Motif di Balik Sakitnya Kim Jong-un

Minggu , 26 April 2020 | 16:25
Motif di Balik Sakitnya Kim Jong-un
Sumber Foto dok/AFP
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un

DI TENGAH wabah Covid-19, tiba-tiba muncul berita pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un meninggal dunia. Magnitude kabar itu kemudian turun ketika disebutkan putra Kim Jong-il tersebut mengalami masalah besar setelah dioperasi. Artinya, masih hidup. Kim diduga menjalani operasi kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan pembuluh darah. Penyakit terkait dengan penyumbatan pembuluh ini biasanya karena yang bersangkutan kelebihan berat badan.

Berat badan Kim juga melebihi toleransi. Cara berjalannya, berbeda dengan mereka yang langsing. Dia diketahui suka merokok, misalnya saat meninjau pabrik karoseri bus kota. Kim sering berkunjung ke berbagai tempat. Disambut dengan histeris malahan khalayak sampai menangis. Kebiasaan yang mengurangi waktu istirahatnya.

Di mana Kim Dirawat?

Dia disebut dirawat di Rumah Sakit Hyang San, rumah sakit khusus diperuntukkan bagi keluarga pemimpin Korea Utara. Rumah sakit ini dibangun pada 1994 setelah kematian kakeknya, Kim Il Sung. Penyebab kematian Kim tua itu disebabkan aliran darah ke jantung terhenti dan di saat bersamaan mengalami serangan jantung.

Naas, helikopter yang membawanya tidak bisa tinggal landas karena hujan deras. Kim meninggal saat masih di dalam Kompleks Vila Hyang San, tidak jauh dari Pyongyang. Setelah kematian itu diputuskan membangun rumah sakit modern dengan peralatan buatan Jepang dan Jerman. Dokternya terlebih dulu dididik di klinik jantung dan pembuluh darah rumah sakit Kim Mo Yoo. Kemudian mengikuti pelatihan di Jerman.

Para dokter yang dianggap terbaik dari yang terbaik itu juga mampu mengoperasikan peralatan sistem pernapasan. Setiap bulan mereka kerja di klinik untuk meningkatkan kemampuan. Mungkin karena kedudukannya sangat penting, para dokter itu mendapat pengawalan khusus.

Warisan Lama

Ketegangan permanen di Semenanjung Korea merupakan peninggalan Perang Dingin antara Blok Timur dengan Blok Barat. Perang yang berlandaskan motif ekonomi dan geopolitik, berselimut ideologi demokrasi-kapitalis melawan komunis dan pengelolaan negara yang serba terpusat.

Perang Korea yang melibatkan yang melibatkan Amerika Serikat dan sejumlah anggota PBB melawan China yang didukung Uni Soviet (kini Rusia) berlangsung mulai 25 Juni 1950 – 27 Juli 1953. Perang akhirnya membelah dua semenanjung pada 38 derajat garis lintang utara. Korea Selatan berada di bagian selatan. Korea Utara di bagian utara berbatasan dengan China dan Rusia.

Tercatat jumlah korban tewas dari kedua pihak, sipil maupun militer, mencapai 2,5- 3 juta jiwa. Gencatan senjata dicapai pada 27 Juli 1953 tetapi tidak ada perjanjian perdamaian. Presiden Korsel Syngman Rhee tidak mau menandatangani persetujuan gencatan senjata.

Kedua Korea selanjutnya menjadi ajang bukti keberhasilan masing-masing ideologi. Pendapatan per kapita di Korea Selatan berkisar US$37.500. Sektor industri berkembang pesat.

Tak ada yang menolak bila disebut sebagai negara maju. Korea Utara jauh di bawah itu. Kemajuan tersebut berkat dukungan total Amerika Serikat yang memasukkan Korsel ke dalam daftar most favoured nations. Negara-negara yang termasuk dalam daftar ini diberi berbagai kemudahan dalam hubungan dagang dan investasi dengan AS.

Sebenarnya Presiden Park Chung-hee, memerintah pada 1963-1979, yang membangun dasar-dasar bagi kemajuan negaranya. Dia memprioritaskan ekonomi dan menomor duakan politik. Suatu hal yang juga dilakukan Lee Kuan Yew. Jadi Korea Selatan mampu menjadi maju disebabkan dukungan Amerika Serikat. Kemudian kondisi alamnya yang memaksa penduduk bekerja keras.

Ditambah faham Kong Hu Cu yang menganjurkan kerja keras, disiplin, hemat, menabung dan mengutamakan pendidikan. Lalu, peran pemimpin seperti yang dicontohkan Park Chung-hee yang berani dan hidupnya sangat sederhana. Kabarnya, seorang perwira TNI sengaja ditempatkan di Seoul untuk mempelajari cara Park memerintah.

Pertaruhan Empat Negara

China, Rusia, Jepang dan Amerika Serikat mempertaruhkan kepentingannya di Semenanjung Korea. Pertaruhan ini yang membuat kondisi di semenanjung berada diantara damai dan perang.  Amerika Serikat mencita-citakan Korea Utara menjunjung sistem politik yang demokratis serta melenyapkan ancaman perang nuklir di Semenanjung Korea.

Atas dasar itu Trump mensyaratkan badan internasional memeriksa program nuklir Korea Utara dan fasilitasnya dihancurkan tanpa bisa dibangun kembali. Imbalannya adalah pencabutan salah satu klausul sanksi Dewan Keamanan PBB /AS yakni ekonomi dan yang terkait mata pencaharian rakyat.  China pun mendukung AS dengan tambahan syarat, penghapusan latihan militer Amerika Serikat-Korea Selatan.

