersangkutan dididik selama empat tahun lagi. Materi pendidikan serba lengkap karena terdiri dari pengetahuan umum, kemiliteran serta kegiatan lain untuk memperluas wawasan.

Sebenarnya sejak mulai pendidikan hingga selesai para taruna terus dipantau. Lulusan terbaik biasanya diberi kesempatan menjadi ajudan, terus berlanjut hingga koordinator staf pribadi dan komandan resimen taruna. Tujuannya supaya memahami kegiatan Kasad/Wakasad dan mengasah bakat kepemimpinan.

Secara umum para perwira menjalani rotasi ke pendidikan, teritorial dan staf untuk pengembangan wawasan dan peningkatan karir. Di dalam dan di luar negeri.

Tidak semua dapat menjadi kepala staf atau panglima TNI, namun minimal sudah menjadi pemimpin unit, regu, pleton atau batalion. Setelah itu beranjak menjadi komandan distrik miiter atau Danrem yang mengelola sejumlah batalion.

Para Pangdam lazimnya pernah menempati posisi Dandim atau Danrem. Mengikuti Sesko, Sesko –TNI dan Lemhanas. Lemhanas adalah ajang pendidikan dimana para orang-orang berbakat dari kalangan sipil dan militer dengan tujuan a.l. menyamakan persepsi tentang berbagai permasalahan.

Yang menarik, para perwira itu juga berpindah-pindah daerah penugasan.  Hal yang menyebabkan mereka memahami kondisi Indonesia.
Sesungguhnyalah, perwira-perwira militer telah mempunyai bekal yang mumpuni.

Ia memiliki leadership. Memahami masalah-masalah nasional. Mempunyai jejaring sampai ke pelosok.Kemampuan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai bekal yang mumpuni. Ketika masih taruna, ia memimpin komandan korps divisi taruna seluruh akademi TNI. Sampai sampai sekarang belum ada yang menyamai prestasi ini.

Di akhir pendidikan SBY meraih penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama karena berprestasi di bidang akademik, jasmani dan kepribadian.

SBY juga menjalani pendidikan di luar negeri hingga mendapat brevet Ranger dan Airborne. Mengikuti US Army Command and General Staff College. Mendapat gelar MA dari Webster University dan Doktor dari IPB.

Selain berpangkat Letjen, SBY juga pernah menempati jabatan posisi Menteri Pertambangan dan Menkopolkam.

Keturunan dan Pendidikan

Seorang pemimpin cenderung mempersiapkan pengganti dari lingkungan dekat. Seseorang yang segagasan dan bisa dipercaya meneruskan atau mengamankan legacy atau warisannya.

Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew dan istrinya, Kwa Geok Choo,  mempersiapkan Lee  Hsien Loong dan adik-adiknya dengan  keras  dan penuh disiplin. Tak heran bila semuanya sukses.

Adik lelaki Lee Hsien Loong, Lee Hsien Yang, juga berkarir di militer dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Pernah menjabat Chief Executive Officer (CEO) Singapore Telecommunication Limited atau SingTel.

Dia juga pernah memimpin Otoritas Penerbangan Sipil Singapura.
Satu-satunya anak perempuan Lee Kuan Yew, Lee Wei Ling,  menjadi kepala Institut Ilmu Syaraf Nasional. Istri kedua Lee Hsien Loong, Ho Ching,  menjabat Direktur Eksekutif/CEO Temasek Holdings sejak 2004 sampai sekarang.

Lee Kuan Yew dikritik karena menjalankan pemerintahan secara otoriter dan nepotisme. Ternyata menempatkan anak-anaknya dan kawan lamanya pada posisi penting, telah memudahkan koordinasi serta pelaksanaan kebijaksanaan. Sekaligus memperoleh dukungan bila mengambil keputusan penting, seperti memecat koruptor dan membatasi aktifitas media.

Lee Hsien Loong meraih master dalam matematika di Universitas Cambridge dan dalam ilmu kebijaksanaan publik di John F.Kennedy School of Government, Universitas Harvard. 

Kemudian menjadi serdadu dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Aktif dalam partai Aksi Rakyat sebagai sekretaris jenderal.

Dalam periode pemerintahan PM Goh Chok Tong (1990-2004), Lee muda menduduki portofolio kunci seperti Kementerian Industri dan Perdagangan, Kementerian Keuangan dan Deputi Perdana Menteri (1990-2004).

Saat diangkat menjadi PM 16 tahun lalu, dia sudah siap dalam arti luas. Itu kelihatan dalam caranya menangani wabah Covid-19.

