Indonesia Jangan Terjebak Harga Vaksin Covid-19

Selasa , 21 April 2020 | 11:05
Indonesia Jangan Terjebak Harga Vaksin Covid-19
Sumber Foto dok/ist
Ilustrasi vaksin
POPULER

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa hari lalu memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini turun dari target 5,2 persen menjadi 2,3 persen atau mungkin minus 0,4 persen.

Peringatan ini bermakna: pertama, masyarakat harus mengupayakan sesuatu karena akan menghadapi situasi yang buruk. Kedua, masyarakat harus memaklumi jika pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang tidak populer termasuk berutang lagi.

Secara riil masyarakat sudah merasakan gejala-gejala yang menyesakkan. Pemutusan hubungan kerja. Cuti tanpa gaji. Pengurangan penerimaan bulanan. Pendapatan hasil berjualan berkurang drastis. Eksodus pekerja yang pulang kampung karena lahan rezeki di kota sudah menyusut.

Indonesia sebelumnya tidak pernah mengalami hal ini.

Tekanan ekonomi yang merata, mulai dari perusahaan penerbangan sampai pedagang kolang-kaling. Mereka yang berduit juga gelisah terancam terinfeksi virus Corona dan hartanya menyusut. Tekanan itu mungkin akan sedikit terobati ketika bantuan sosial mulai mengalir. Kiriman uang dari pekerja migran Indonesia masih tersisa. Musim panen mulai menghampiri.

Tapi sampai kapan bisa bertahan?

Harga Vaksin Mahal

Dampak penyebaran wabah Coronavirus disease-19 sungguh luar biasa. Menurut Worldmeter per 21 April 2020, sejumlah 210 negara dan teritori terkena wabah Terdapat 2.481.026 kasus dan 170.423 meninggal dunia. Kepulauan Faroe, Vietnam, Kampuchea, Madagaskar, Gibraltar, Rwanda, pulau Reunion, Guinea Ekuator, Maldives, Guinea Bissau, Makao, Sierra Leone, Eritrea, Mozambik, Chad, Nepal, Mongolia, Laos, Timor Leste, Fiji, Kaledonia Baru, Dominika, Saint Kitts & Navis, Saint Lucia, Saint Barthelemy, Karibia Belanda, Bhutan, Grenada, Republik Afrika Tengah, Uganda, St Vincents & Grenadines, Polynesia Prancis, Namibia, Sychelles, Sao Taome and Principe, Anguilla, Yaman, Saint Pierre and Miquelon, Kepulauan Falkland dan Monserrat juga terdampak, tetapi tingkat kematian nol.

Amerika Serikat masih berada di puncak dengan 792.759 terpapar dan 42.514 tewas. Italia 181.228 dan 24.114, sedangkan Spanyol 200.210 kasus dan 20.852 meninggal dunia. Indonesia 6.760 kasus dan 590 tewas.

Sebagaimana negara lain, Indonesia juga terpuruk tetapi jangan sampai terpuruk kedua kali. Artinya Indonesia harus berhati-hati membeli vaksin buatan luar negeri yang harganya sangat mahal. Bahkan, jika melihat kepada pengalaman mengobati HIV/AIDS , diperlukan biaya untuk vaksin US$ 6500 per orang setiap tahun.

Di India sedikitnya 127 ribu bayi meninggal setiap tahun karena sakit pneumonia atau paru-paru basah. Pemerintah tidak mampu menggelontorkan 4,5 miliar poundsterling untuk membeli vaksin. Rupanya perusahaan farmasi masih memberlakukan harga yang tinggi sekalipun vaksin pneumonia sudah ditemukan 40 tahun lalu.

Berlomba

Dewasa ini perusahaan-perusahaan farmasi di seluruh dunia tengah berlomba menemukan vaksin Covid-19. Mereka dikejar waktu karena virus Covid-19 sudah menjalar ke seluruh dunia. Mereka juga didera persaingan sangat ketat dan keinginan tak mau rugi.

Bermacam cara dilakukan. Ada yang mendasarkan pendekatan kepada pengobatan pengidap Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Virus penyebab keduanya berasal dari kelompok virus Corona yang mengganggu saluran pernafasan.

