Pelaut Perikanan

Senin , 11 Mei 2020 | 06:45
Pelaut Perikanan
Sumber Foto dok/Jitunews.com
Ilustrasi pelaut perikanan.

VIRAL mengenai nasib pekerja di kapal ikan milik China menjadi heboh di media sosial. Bahkan, menjadi bahasan hangat di media massa. Keluhan yang muncul: lauk dari umpan penangkapan ikan, jam kerja yang sedikit istirahat, gaji yang rendan hingga jenazah yang dilarung ke laut. Segala yang terjadi tersebut memang bisa menjadi kontroversial.

Dari norma kehidupan dan kaidah hukum yang normal, bisa dianggap suatu eksploitasi, perbudakan atau perlakuan yang keterlaluan dan melanggar hak azasi manusia. Namun di sisi lain, profesi menangkap ikan di samudera memang suatu hal yang ‘’luar biasa’’. Karena itu, masyarakat Jepang walaupun termasuk pengkonsumsi ikan tertinggi di dunia tetapi melihat mata pencaharian nelayan dianggap sebagai profesi yang payah: kikken. kikui, kitanai, atau kasar, banyak bahaya dan kotor.

Penangkapan ikan di samudera yang menggunakan umpan, kemungkinan peralatan yang digunakan adalah long-line untuk menangkap tuna. Alat penangkapan ikan yang berupa tali berpelampung, disambung hingga sekitar 100 km ini bercabang tali yang diujungnya terikat pancing, sejumlah antara 1500-2000 mata pancing.

Pada setiap mata pancing ditaruh umpan, yang terbaik adalah saury atau bandeng, karena sisiknya mengkilat, sehingga di dalam laut terlihat jelas oleh ikan tuna yang suka memakannya. Di samping itu, dua jenis ikan tersebut antara kepala dan badannya tidak mudah terputus. Hanya sebagai umpan harganya lumayan mahal. Oleh karenanya, yang harganya miring, dipakai umpan ikan layang, dan untuk pancing yang dekat permukaan digunakan ikan lemuru. Kadang-kadang dipakai juga cumi-cumi.

Kalau yang dimaksud keluhan anak buah kapal (ABK) di kapal China tersebut diberi lauk umpan pancing ikan yakni bandeng, saury, lemuru, layang atau cumi, kiranya tidak terlalu buruk, dan bisa dipahami.

Penangkapan ikan menggunakan long-line berada di tengah samudera. Dari pelabuhan perikanan tempat kapal berangkat hingga area penangkapan ikan atau fishing ground, memakan waktu satu hingga dua minggu. Begitu juga perjalanan pulang membawa hasil tangkapnya, memerlukan waktu kurang-lebih sama. Adapun hari operasionalnya, sekitar satu atau dua bulan. Dalam perjalanan berangkat ke fishing ground, atau kembalinya, para ABK kebanyakan menganggur, tidak ada aktivitas.

Namun pada saat operasi penangkapan ikan, jam operasionalnya menyesuaikan dengan kebutuhan alat tangkap untuk memperoleh hasil yang maksimal, memakan waktu yang cukup panjang, yakni sekitar 16 jam.

Rangkaian pancing dipasang umpan satu-persatu sambil diulur masuk ke laut, disebut setting - biasanya pada jam 3.00 dinihari hingga sekitar jam 09.00 pagi. Rangkaian pancing tersebut didiamkan di dasar laut, dengan harapan umpan-umpannya dimangsa tuna atau ikan besar lainnya. Pada tengah hari sekitar jam 13.00 pancing mulai ditarik ke geladak kapal, dan ABK melepas ikan hasil tangkapan yang terpancing. Hauling ini berakhir bisa sampai menjelang tengah malam. Saat ini hasil tangkap dari sekitar 1800 mata pancing berumpan tadi sekitar 9 ekor ikan tuna, yang per ekor berbobot sekitar 30 kg.

Apabila melihat kondisi kerja seperti di atas, memang saat operasional menghendaki waktu kerja yang tidak pendek. Realitas seperti ini mungkin ditolerir menggunakan alasan, saat belum operasional penangkapan ikan, atau dalam perjalanan dari saat berangkat menuju fishing ground, dan saat kembali pulang, para ABK di kapal dalam kondisi ‘’nganggur’’, tanpa aktivitas.

Mengenai gaji atau upah yang diterima terlalu sedikit, biasanya merupakan ‘’taktik’’ pemilik kapal, menghindari korban ‘’kenakalan’’ ABK yang ketika sandar di pelabuhan lain, pindah kerja ke kapal lain perusahaan. Hal tersebut dikhawatirkan terjadi, bila dibayar langsung dengan upah penuh setiap bulannya. Jalan yang diambil oleh pemilik kapal, upah hanya diberikan sebagian dulu, sekadar uang pegangan saat singgah di pelabuhan lain. Kelak gajinya dibayar penuh setelah kembali ke pelabuhan pangkalan, tempat membongkar hasil tangkapan di lokasi perusahaan.

Yang terakhir, yakni permasalahan ABK meninggal, jenazahnya ‘’dibuang’’ atau dilarung ke laut, sebetulnya kemungkinannya dapat dimaklumi, sebagaimana dalam ILO (International Labor Organization), apabila ada ABK yang meninggal di tengah laut, dalam kapal yang tidak memiliki prasarana tempat penyimpanan mayat. Apalagi bila posisinya di fishing ground yang memerlukan beberapa hari menuju ke pelabuhan. Hanya sebaiknya pelarungan jenazah tadi disertai dengan adat atau tatanan yang sesuai dengan agama almarhum.

Uraian di atas hanya berupa persepsi ‘’khusnudhon’’, prasangka baik, mengenai kontroversi ABK kapal perikanan asal Indonesia di kapal China. Namun apabila kenyataan sebenarnya yang terjadi adalah eksploitasi atau penindasan yang tidak manusiawi, kita tentu sangat prihatin, mengharapkan Pemerintah bersikap tegas melindungi warga negara, serta menindak keras terhadap agen tenaga kerja yang mengirim pelaut perikanan tersebut.(Dr Soen'an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Dosen IISIP Jakarta.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load