• Sabtu, 3 Desember 2022

Perang di Ukraina Berlangsung Lama Karena Memberi Keuntungan

- Senin, 21 November 2022 | 05:33 WIB
Ukraina memakai drone Bayraktar bikinan Turki menghadapi serangan Rusia.(Dok/AP)
Ukraina memakai drone Bayraktar bikinan Turki menghadapi serangan Rusia.(Dok/AP)


Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Perang di Ukraina tampaknya akan berlangsung lama karena sejumlah negara berupaya mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Keuntungan yang bersifat ideologis. Penguasaan wilayah dan jaminan keamanan. Memuaskan kelompok elit pemilik industri militer. Tentu saja memperkuat perekonomian domestik yang terancam resesi.  

Rusia yang memerlukan kawasan penyangga menginvasi pada 24 Februari lalu. Tujuannya menguasai wilayah Ukraina Selatan, terutama daerah administratif Luhanks dan Donetsk, yang berbatasan langsung dengan Rusia.

Sebelumnya, Moskow menyatakan tidak keberatan dengan bergabungnya negara-negara eks anggota Pakta Warsawa ke dalam NATO. Namun menentang keikutsertaan Ukraina menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu.

Ternyata, serbuan Rusia ke Ukraina menjadi perang yang berkepanjangan hingga  melemahkan dan berpotensi merusak kondisi domestik negara tersebut. Rusia tampaknya bakal mengulangi kegagalan sebagaimana dialami dalam perang di Afghanistan (24 Desember 1979-15 Februari 1989).

Musuh yang dihadapi dalam perang Afghanistan itupun sama dengan yang sekarang ditemui di Ukraina yakni Amerika Serikat dan negara-negara Barat minus negara-negara Islam. Oleh sebab itu besar kemungkinan Rusia akan kembali terperosok.

Yang menarik, negara-negara penyokong Ukraina komit tidak akan memberi bantuan personil melainkan hanya perlengkapan militer. Namun tidak melarang apabila WN-nya turut bertempur melawan tentara Rusia dalam status sebagai sukarelawan atau serdadu sewaan.  

Sedemikian jauh, sudah tiga warga negara Inggris mati di Ukraina. Simon Lingard, mantan anggota pasukan khusus, gugur di Bakhmut, Donetsk, pada awal November. Jordan Gatley, 24, tewas pada Juni. Scott Sibley, 36, tewas pada April 2022.

Selain ketiganya. Diduga lebih banyak warga negara Inggris yang tewas maupun luka-luka. Mereka disebut sebagai sukarelawan kendati mungkin berstatus serdadu sewaan. Mengingat perang biasanya, membuat perusahaan penyedia serdadu sewaan naik daun.

Apabila Rusia melemah maka negara-negara Barat hanya akan menghadapi China. Ini berarti telah tercapai cita-cita kaum kapitalis dan sebangsanya untuk  menguasai Satu Dunia.

Battle Proven

Perang sebagaimana biasanya menjadi ajang mencoba strategi baru dan uji coba peralatan militer. Dalam perang Irak, untuk pertama kalinya logistik didekatkan ke daerah pertempuran, sementara di Ukraina sangat menonjol peran drone (senjata nir awak) dan sistem penangkis serangan udara. Rusia memakai drone Iran dan buatan sendiri, Ukraina memakai Bayraktar bikinan Turki.

Ketenaran drone berimbas ke Indodefence 2022 Expo and Forum di Jakarta pada 2-5 November 2022. Pada kegiatan yang dihadiri petinggi pertahanan seperti Menhan Prabowo Subianto dan wakilnya Letjen TNI M Herindra itu, para pengunjung memberi perhatian luas kepada  stand Bayraktar dari Turki, Signal dari  Uni Arab Emirat, PT Dahana, PT DI dan eksibitor lain. Kepada penjaga stand, mereka menanyakan seluk-beluk drone yang ternyata multipurpose.

Pabrikan drone kelak kebanjiran order, sebagaimana pabrik rudal Exocet buatan Prancis yang berhasil menghancurkan  HMS Conventry  dan kapal kontainer Konveyor Atlantic  serta HMS Sheffield pada perang Malvinas Mei 1982. Alasannya sederhana sudah battle proven terbukti dalam pertempuran.

