• Sabtu, 3 Desember 2022

Menguak Konspirasi dalam Perang Ukraina

- Jumat, 14 Oktober 2022 | 05:11 WIB
Peta Ukraina.(Dok/VOA)
Peta Ukraina.(Dok/VOA)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Negara dalam negara (deep state) adalah jaringan rahasia dalam pemerintahan yang memiliki agenda sendiri. Jaringan ini terdiri dari organ-organ pemerintah atau legislatif yang dikuasai individu tertentu.

Individu tersebut lazimnya bekerja sama  dengan berbagai pihak di luar pemerintahan atau legislatif. Kedua pihak bekerja sama atas dasar kepentingan ideologi atau bisnis.  

Namanya juga jaringan rahasia maka keberadaan mereka sulit diketahui. Meskipun bisa dideteksi ada di pemerintahan yang demokratis maupun non demokratis.  

Seorang pegawai Kementerian Luar Negeri Jepang pernah mengungkapkan bahwa negaranya babak-belur karena permainan China dan Yahudi. Keduanya dengan kompak memegang ujung tali yang diputar-putar. Jepang yang berada di tengah tali terpaksa lompat-lompat tidak karuan.

Memanfaatkan Situasi

Perang Ukraina-Rusia bermula sejak 24 Februari 2022 kemungkinan sarat dengan konspirasi seperti digambarkan di atas. Terutama antara kalangan industri  persenjataan, perminyakan, pejabat pemerintah dan legislatif.

Mulanya adalah ketika Presiden George W. Bush pada KTT NATO di Bukares, Rumania pada tahun 2008  menawarkan Ukraina bergabung dengan NATO. Sejak itu isu perluasan NATO menjadi bahan perbincangan.

Rusia yang khawatir menyerbu Semenanjung Krimea yang strategis  pada 2014. Delapan kemudian, Rusia menyerang Ukraina untuk menguasai Ukraina Timur yang berbatasan langsung dengan Rusia. Sebanyak 28 negara memberi bantuan militer kepada Ukraina. Kecuali Australia, Jepang dan Korea Selatan, 25 negara lainnya adalah anggota NATO.

Amerika Serikat merupakan penyedia persenjataan utama dengan nilai U$17,5 miliar. Sejumlah US$16,8 miliar di antaranya sudah disalurkan sejak Februari lalu ketika Rusia mulai melakukan invasi.

Diduga bukan hanya pengiriman peralatan militer seperti penangkis serangan udara tetapi juga teknisi. Mana mungkin pengoperasian senjata canggih itu dilakukan hanya dalam waktu seminggu.

Bantuan militer tersebut diperkirakan bertambah karena Amerika Serikat dan Inggris akan membuat perang menjadi berkepanjangan. Sebagaimana pernah terjadi di Afghanistan (2001-2021) dan Irak (2003-2011).

Dampak

Seluruh dunia mulai terkena dampak perang di Ukraina.  Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut dampak tersebut meluas karena menjalar melalui tiga aspek. (1) Harga komoditi seperti bahan makanan dan LNG yang lebih mahal menyebabkan inflasi. Menyusutkan nilai pendapatan. Menekan  permintaan. (2) Perang mengacaukan perdagangan, rantai pasok komoditi dan remitansi uang. (3) Kemerosotan kepercayaan bisnis dan investasi  mempengaruhi harga aset. Memperketat kondisi keuangan. Membuka peluang keluarnya modal dari negara-negara berkembang.

Dewasa ini, Rusia tidak bisa menjual gandum dan biji-bijian karena dikenai sanksi. Ekspor Ukraina tersendat karena perang menghancurkan infrastruktur. Padahal keduanya merupakan pengisi 30% gandum dunia.

Rusia juga merupakan eksportir terbesar keempat LNG dunia. Pada 2021, sebanyak 40% kebutuhan gas dan 20% minyak Eropa berasal dari Rusia.

