Perlu Sterilisasi "Block to Block" Atasi Penyebaran Covid-19

Kamis , 19 Maret 2020 | 15:19
Perlu Sterilisasi
Sumber Foto LabSosio UI
Dr Imam B Prasodjo


Imam B. Prasodjo

Salah satu inti yang menjadi perdebatan dalam upaya mencegah penularan wabah COVID-19 adalah terkait dengan kebijakan pengurangan dan pemutusan interaksi sosial. Dalam menghadapi virus yang pandemic ini (daya tular cepat dan mengglobal), manusia sebagai makhluk sosial, justru dihimbau atau dipaksa untuk membatasi sifat alamiahnya, yaitu membatasi interaksi dengan sesamanya. Ini terpaksa harus dilakukan karena pada situasi semacam ini, tak ada yang tahu apakah orang yang tengah berinteraksi dengan kita, atau bahkan diri kita sendiri, saat ini sudah terjangkiti (carrier) virus ini.

Saat ini, untuk menghadapi keadaan ini, dalam berbagai diskusi muncul istilah "lock down," "social distancing," atau "isolasi" sebagai langkah kebijakan untuk membatasi interaksi sosial itu.

Namun semua istilah itu seringkali difahami berbeda-beda.Tiap orang, pejabat, pengamat, atau bahkan para ahli dapat memiliki pemahaman berbeda. Akhirnya, dalam diskusi untuk mencari jalan keluar mengatasi ganasnya penularan malah semrawut.

Dalam kaitan inilah saya ingin sumbang saran. Kalau inti masalah adalah bagaimana mengurangi resiko penularan COVID-19 dengan membatasi atau menyeleksi interaksi di atara warga agar yang sudah terinfeksi tidak menular ke warga lain yang tidak terinfeksi, maka salah satu jalan yang tepat dilakukan adalah melakukan upaya "sterilisasi block to block" secara berkelanjutan. Ini perlu dilakukan terutama di wilayah-wilayah yang sering menjadi tempat berkumpul masyarakat karena kebutuhan memaksa. Ambil saja contoh lokasi pasar tradisional.

Kegiatan di setiap pasar tradisonal jelas sering mendatangkan kerumunan yang tak terelakkan. Lihat foto di bawah. Bila kebijakan penutupan pasar dilakukan untuk menghindari terjadinya kerumunan, ekonomi masyarakat tentu akan lumpuh, banyak pedagang kehilangan mata-pencaharian dan juga tak terhitung berapa rumah tangga yang akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dengan demikian, kebijakan menutup sama sekali pasar tradisional tak realitis. Melakukan "lock down" total pada pasar sangat sulit dilakukan karena pertimbangan tadi.

Di sisi lain, bila interaksi seperti di pasar tradisonal ini dibiarkan berjalan seperti biasa, niscaya pasar akan menjadi tempat rentan terjadinya penularan COVID-19. Kita tidak tahu berapa banyak pedagang ataupun pengunjung di pasar yang sudah terjangkit virus corona berinteraksi dengan sesama pedagang maupun pembeli.

Oleh karena itu, agar pasar tak menjadi lokasi penularan wabah virus, setiap pedagang sebelum memulai kegiatannya, harus menjalani test kesehatan (proses filtering), minimal menjalani test suhu badan, demam, batuk atau pilek. Bila ada satu saja pedagang yang menunjukkan gejala kurang sehat, harus langsung ditangani dan dilarang melanjutkan kegiatannya. Hal serupa juga harus dilakukan pada setiap pekerja dan pembeli yang datang di lingkungan pasar. Untuk melakukan aktivitas ini, setiap pasar tradisional harus dibantu oleh tim medis yang bisa terdiri dari dokter setempat, calon dokter, mantri kesehatan atau perawat kesehatan. Pemerintah daerah harus ikut memfasilitasi terbentuknya gugus tugas tim kesehatan ini dengan kelengkapannya.

Apa yang harus dilakukan bila ada pedagang atau pengunjung (pembeli) pasar terindikasi kurang sehat? Tim medis pasar harus bergerak cepat membawa orang tersebut ke ruang tersendiri (ruang darurat kesehatan) yang harus disediakan pasar. Jangan biarkan orang ini bergerak bebas memasuki pasar. Edukasi perlu dilakukan pada orang yang terindikasi sakit ini agar ia menjaga diri dan juga menjaga orang lain agar tidak tertular.

Di pasar tradisional, biasanya lokasi berjualan pedagang terbagi dalam blok blok berdasarkan jenis dagangannya. Ada blok pedagang sayur, daging, sembako dll. Untuk mengintensifkan monitoring, perlu dibentuk tim kecil untuk monitoring kesehatan di tiap blok. Anggota tim kecil ini dapat berasal dari para pedagang sendiri di blok terkait. Melalui tim ini, kelengkapan kesehatan seperti "hand sanitizer," disinfektan, sabun dan masker disediakan. Ini yang saya maksud sterilisasi "block to block".

Sebagai tindak lanjut penanganan, tim medis pasar harus memfasilitasi penderita sakit (bila dijumpai di pasar) dengan membawanya langsung ke dokter untuk diperiksa lebih mendalam. Karena itu, ambulan perlu disiapkan dan harus selalu "stand by" di pasar. Dalam kaitan ini, kerjasama dengan Puskesmas, Klinik terdekat, atau Rumah Sakit juga diperlukan. Lebih ideal lagi bila di lokasi pasar ini juga, ada petugas khusus (sebut saja Tim Reaksi Cepat Test-Covid 19) yang siap untuk melakukan test langsung terhadap orang yang terindikasi sakit itu. Penanganan kesehatan (rapid response) di tingkat wilayah seperti ini akan sangat baik diterapkan dalam setuasi seperti sekarang ini.

Saat saya menulis catatan ini, Dirut PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin, membalas tilpon saya yang belum berhasil nyambung. Langsung saja saya kemukakan apa yang saya tulis ini. Rupanya, PD Pasar Jaya sudah melangkah. Tinggal melengkapi langkah langkah yang belum dilakukan seperti bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk membentuk tim kesehatan pasar, berjejaring dengan Puskesmas, Klinik, atau Rumah Sakit terdekat, membangun tim monitoring kesehatan di setiap blok di pasar.

Semoga di saat krisis ini, gerak cepat bisa dilakukan. Kini kita tak banyak waktu lagi untuk berdiskusi. Virus corona sudah masuk. Kita suka atau tidak harus siap. Bila tidak, kita akan termakan oleh ganasnya virus ini.

* Penulis adalah Sosiolog dari UI

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load