“Corona di Nusantara”

Selasa , 07 April 2020 | 14:50
“Corona di Nusantara”
Sumber Foto dok/pixabay
Virus corona covid-19

NUSANTARA mendapat anugerah Tuhan dalam posisi yang sangat strategis, berada antara benua besar Asia dan Australia, serta penghubung dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Maka secara ekonomis berperan sebagai lintasan berbagai alur distribusi dan transportasi dunia. Lahan daratan yang subur, serta kawasan laut yang luas, lantaran di kawasan tropis maka hangat sepanjang tahun.

Berbagai jenis tanaman dan beraneka jenis ikan dapat hidup di sini. Pada pantai yang termasuk paling panjang di dunia ini dapat dimanfaatkan guna budidaya perikanan. Negeri yang kepulauan yang terbesar di dunia ini memang tidak semua berpenghuni. Pulau yang ada penghuninya, yakni terdapat masyarakat yang bertempat tinggal di pulau tersebut, jumlahnya lumayan banyak, diperkirakan lebih dari 2.000 pulau, atau sekitar 12,38 persen.

Terkait dengan adanya pandemi virus Corona, penduduk negeri yang tersebar di banyak pulau ini menambah kompleksitas penanganannya, dibanding dengan yang dihadapi negeri kontinen, atau daratan. Permasalahan tersebut bisa dilihat dari empat dimensi, yakni aspek sosial, ekonomi, manajemen kesehatan, dan pengamanan geografis.

Dimensi yang pertama adalah adalah aspek sosial. Upaya melindungi masyarakat terhadap merebaknya wabah virus Corona memerlukan komunikasi yang cepat dan intensif. Perkembangan untuk mengantisipasi problem ini berlangsung sangat dinamis.

Selama ini kita menyaksikan bahwa di kota besar saja, pihak Pemerintah dan unsur lain mengalami kesulitan untuk memberikan kesadaran masyarakat agar melakukan sikap dan perilaku guna menghindari penularan. Misalnya, kesadaran untuk menggunakan hand sanitizer, masker, menjaga jarak atau social distancing, tidak keluar rumah atau semacam lockdown, dan lain-lain.

Masyarakat yang tinggal di pulau terpencil sering mengalami hambatan komunikasi sosial dengan kawasan lain. Hal ini mudah dimaklumi, lantaran diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk bepergian ke pulau lain. Moda komunikasi lain menggunakan on-line, secara teknis signal guna memperoleh sambungan internet, media sosial, televisi, bahkan radio, pada banyak lokasi di pulau kecil juga mengalami hambatan. Realitas ini jelas dapat mengurangi efektifitas penyuluhan terkait dengan wabah Corona.

Aspek yang kedua adalah dari sisi ekonomi. Sebagaimana banyak diketahui, kesulitan dari kawasan terpencil atau pulau kecil adalah mahalnya biaya transportasi, ketersediaan bahan pokok, termasuk pangan dan bahan bakar, sehingga biaya hidup menjadi tinggi. Apabila di tempat lain berbagai bahan konsumsi dan kebutuhan hidup oleh dampak wabah virus Corona menjadi langka atau harganya melonjak tinggi, terlebih lagi di daerah terpencil seperti pulau-pulau kecil.

Faktor ekonomi bisa juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pola makan penduduk setempat. Mereka lebih memilih makanan yang tersedia dari pulau itu sendiri, yang harganya sangat murah, daripada beli makanan dari luar pulau yang sangat mahal. Daya tahan tubuh untuk menolak penyakit di antaranya diperkuat oleh asupan gizi buah dan sayur yang masih segar.

Dari aspek ini ada kawasan kepulauan ada nilai plus dan minusnya. Provinsi kepulauan: Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bangka Belitung dan Kepulauan Riau, yang konsumsi buahnya di bawah rata-rata nasional hanya Bangka Belitung.

Namun untuk konsumsi sayur, yang di atas rata-rata konsumsi nasional hanya NTT dan NTB. Hanya saja, ‘kelemahan’ masyarakat kita dalam mengkonsumsi sayur, banyak yang berupa olahan dimasak panas, sehingga beberapa vitaminnya telah hilang fungsi positifnya.

Aspek yang ketiga ini merupakan hal yang juga sangat penting, yakni pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil. Dalam keadaan normal saja dalam aspek ini masyarakat di kawasan terpencil sering mengalami kesulitan. Karena jumlah penduduk yang tidak begitu banyak, maka seringkali dikategorikan sebagai kawasan yang bukan prioritas.

Lantaran keterbatasan anggaran, maka sarana-prasarana atau tenaga medis di lokasi tersebut tidak tersedia. Pada beberapa lokasi ada yang sudah disediakan bangunan klinik kesehatan, namun tenaga medisnya jarang datang, karena harus melayani di lokasi lain.

Hal ini sering membuat kesulitan apabila ada penduduk yang mengalami sakit parah ataupun bila ada wanita yang mau melahirkan. Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan di pulau lain. atau biaya transportasi yang mahal, sering menjadi kendala. Kondisi yang demikian tentu merupakan permasalahan yang tidak sederhana dalam suasana pandemi suatu penyakit, termasuk merebaknya virus corona.

Aspek yang terakhir adalah faktor pengamanan geografis. Pulau terpencil, apalagi yang di perbatasan dengan negara lain, tidak mudah untuk dilakukan pengamanan terhadap masuknya warga negara asing, atau keluarnya warga negara kita ke luar negeri. Terutama pada pulau yang menarik sebagai kawasan wisata, atau sudah memiliki tradisi hubungan kultural, sosial atau bisnis antar warga negara yang bertetangga. Mobilisasi atau komunikasi antar wilayah dan antar warga ini bisa menjadi titik rawan penularan penyakit menular, termasuk virus Corona.

Beberapa aspek di atas adalah sebagian saja kesulitan yang dihadapi dalam melayani para warga sebangsa dan setanah-air yang bermukim di pulau kecil atau terpencil. Mereka secara konstitusional dan emosional adalah para saudara, anak bangsa, atau warga negara yang harus dilayani, termasuk kesehatannya, demi azas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bersatu melawan corona, tidaklah hanya slogan semata. Semestinya kita terapkan untuk semua, diiringi doa pula, semoga badai cobaan Tuhan ini cepat berlalu!(Dr Soen'an Hadi Poernomo)

Penulis adalah Dosen IISIP Jakarta.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load