Perang juga menggerakkan perekonomian. Pemerintah Amerika Serikat pada ulang tahun kemerdekaan Ukraina ke-31 pada 24 Agustus lalu memberi bantuan senilai US$2,98 milyar. Bantuan itu dimaksudkan untuk melatih dan melengkapi angkatan bersenjata Ukraina.

Sudah barang tentu, Ukraina hanya menerima peralatan militer yang dibikin di Amerika Serikat tak ada alih teknologi dan sebagainya. Ini berarti Lockheed Martin-lah yang membuat anti-tank Javelin. Raytheon yang membuat penangkis serangan udara, drone, rudal dan sistem komunikasi satelit. Boeing yang membuat unmanned aerial vehicle (UAV) dan General Dynamics Corp. pembuat senapan mesin dan sebagainya.

Turut kecipratan adalah perusahaan-perusahaan keuangan bank/bukan bank. Jutaan pemegang saham biasa. Kontraktor. Pemasok komponen. Perusahaan katering untuk karyawan serta masih banyak lagi perusahaan pendukung secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi bantuan yang diutarakan Presiden Biden di Gedung Putih pada 24 Agustus lalu itu berdampak besar terhadap perekonomian negaranya. Lalu dengan sendirinya mengurangi resiko resesi. Adapun Ukraina hancur lebur. Sejumlah 5,5juta penduduknya masih berstatus pengungsi di negara-negara lain.  

Bagi negara-negara tertentu, perang Ukraina memberi banyak manfaat. Industri militer jauh dari bangkrut. Terjadi perbaikan teknologi komunikasi dan peralatan militer. Perawatan medis. Perbaikan dalam bidang transportasi dan logistik. Memperoleh pengalaman berperang. Keuntungan geo-politik. Perluasan pengaruh. Menjatuhkan pesaing. Merebut pasar dan masih banyak lagi. Dalam konteks ini, para elit politik dan industrialis militer akan terus menerus menggunakan pengaruh agar perang terus berlangsung.

The Quincy Institute for Responsible Statecraft yang berbasis di Washington DC menambahkan sejak perang dimulai AS sudah mengirim perlengkapan militer dan pendukungnya senilai US$101 miliar. Lebih dari 58% di antaranya dialokasikan untuk keempat perusahaan di atas.

Bantuan tersebut berlangsung dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan bantuan untuk perang Vietnam. Tapi program militer ini tidak diimbangi dengan strategi diplomasi untuk mengakhiri perang, ungkap Quincy.

Banyak yang berharap pertemuan Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) William Burns dengan kepala intelijen Rusia Sergei Naryshkin di Ankara. Turki pada Senin, 14 November lalu menjadi awal perundingan damai. Namun keduanya disebut hanya membahas penggunaan senjata nuklir, hingga masalah tahanan AS di Rusia, ujar seorang jurubicara Gedung Putih.***



Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Wonderful Indonesia VI, Pulau Kawa, Provinsi Papua Barat

Selasa, 29 November 2022 | 07:03 WIB

Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

Senin, 28 November 2022 | 09:52 WIB

Wonderful Indonesia V, Gunung Krakatau?

Selasa, 22 November 2022 | 06:27 WIB

Mengapa AS Membuat KMP China Sebagai Monster?

Selasa, 8 November 2022 | 05:43 WIB

Lula Da Silva, Pelajaran Buat Anies Baswedan

Selasa, 1 November 2022 | 07:53 WIB

Wonderful Indonesia II, Lembah Sukabumi?

Selasa, 1 November 2022 | 06:24 WIB

Pemuda, Bangkit Melawan atau Mati Kelaparan

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 12:31 WIB

Prof. DR. Malcolm Gillis Berujar “Hai Marzuki?”

Selasa, 25 Oktober 2022 | 06:21 WIB

Hanya MU Saja Yang Bisa?

Rabu, 19 Oktober 2022 | 11:06 WIB

Menguak Konspirasi dalam Perang Ukraina

Jumat, 14 Oktober 2022 | 05:11 WIB

Jokowi-Mega Mencari Lawan Tanding Anies

Senin, 10 Oktober 2022 | 19:21 WIB
X