• Sabtu, 3 Desember 2022

Campur Tangan FIFA Belum Tentu Efektif, Hanya Permalukan Diri Sendiri

- Selasa, 18 Oktober 2022 | 17:49 WIB

 

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). (Foto: Humas Setkab/Rahmat)

SINAR HARAPAN--Keputusan Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) menempatkan orang-orangnya di Jakarta untuk membenahi persepakbolaan nasional menimbulkan kesan bahwa kita tidak percaya pada kemampuan sendiri untuk mengatasi masalah dalam negeri.

Anehnya, keputusan FIFA itu diterima dengan tangan terbuka, kalau tidak bisa dikatakan telah diundang resmi oleh pemerintah, untuk membereskan persepakbolaan nasional, paska Tragedi Kanjuruhan di Malang.

Sebenarnya tidak perlu sejauh itu pemerintah melangkah. Langkah pemerintah sehingga buru-buru menghubungi FIFA setelah tragedi itu adalah kekhawatiran Indonesia bisa kehilangan peluang penyelenggaraan Piala Asia 2023. Nah, sekarang fatanya, AFC sudah memutuskan penyelenggaraannya di Qatar, negara yang dipanndang lebih berpengalaman. 

Baca Juga: Presiden Jokowi Sambut Presiden FIFA Gianni Infantino di Istana Merdeka

Persoalan persepakbolaan nasional terjadi lebih karena salah urus sehingga prestasi tidak pernah maju. Dulu kita pernah menjadi "Macan Asia", kini jauh dari status itu. Dalam soal ini, para aktifis persepakbolaan nasional pastilah lebih paham ketimbang orang-orang FIFA, berapa lama pun mereka akan tinggal di Indonesia.

Silang sengaktur sepakbola nasional bukan hanya setelah Tragedi Kanjuruhan, tapi sudah kronis. Pemerintah tahu itu. Pemerintah juga bisa memetakan persoalan yang dihadapi dan menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan orang luar.

Anehnya, pemerintah belum pernah mengadakan pertemuan dengan para poemangku kepentingan di bidang persepakbolaan nasional setelah Tragedi Kanjuruhan. Tapi buru-buru ketemu Presiden FIFA.

Baca Juga: FIFA-AFC-PSSI-Pemerintah Bentuk Satgas Pascatragedi Kanjuruhan

Tragedi itu disesalkan semua pihak. Pemerintah harus menggunakan momentum itu untuk pembenahan, tanpa harus mengundang FIFA. Mulai lah dengan penegakan hukum yang tegas dan lugas. Kemudian perbaikan stadion-stadion agar sesuai standar keamanan dan kenyamanan penonton, lalu soal edukasi penonton, pembinaan pemain usia dini, pembinaan klub dan sebagainya.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Artikel Terkait

Terkini

Wonderful Indonesia VI, Pulau Kawa, Provinsi Papua Barat

Selasa, 29 November 2022 | 07:03 WIB

Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

Senin, 28 November 2022 | 09:52 WIB

Wonderful Indonesia V, Gunung Krakatau?

Selasa, 22 November 2022 | 06:27 WIB

Mengapa AS Membuat KMP China Sebagai Monster?

Selasa, 8 November 2022 | 05:43 WIB

Lula Da Silva, Pelajaran Buat Anies Baswedan

Selasa, 1 November 2022 | 07:53 WIB

Wonderful Indonesia II, Lembah Sukabumi?

Selasa, 1 November 2022 | 06:24 WIB

Pemuda, Bangkit Melawan atau Mati Kelaparan

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 12:31 WIB

Prof. DR. Malcolm Gillis Berujar “Hai Marzuki?”

Selasa, 25 Oktober 2022 | 06:21 WIB

Hanya MU Saja Yang Bisa?

Rabu, 19 Oktober 2022 | 11:06 WIB

Menguak Konspirasi dalam Perang Ukraina

Jumat, 14 Oktober 2022 | 05:11 WIB

Jokowi-Mega Mencari Lawan Tanding Anies

Senin, 10 Oktober 2022 | 19:21 WIB
X