Jiang Zemin Mengangkat Perekonomian China Mengkader Hu Jintao dan Xi Jinping

- Senin, 5 Desember 2022 | 05:48 WIB
Jiang Zemin.(Dok/Reuters/Scott Olson)
Jiang Zemin.(Dok/Reuters/Scott Olson)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Jiang Zemin yang wafat pada 30 November 2022 lalu merupakan pemimpin China dari generasi ketiga setelah Mao Zedong dan Deng Xiaoping.  Dia lahir pada 17 Agustus 1926. Ia tidak ikut long march dari Provinsi Jiangxi ke Shaanxi pada Oktober 1934 hingga Oktober 1935. Dia juga tak ikut melawan Jepang yang menjajah negaranya pada 1931 sampai 1945. Dua peristiwa yang sangat mempengaruhi pola pikir para pemimpin partai.  

Sekalipun demikian, ternyata para pemimpin China mulai dari Jiang (1993-2002), Hu Jintao (2002-2012) dan Xi Jinping (2012-... ) melanjutkan kebijaksanaan pendahulu mereka yakni Deng Xiaoping dan Mao Zedong/PM Zhou Enlai dengan variasi di sana-sini. Menerima kehadiran Amerika Serikat dan negara-negara lain tetapi tetap berpegang teguh kepada ideologi komunis dan sistem politik satu partai.

Jiang, Hu dan Xi meneruskan kebijaksanaan Deng Xiaoping dengan menjalankan ekonomi dalam negeri yang terbuka tetapi terbatas. Investor asing diterima tetapi harus bekerja sama dengan pengusaha lokal. Kemudian pengusaha domestik menyerap semaksimal mungkin keahlian pendatang dan mendirikan perusahaan baru dengan seratus persen milik China.

Kemudian juga diperkuat dengan pengiriman ratusan ribu -mungkin jutaan generasi muda belajar berbagai disiplin ilmu ke berbagai negara. BJ Habibie juga melakukan hal serupa tetapi tidak efektif karena tidak memperoleh dukungan maksimal dari mitranya di pemerintahan.

Kesungguhan, ketegasan, konsistensi para pemimpin China membuat pihak Barat frustasi. Barat sebenarnya ingin pula mengekspor ideologi, sistem politik serta pemerintahan. Suatu cara yang telah berhasil diterapkan di negara berkembang lainnya.

Deng dan penerusnya tetap menghormati Mao Zedong sebagai pemersatu bangsa. Foto Mao berukuran besar dipasang di atas pintu masuk Istana Terlarang. Dilihat para pengguna jalan dan turis lokal maupun domestik yang lalu-lalang di lapangan Tienanmen.   

Keteguhan Yang Terlihat Sejak Awal

Presiden Richard Milhouse Nixon dan Menlu Henry Alfred Kissinger yang membangunkan China. Keduanya yang merupakan petinggi terbaik dalam sejarah pemerintahan Amerika Serikat berhadapan dengan pemimpin China Mao Zedong dan PM Zhou Enlai.

Kedua negara berhasrat membuka hubungan yang lebih dekat karena sama-sama mempunyai kepentingan. Amerika Serikat (AS) ingin memakai kartu China untuk menekan Uni Soviet. Sebaliknya, China menggunakan kartu AS untuk menghadapi Uni Soviet dalam sengketa perbatasan.

Selama ini yang ditonjolkan adalah AS menggunakan kartu China, tetapi ternyata Mao Zedong pada tahun 1969 menugaskan empat jenderal di antaranya Chen Yi dan Ye Jianying untuk menganalisa hubungan China- Soviet, China-AS dan Soviet-AS. Jadi Beijing juga memanfaatkan kartu AS.

Selain masalah Uni Soviet, perundingan China-AS berlangsung rumit karena masalah Taiwan. Kissinger bersikeras tidak menerima rumusan Zhou bahwa Taiwan merupakan bagian dari China. Tetapi  Kissinger tak mengusulkan rumusan Dua China atau Satu China, Satu Taiwan.

Saat perundingan hampir menemui jalan buntu. Zhou yang berlatar militer dan diplomat, mengajak Kissinger makan malam dengan menu bebek panggang Peking di Restoran Quanjude. Foto keduanya dipajang di pintu masuk restoran. Siapa yang memperoleh manfaat dari perundingan tersebut?

Tiga tahun setelah kedatangan Nixon di Beijing pada 1972, AS menarik diri dari Vietnam. Memulangkan dua pertiga pasukannya dari Taiwan. Kemudian meniadakan hubungan diplomatik dengan Taiwan dengan jaminan melindunginya dari serbuan China.

Di Eropa, AS bekerja sama dengan Paus John Paul II asal Polandia melindungi Lech Walesa, pemimpin galangan kapal di Gdanks, Polandia. Demo yang dipimpin Walesa merupakan bibit gerakan demokrasi di Eropa Timur. Demo yang menyambung dengan Glasnost dan Perestroika yang digagas pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

Dalam perundingan tersebut Zhou Enlai menunjukkan keteguhan sikap para pemimpin China dalam mempertahankan kepentingan nasional. Keteguhan inilah yang diikuti Deng dan kawan-kawan, sekalipun menerapkan kebijaksanaan ekonomi yang tidak sesuai dengan yang dijalankan Mao.

Deng Xiaoping (1978-1989) mereformasi dengan merealisasikan perekonomian yang digerakkan oleh pasar. Dia  terkenal dengan pemeonya: "tidak peduli dengan kucing hitam atau putih asalkan bisa menangkap tikus".