Korea Utara pada Mei 2018 menghancurkan terowongan di fasilitas uji nuklir Punggye-ri. Selain mengizinkan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memeriksa dan menyaksikan penghancuran fasilitas nuklirnya.

Kebuntuan kesepakatan diatasi Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Mereka bertemu di zona daerah bebas militer pada 27 April 2018. Pertemuan bersejarah ini membuka jalan bagi KTT Kim-Trump yang pertama di Singapura pada 12 Juni 2018.

KTT ini tanpa hasil. Kim tidak tunduk dengan keinginan Amerika Serikat. Barangkali karena itu, fakta yang kemudian diekspos media adalah Kim menandatangani selembar "kesepakatan" dengan pena yang diberikan adiknya, Kim Yo Jong.

Lagi-lagi Moon Jae-in membuka jalan bagi KTT kedua. Dia, disertai pejabat pemerintah dan pengusaha, melawat ke Pyongyang selama tiga hari mulai 18 September 2018 dengan membawa gagasan denuklirisasi dan memajukan dialog Korea Utara-Amerika Serikat, mengakhiri perang Korea, penyatuan kedua negara dan membangun hubungan ekonomi.

Seusai kunjungan ke Pyongyang, Moon menemui Trump di Washington dan mewujudkan KTT Kim-Trump kedua di Hanoi, Vietnam pada 27-28 Februari 2019.

KTT kedua itu tidak mencapai hasil karena Amerika Serikat tidak menerima kesediaan Korea Utara yang akan menutup komplek fasilitas nuklir di Yongbyon, sebagai imbalan pencabutan sanksi dan menuntut AS menarik kekuatan militernya dari Korea Selatan. Sebaliknya Trump terang-terangan meminta Kim menyerahkan bom nuklir dan bahan bakarnya kepada AS. Permintaan yang ditolak Kim Jong-un.

Banyak Jalur

Sepertinya Kim Jong-un menghadapi problem yang tidak mudah. Rakyat mempercayainya karena merupakan keturunan langsung Kim Il-sung, pendiri Korea Utaranya. Sebagai pewaris, harus Kim terus menerus bersikap militan terhadap Amerika  Serikat.

Dia pun menemui kenyataan bahwa China yang merupakan pendukung utamanya, tengah bersikap terbuka terhadap negara- negara kapitalis. Menjauhi konflik dan memprioritaskan kerjasama di berbagai bidang.

Rusia lebih memprioritaskan kawasan Eropa. Kunjungan Vladimir Putin ke di Wladiwostok pada 28 April 2019 untuk bertemu dengan Kim Jong-un tidak sungguh-sungguh menunjukkan Rusia beralih ke Timur.

Kim yang baru berusia 36 tahun terbukti cerdik menanggapi keadaan. Dia berkonsultasi dengan Presiden Xi Jinping dan Vladimir Vladimirovich sebelum ber-KTT dengan Trump.

Dia juga cerdik membangun hubungan yang lebih akrab dengan Korea Selatan guna menciptakan social safety net. Antara lain, pertemuan para keluarga yang terpisah akibat perang, membuka saluran komunikasi 24 jam dengan Korsel dan mengirim adiknya, Kim Yo Jong, menghadiri pembukaan Olympiade Musim di Pyeongchang-gun, provinsi Gangwon, Korea Selatan pada 9 Februari 2018.

Khusus dalam hubungan dengan AS, Kim tidak memberi konsesi apapun walaupun bersedia menerima kedatangan Menlu AS Mike Pompeo ke Pyongyang dan menghadiri dua kali KTT.

Dalam hubungan dengan AS itu, Kim selalu menyelaraskan dengan kebijaksanaan China an Rusia yang tidak menginginkan perluasan pengaruh AS. Kim pun menghormati pengorbanan jutaan rakyat China dan bantuan Rusia dalam perang Korea.

Bila hubungan dengan kedua sekutunya surut, Kim melakukan uji coba peluru kendali buat menggelisahkan kondisi keamanan di Asia Timur.

Di dalam negeri, Kim mereorganisasi Biro 21 menjadi Biro 11 pada Februari 2012, dengan memperbanyak laboratorium pembuatan senjata nuklir dan peluru kendali. Biro 21 didirikan Kim Jong ill dan ditempatkan langsung di bawah komite sentral partai. Biro 21 ini berisikan periset-periset ulung dari berbagai universitas. Peningktan peran Biro 11 menunjukkan Kim masih mengandalkan senjata nuklir sebagai kekuatan penjera dan membangun kedekatan dengan rakyatnya.

Dia pun berulangkali mengajak Kim Jo Jong atau Kim Jong-yo tampil bersamanya di depan publik. Kim Jong-yo menjadi protokol utama dalam dua kali KTT, serta tidak canggung naik ke panggung upacara untuk memperbaiki posisi Presiden Moon Jae-in dalam menerima defile pasukan Korea Utara di Bandar Udara Internasional Sunan, Pyongyang. Moon saat sedang melawat ke Pyongyang.

Sistem yang tertutup membuat banyak pihak menduga-duga apa yang terjadi dengan Kim Jong-un. Kim tidak menghadiri peringatan ulang tahun kelahiran Kim Ili Sung atau Hari Matahari, pada 15 April lalu.

Seandainya Kim Jong-un wafat maka dia telah mempersiapkan pengganti. Lalu, apakah akan terjadi kerusuhan? Yang pasti, Korea Utara bukan Jerman Timur. Kalaupun ternyata sehat maka dia dapat mengukur seberapa besar simpati terhadapnya.(sjarifuddin)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load