• Sabtu, 3 Desember 2022

Mengenang Hari TNI 5 Oktober: Dari Matraman 10 sampai Cilangkap

- Kamis, 6 Oktober 2022 | 08:11 WIB
Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur.(Dok/Puspen TNI)
Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur.(Dok/Puspen TNI)


Oleh: Daud Sinjal

SINAR HARAPAN - Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) berada di Cilangkap. Menempati suatu kawasan seluas ratusan hektare yang dibagi dalam kavling kavling untuk Mabes TNI- Angkatan Laut dan Mabes TNI-Angkatan Udara. Sebelum ke Cilangkap, TNI yang masih memakai sebutan ABRI bermarkas di Medan Merdeka Barat 15, menempati bangunan eks Sekolah Tinggi Hukum.

Di masa perjuangan kemerdekaan markas besar TNI berada di Yogyakarta. Markas Besar Oemoem Tentara di sebuah bangunan hotel dekat stasiun KA itu dianggap sebagai markas besar pertama dari TNI kita.

Namun hanya sedikit orang yang tahu bahwa markas besar tentara yang paling pertama sebenarnya adalah di Jalan Taman Matraman 10 (d/h Matraman Plantsoen) Jakarta Pusat. Itulah Markas Pusat BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR tidak lain adalah sebutan dari ketentaraan nasional Indonesia pada masa awal pendiriannya.

Ia dibentuk berdasarkan dekrit Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945. Berdasarkan tuturan Islam Salim dan catatan Alm. dr. O.E.Engelen, pembentukan tentara kebangsaan Indonesia diprakarsai dari bawah.

Seperti diketahui, walau UUD 1945 mencantumkan adanya angkatan perang (pasal 10 dan pasal 30), Pemerintahan RI yang dibentuk sehari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, tidak mendirikan organisasi ketentaraan.

Wakil Presiden Hatta tidak memberi tanggapan yang positif ketika utusan perwira PETA dan mahasiswa, Daan Jahja dan Soebianto Djojohadikusumo,  mendatanginya untuk meminta agar PETA dan jajaran tenaga paramiliternya yang terdiri dari pemuda dan mahasiswa yang telah mendapat gemblengan kemiliteran diresmikan saja sebagai angkatan perang RI.

Karena keengganan Hatta, para pemuda dan mahasiswa mengundang pertemuan segi tiga, yaitu Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro di satu pihak dengan kelompok PETA terdiri dari Kasman Singodimedjo, Daan Jahja, Islam Salim, Oetarjo, serta kelompok pemuda/mahasiswa antara lain Soebianto, Soeroto Koento, Eri Soedewo, Engelen, Soejono Martosewojo.

Pertemuan itu diselenggarakan di asrama mahasiswa kedokteran (Ika Daigaku) di Jalan Prapatan 10. Agenda pertemuan adalah membahas pembentukan tentara seperti yang diusulkan Daan Jahja dan Soebianto sehari sebelumnya. Di situ juga hadir sejumlah pemuda, antara lain Adam Malik, yang bekerja di kantor berita Domei. Ia malahan sudah menyiapkan selebaran yang dicetak mesin stensil tentang pembentukan tentara.

Dalam pertemuan itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta menyarankan untuk sementara waktu organisasi ketentaraan RI menggunakan sebutan Badan Keamanan Rakyat. Pertimbangannya adalah untuk tidak menunjukkan sikap konfrontatif terhadap pihak Sekutu yang akan mendarat di Indonesia. Sekaligus menunjukkan bahwa RI yang baru dilahirkan adalah negara yang cinta damai.

BKR itu pun ditempatkan di bawah organisasi sipil yang disebut Panitia Penolong Keluarga Korban Perang. Unsur operasi kemanusiaannya lebih ditonjolkan ketimbang operasi kemiliteran.

Kesepakatan untuk membentuk BKR itu kemudian dibawa oleh Presiden untuk diminta persetujuan KNIP (berfungsi sebagai parlemen waktu itu). Dan pada 23 Agustus 1945 Presiden mengeluarkan dekrit tentang pembentukan BKR. Kasman Singodimedjo, mantan komandan batalyon PETA Jakarta, diangkat sebagai Ketua BKR Pusat. Ia didampingi oleh kepala staf Daan Jahja dan wakilnya Soebianto Djojohadikusumo.

Jajaran staf BKR Pusat itu terdiri dari mantan PETA, mahasiswa dan pelajar SMT (Sekolah Menengah Tinggi), antara lain MT Haryono dan dr. Soewardjono Soerjaningrat.