Deng meluncurkan empat modernisasi yang meliputi bidang industri, pertanian, teknologi dan pertahanan nasional. Keempat bidang ini dipilih sebab ratusan juta penduduk bergulat di sektor-sektor itu. Lagi pula keempatnya saling berkaitan.

Deng mengundang investasi dan teknologi asing. Dia juga meyakinkan dunia tentang angkatan kerja dan pasar domestik yang besar. Investor asing tergiur dengan pasar domestik China serta upah buruh murah hingga menghasilkan produk-produk yang kompetitif.

Jasa Jiang Zemin

Jiang memulai kepemimpinan dalam situasi yang tidak mudah. China tercoreng peristiwa Tienanmen tahun 1989 yang menewaskan ratusan mungkin ribuan demonstran penuntut kebebasan. Peristiwa ini menyebabkan Sekjen Partai Hu Yaobang dimundurkan kalangan militer dan elit partai sebab menilai Hu lunak menangani pendemo padahal Hu adalah kepercayaan Deng.

Jiang yang terkenal dengan prinsip tiga perwakilan membawa China menjadi negara adidaya dengan pertumbuhan ekonomi, rata-rata sepuluh persen setahun. China menjadi anggota WTO pada 11 Desember 2001. Kesebelasan nasionalnya tampil pada Piala Dunia tahun 2002.

Kalangan Barat menyesalkan mengizinkan China menjadi anggota WTO sebab dijadikan kendaraan untuk melakukan ekspansi. Pada 2007, Wapres AS Dick Cheney dan Menlu Collin Powell pada 2007 memandang perlu mengadakan ‘perang kecil’ untuk menahan laju kemajuan China.

Dalam konteks ini, apabila China sudah berhasil mengatasi kerusuhan di Xinjiang pada 2009 dan 2013 serta Hong Kong tahun 2019. Kerusuhan di Xinjiang dideteksi dilakukan ekstrimis yang menyeberang dari perbatasan India. Adapun kerusuhan di Hong Kong dideteksi dibantu seorang diplomat dan beberapa pria asing. Lalu apakah bakal sukses mengatasi demo Covid-19 di Shanghai dan Guangzhou?  

Jiang tidak alergi dengan faham kapitalis dan kultur Barat karena bertujuan untuk memahami dan menghadapi, bukan untuk menjadikannya sebagai faham alternatif. Hal itu ditunjukkan dengan mengajak anggota politbiro partai menonton film Titanic. Menyanyikan lagu Love Me Tender. When We Were Young dan juga O Sole Mio. Jiang bermain piano dan juga erhu, instrumen gesek tradisional China.

Konsistensi

Setiap pemimpin China memiliki karakteristik berbeda tetapi mempunyai kesamaan dalam hal pokok ideologi dan sistem politik. Program-programnyapun berkesinambungan. Bila satu pemimpin memprioritaskan pembangunan di kawasan pantai maka yang berikutnya di pedalaman. Mereka juga mendahulukan pembangunan infrastruktur hingga semua bagian wilayah China terjangkau oleh transportasi darat dan udara.  

Estafet kaderisasi kepemimpinan terus berlangsung. Calon pemimpin dinilai mulai dari track record ketika bekerja di pedesaan. Naik ke tingkat kabupaten. Provinsi dan Pusat. Mereka kemudian ditempatkan pada posisi penting di pemerintanhan maupun partai. Yang lumayan menarik. Mereka rata-rata lulusan perguruan tinggi. Hu Jintao dan Xi Jinping adalah kadernya Jiang.

Dalam hubungan dengan Amerika Serikat, mereka memahami adanya saling ketergantungan. Investasi China di AS menyerap sedikitnya 160 ribu buruh. Sebaliknya pembuatan produk ekspor di China ke AS ditangani minimal 900 ribu pekerja. China menyimpan obligasi departemen keuangan AS senilai US$970 miliar. Paling banyak dibandingkan dengan negara-negara lain. Dapat dibayangkan apa yang terjadi bila China melepasnya.

Berkenaan dengan sekalian kompetensi para pemimpin China dan ketergantungan antara AS-China maka kiranya layak menyikapi dengan hati-hati manuver yang menyebut China sebagai ancaman. Mengingat setiap negara memiliki kepentingan nasional masing-masing, yang tidak jarang berbeda dengan negara-negara yang melakukan diplomasi megaphone.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Sutra Manih?

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:28 WIB

Industri Militer Dalang Kekacauan di Muka Bumi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:06 WIB

Kacang Lupa Di Kulit?

Selasa, 17 Januari 2023 | 07:04 WIB

Survei dan Atau Maunya Partai Politik

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:13 WIB

Nasi Kandar = Nasi Goreng?

Selasa, 10 Januari 2023 | 06:11 WIB

Limau Bali?

Selasa, 3 Januari 2023 | 05:53 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 4): Pemberantasan Korupsi

Rabu, 28 Desember 2022 | 17:08 WIB

Sbatical Leadership? (Pemimpin Pensiunan)?

Selasa, 27 Desember 2022 | 06:54 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 3): Kepemimpinan Ideal

Minggu, 25 Desember 2022 | 14:36 WIB

Selamat Merayakan Natal

Sabtu, 24 Desember 2022 | 11:22 WIB

MBS Memainkan Kartu China Menghadapi Amerika Serikat

Senin, 12 Desember 2022 | 05:30 WIB
X