Prospek pengiriman LNG Rusia ke Jerman dan Eropa makin suram setelah pipa Nordstream 1 pada awal Oktober mengalami kebocoran. Diduga sabotase menjadi penyebab kebocoran ini.

Nordstream 1 mengirimkan 59 miliar kubik meter LNG ke Eropa setiap tahun. Sementara Nordstream 2 bertujuan ke Jerman dan belum operasional karena Jerman belum memberi sertifikat. Rusia menghentikan seluruh pengiriman LNG lewat Norsdtream 1, tetapi mengungkapkan LNG dapat dikirim melalui Nordstream 2 yang berkapasitas 27,5 miliar kubik meter. Asalkan Eropa mencabut sanksi terhadap Rusia.

Perang itu sendiri, kerusakan pada Nordstream 1 menyebabkan harga energi (LNG dan minyak mentah) serta produk konsumsi meningkat.  Harga akan semakin mahal apabila OPEC  mengurangi produksi minyaknya  sekitar satu juta barrel pada bulan depan.

Harga minyak mentah Brent melebihi US$97 per barrel sedangkan West Texas Intermediate hampir US$92 setiap barrel.

Kesemuanya itu akan mendorong inflasi lebih tinggi. Di Amerika Serikat (AS) inflasi mencapai 8%, kecenderungan ini akan membuat Bank Sentral AS menaikkan sukubunga lagi. Kemungkinan 1,25%  sebelum akhir tahun ini, hingga menjadi 4,5%.

Dampak buruknya, dolar AS akan balik kampung. Dibelikan obligasi, surat berharga lainnya atau didepositokan pada bank-bank di Amerika Serikat.

Kemesorotan jumlah dolar AS  yang beredar menyebabkan nilainya terhadap mata uang lain bertambah. Celakalah pemerintah atau institusi yang berutang dalam US$.  

Ironisnya, pemerintah asing yang akan mengurangi simpanan, hutangnya dan mengalihkan ke mata uang lain atau mengganti dengan emas bakal tidak berumur panjang. Dihancurkan seperti pemimpin Libya Khadafi atau Saddam Hussein .  

Pemenang

Pemenang perang di Ukraina ini adalah Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan multinasional. Sejalan dengan itu Sekjen PBB Antonio Guterres telah menyerukan supaya perusahaan migas dikenai pajak khusus.

British Petroleum (BP) baru-baru ini melaporkan laba terbesar dalam 14 tahun terakhir. Perolehan Exxon, Chevron, Shell dan TotalEnergies mencapai US$51 miliar dalam satu kuartal terakhir (April-Juni). Hampir dua kali lipat dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu.

Sekarang saatnya merenungkan kembali bahaya ketergantungan secara berlebihan menggunakan dolar AS. Hal lain adalah memperluas penggunaan energi baru.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Wonderful Indonesia VI, Pulau Kawa, Provinsi Papua Barat

Selasa, 29 November 2022 | 07:03 WIB

Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

Senin, 28 November 2022 | 09:52 WIB

Wonderful Indonesia V, Gunung Krakatau?

Selasa, 22 November 2022 | 06:27 WIB

Mengapa AS Membuat KMP China Sebagai Monster?

Selasa, 8 November 2022 | 05:43 WIB

Lula Da Silva, Pelajaran Buat Anies Baswedan

Selasa, 1 November 2022 | 07:53 WIB

Wonderful Indonesia II, Lembah Sukabumi?

Selasa, 1 November 2022 | 06:24 WIB

Pemuda, Bangkit Melawan atau Mati Kelaparan

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 12:31 WIB

Prof. DR. Malcolm Gillis Berujar “Hai Marzuki?”

Selasa, 25 Oktober 2022 | 06:21 WIB

Hanya MU Saja Yang Bisa?

Rabu, 19 Oktober 2022 | 11:06 WIB

Menguak Konspirasi dalam Perang Ukraina

Jumat, 14 Oktober 2022 | 05:11 WIB

Jokowi-Mega Mencari Lawan Tanding Anies

Senin, 10 Oktober 2022 | 19:21 WIB
X