Ada pula yang memfokuskan perhatian kepada pembengkakan organ yang diakibatkan virus Corona. Periset lain mendasarkan penelitiannya kepada pengembangan penanganan virus Ebola. Terdapat pula periset yang memfokuskan pada mRNA atau duta RNA yang merupakan hasil transkripsi DNA dan menjadi perantara pembawa urutan protein dalam proses transkripsi.

Sejumlah perusahaan sudah mulai menguji vaksin pada manusia. Diharapkan vaksin yang teruji itu sudah siap dipasarkan paling tidak tahun depan.

Problem utama berikutnya adalah pada harga karena perusahaan yang bersangkutan telah mengeluarkan biaya besar. Bukan tidak mungkin dilema yang dihadapi India akan dialami banyak negara , termasuk Indonesia.

Perlu juga dicermati, mengapa pemerintah Amerika Serikat tidak henti-hentinya mendorong negara-negara lain untuk dengan jujur mengungkap data korban Covid-19.

Mungkinkah pengungkapan data itu akan dikaitkan dengan penjualan vaksin. Sebab kebanyakan perusahaan farmasi yang melakukan riset berasal dari AS? Mengapa banyak pihak yang mengabaikan pencabutan "lockdown" di Wuhan? Mengapa banyak yang mengesampingkan obat-obatan dan alat kesehatan (alkes) yang diproduksi China?

Secara hitung-hitungan bisnis, perusahaan-perusahaan farmasi juga melihat kondisi pasar. Mereka tidak ingin vaksin baru selesai dibuat, sedangkan wabah sudah mereda.

Yang menarik perusahaan farmasi didukung pembentukan opini yang mengarah kepada penantian vaksin. Sementara peran kekebalan tubuh hanya terdengar sayup-sayup padahal nenek moyang biasa makan sirih, gambir, jahe, kunyit, kayu manis, wedang uwuh, bandrek dan banyak lagi.

Perusahaan Farmasi Nasional

Secara numerik, penduduk yang terinfeksi Covid-19 relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk, tetapi dilihat secara moral tidaklah sesederhana itu. Inilah dalih untuk melakukan vaksinasi terhadap jutaan penduduk Indonesia.

Impor vaksin bakal menjadi beban tambahan bagi anggaran pemerintah tahun 2020 yang defisitnya diperkirakan Rp 852,93 triliun atau 5,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Berapa nilai impor vaksin itu belum diketahui, tetapi apa yang dialami India dapat menjadi patokan. Yang pasti defisit akan melebar atau utang akan bertambah. Utang yang per Februari 2020 berjumlah Rp 4.948,18 triliun.

Pemerintah sepertinya menghadapi dua pilihan. Pertama, melakukan impor dengan resiko harga vaksin yang mahal. Kedua, mengupayakan vaksin produksi dalam negeri dengan strain yang sesuai dan harganya lebih murah.

Jadi selayaknya perhatian tidak fokus kepada angka-angka terinfeksi, meninggal dunia dan sembuh, melainkan juga kepada periset-periset di dalam negeri yang bekerja dalam senyap.

Di Indonesia banyak lembaga-lembaga riset yang sekalipun tanpa perhatian masyarakat tekun mengupayakan cara-cara mengatasi Covid-19. Bahkan Lembaga Molekuler Biologi Eijkman dikabarkan tengah bekerjasama dengan sebuah rumah sakit di Jakarta.

Seandainya lembaga-lembaga riset baik yang tergabung dalam satu universitas, TNI, rumah sakit atau milik pemerintah seperti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan berhasil menemukan vaksin Covid-19, maka akan membanggakan dan menghemat devisa. Ironisnya Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum tentu bakal merestui.

Wabah virus Covid-19 telah meluluh lantakan dunia. Masalahnya adalah bukan apa yang terjadi sekarang sebab sudah diketahui, tetapi apa yang akan terjadi setelah wabah mereda?

Kiranya bakal ada negara yang lebih kuat dari yang lain. Ada pula yang negara dan rakyatnya makin melarat, tetapi elitnya tetap di atas angin. (sjarifuddin)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load