Pembubaran PETA

Saat Jepang ditaklukkan Sekutu, pembentukan organisasi ketentaraan Indonesia bisa dianggap sebagai melanggar perintah sekutu. Karena itu, Panglima Balatentara Jepang di Indonesia, Letjen Nagano, mengeluarkan pengumuman tentang pembubaran PETA. Pengumuman itu dikeluarkan pada hari yang bersamaan dengan pertemuan 19 September (di asrama Prapatan 10) yang menyepakati pembentukan BKR itu. Pemerintah RI tidak menggubris perintah status-quo, karena menganggap Indonesia telah merdeka dan berdaulat penuh.

Markas Jalan Taman Matraman 10 berfungsi selama 44 hari yakni dari 23 Agustus sampai 5 Oktober 1945. Dari sini dikirimkan surat surat pengangkatan resimen resimen BKR di daerah daerah yang secara spontan telah dibentuk menyusul dekrit 23 Juli itu. Pasukan pasukan BKR dalam waktu singkat berhasil mengambil alih lebih separuh persenjataan Jepang. Pengambilalihan itu sebenarnya sudah dimulai sehari sebelum Proklamasi.

Pada 5 Oktober, pemerintah RI yang sudah berani menggunakan istilah tentara, melalui dekrit Presiden, mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). 5 Oktober secara resmi jadi “Hari TNI”. Markas Besar TKR kemudian dipindahkan ke Yogyakarta dipimpin oleh Oerip Soemohardjo. Pensiunan Letnan Kolonel KNIL itu diberi pangkat Letnan Jenderal TKR dan jabatannya adalah Kepala Markas Besar Oemoem Tentara.

Sebulan kemudian, Soedirman, komandan resimen BKR Banyumas, terpilih menjadi Panglima Besar TKR.

Pada 23 Agustus 2003 di Taman Matraman 10 Jakarta Pusat diselenggarakan peringatan hari pembentukan BKR. Kepala Staf TNI-AD Jenderal Ryamizard Ryacudu menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh Kepala Staf Garnizun Ibu Kota, Brigjen TNI M. Irianto. Letjen TNI (Pur) Prabowo Soebianto Djojohadikusumo memberikan sambutan mewakili pihak tuan rumah. Itu memang rumah kakeknya, Margono Djojohadikusumo. Rumah Jalan Taman Matraman 10 itu sekarang ditempati oleh salah seorang putri Margono.

Prof. Soemitro, Soebianto, Soedjono adalah anak anak lelaki dari Margono. Soebianto gugur dalam peristiwa pengambilalihan gudang persenjataan Jepang di Serpong Tangerang, 25 Januari 1946. Mayor Daan Mogot, pimpinan Militer Akademi (MA) Tangerang juga mati tertembak. Soedjono, dan Syauket Salim (putra H. Agus Salim), keduanya taruna MA Tangerang, juga gugur dalam insiden 25 Januari tersebut.

Nama "Soebianto" dipakai sebagai nama tengah Jenderal Prabowo. Sedangkan "Soedjono" adalah nama tengah adik Prabowo,  pengusaha Hashim Djojohadikusumo.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Wonderful Indonesia VI, Pulau Kawa, Provinsi Papua Barat

Selasa, 29 November 2022 | 07:03 WIB

Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

Senin, 28 November 2022 | 09:52 WIB

Wonderful Indonesia V, Gunung Krakatau?

Selasa, 22 November 2022 | 06:27 WIB

Mengapa AS Membuat KMP China Sebagai Monster?

Selasa, 8 November 2022 | 05:43 WIB

Lula Da Silva, Pelajaran Buat Anies Baswedan

Selasa, 1 November 2022 | 07:53 WIB

Wonderful Indonesia II, Lembah Sukabumi?

Selasa, 1 November 2022 | 06:24 WIB

Pemuda, Bangkit Melawan atau Mati Kelaparan

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 12:31 WIB

Prof. DR. Malcolm Gillis Berujar “Hai Marzuki?”

Selasa, 25 Oktober 2022 | 06:21 WIB

Hanya MU Saja Yang Bisa?

Rabu, 19 Oktober 2022 | 11:06 WIB

Menguak Konspirasi dalam Perang Ukraina

Jumat, 14 Oktober 2022 | 05:11 WIB

Jokowi-Mega Mencari Lawan Tanding Anies

Senin, 10 Oktober 2022 | 19:21 WIB
X