Keturunan dan Pengalaman

Berbagai informasi menyebutkan Kim Jong-un bersama adiknya Kim Yo Jong bersekolah di Bern, Swiss. Keduanya disebut mempunyai ‘ayah’ yang bekerja sebagai orang kedua di Kedubes Korea Utara.

Prestasinya di sekolah tak begitu bagus tapi Jong-un  suka basketball dan tergila-gila dengan Chicago Bulls. Tak heran bila dia mengundang Dennis Rodman, mitra Charles Jordan ke Pyongyang pada 2013.

Pengurus sekolah mengaku heran ketika Pak Un, nama samarannya, tiba-tiba kembali ke Pyongyang. Ada kemungkinan Kim Jong-il ingin mendidik langsung anak nomor duanya itu. Jong-un berayah Jong-il dengan ibu Ko Yong -hui yang wafat tahun 2004.

Kim Jong-un menjadi pemimpin Korea Utara dalam usia sangat muda, 28-29 tahun setelah ayahnya wafat tahun 2011. Terlalu muda untuk memimpin negara yang sejak berdiri menghadapi masalah rumit dan menegangkan.

Kim Jong-un digambarkan hidup dalam tekanan. Berusaha mempertahankan  kesetiaan lingkungan dekatnya.

Memelihara mood anti kapitalisme dan imperialisme di dalam negeri, meskipun dunia sudah berubah.

Dalam kaitan ini, Jong-un sepertinya mengikuti pesan Sun Tzu ....kamu harus lebih dekat dengan musuhmu agar kamu lebih waspada terhadap mereka. Musuh adalah mereka yang menginginkan kehancuranmu dengan memasang senyuman manis di wajahnya. Kalau kamu tidak bisa membedakan mana teman dan mana yang musuh, maka kamu sendiri yang bisa terluka.

Sebagai satu-satunya negara yang terisolir, Jong-un mempertahankan hubungan dengan Cina yang sudah  bergerak ke sistem ekonomi pasar. Berupaya membebaskan negaranya dari sanksi ekonomi AS. Menciptakan hubungan bertetangga baik dengan Korea Selatan.

Jong-un terbukti tangguh karena tidak memberi  konsesi apapun dalam dua kali KTT dengan Presiden Trump di Singapura  (12 Juni 2018) dan Hanoi (27-28 Februari 2019).

Menurutnya kegagalan kedua KTT disebabkan AS meminta negaranya membongkar semua fasilitas nuklir, bukan cuma yang di Yongbyon dan menghentikan semua uji coba senjata nuklir. Korea Utara juga ingin mempertahankan keamanan, kehormatan dan kesejahteraan.

Jong-un dikabarkan memberhentikan pejabat-pejabat yang menjembatani KTT dengan alasan, tidak mampu membujuk Amerika Serikat supaya memberi konsesi kepada Korea Utara.

Dalam kasus kepemimpinan di Korea Utara,  tampaknya lebih efektif bagi calon pemimpin untuk terjun langsung  Pendiri negara tersebut Kim Il-sung menerapkan pola terhadap Kim Jong-Il, yang melanjutkannya kepada Kim Jong-un. Kini Jong-un mengajak adiknya Kim Jo-yong.

Kim Jo-Yong diikutsertakan dalam perundingan tingkat tinggi. Ini memberinya manfaat yang tak mungkin diperoleh bila melulu mengikuti pendidikan formal.

Kesimpulan

Di negara demokrasi, presiden ditentukan dalam pemilihan umum yang melibatkan rakyat yang memenuhi syarat untuk memilih. Para calon saling  bersaing  dalam pendanaan dan kecerdasan.

Menjadi presiden juga menghadapi kenyataan tak ada lagi ruang untuk privacy. Khalayak mengamati setiap tingkah lakunya dan dengan cepat mengetahui bila ada yang janggal.

Sekurang-kurangnya tujuh presiden AS pikun karena pekerjaannya terlampau berat. Majalah Time belasan tahun lalu mengungkapkan, Presiden Ronald Wilson Reagan tertidur saat diberi penjelasan tentang materi Strategic Arms Limitation Talks (SALT). Reagan berusia 70 tahun ketika dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat tahun 1981.

Kehebatan seorang pemimpin diuji pada masa krisis, salah satunya adalah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Wabah ini tidak mengganggu fisik infrastruktur, tapi merusak sendi-sendi kenegaraan dan berbagai aspek kehidupan.

Mulanya aspek kesehatan yang terpengaruh. Kemudian perekonomian dalam arti luas. Bukan mustahil akan merambah aspek politik dan keamanan. Siapa tahu? (Sjarifuddin)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load