• Rabu, 5 Oktober 2022

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

- Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyampaikan  pidato kenegaraan perdana pada Senin 25 Juli 2022. (Dok/AFP)
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyampaikan pidato kenegaraan perdana pada Senin 25 Juli 2022. (Dok/AFP)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Reaksi China atas lawatan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan pada 2 Agustus 2022 lalu mengakibatkan kemunduran dalam hubungan AS-China. Sekaligus membuka jenis kemarahan China bila diprovokasi.

Kemarahan itu ialah dengan melakukan latihan perang selama empat hari di sekeliling Pulau Taiwan.  Membatalkan pertemuan perjanjian konsultatif maritim militer. Menangguhkan kerja sama repatriasi imigran gelap. Menangguhkan kerja sama melawan kejahatan internasional. Menangguhkan kerja sama antinarkoba. Membatalkan perjanjian koordinasi kebijakan pertahanan.

Di manakah Amerika Serikat akan melakukan provokasi lagi?

China berselisih dengan Filipina terkait kepemilikan gugusan pulau karang, terumbu di Kepulauan Paracel atau Xisha atau Hoang Sa di Laut China Selatan.

Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda pada 12 Juli 2016 menolak klaim China dan sebaliknya  mengakui kepemilikan Filipina atas kepulauan itu. Tetapi China menentang dan malah membuat pulau buatan.   

Presiden Rodrigo Duterte (2016-2022) kecewa dengan penolakan China. Dia kemudian menyatakan akan meninjau kembali US-Philippines Visiting Forces Agreement (VFA) yang diakhirinya pada 11 Februari 2020. VFA memungkinkan penempatan tentara Amerika Serikat di Filipina untuk menghadapi musuh potensial seperti China.

Ferdinand Marcos Jr. yang dilantik pada 30 Juni 2022 tampaknya akan mewarisi kebijaksanaan pendahulunya. Bersikap tanpa kompromi terkait isu kedaulatan namun tetap membuka hubungan investasi, perdagangan dan menerima Belt and Road Initiative (BRI).

Dua tahun lalu, Amerika Serikat masih menduduki posisi pertama dengan US$11.9 miliar. China di urutan kedua dengan US$11.5 miliar. Jepang US$10,7 miliar. Hong Kong US$9,9 miliar. Singapura US$4,2 miliar. Thailand US$3,5 miliar. Jerman US$2,9 miliar. Korea Selatan US$2,6 miliar.

Mencemaskan

Dalam beberapa tahun mendatang, situasi di Laut China Selatan (LCS) khususnya dan kawasan Asia Tenggara pada umumnya akan semakin keruh.  Sikap keras China karena tidak yakin dengan kestabilan di LCS akan menyebabkan claimant states seperti Filipina, Vietnam, Malaysia terdorong mengundang negara dari luar kawasan ASEAN sebagai penyeimbang. Jepang dan Amerika Serikat telah menyatakan minat membantu dengan motif berbeda.

Jepang telah menerapkan kontribusi aktif terhadap perdamaian di Asia Tenggara melalui pemberian bantuan untuk sektor perikanan dan sumbangan peralatan militer. Indonesia tahun ini dijadwalkan menerima kapal perusak bekas pakai kelas Hatsuyuki dari angkatan laut Jepang. Mirip dengan program Kereta Rel Listrik (KRL).

Amerika Serikat akan memakai empat institusi yakni kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, Badan Intelijen Pusat (CIA) dan non-state actors seperti perusahaan multinasional serta industri militer.

Yang menarik, CIA beberapa hari lalu menegaskan akan lebih fokus kepada China. Keterlibatan CIA tidak mudah dibaca karena dilakukan secara tertutup. Lokasi proxy-nya dalam menumbangkan atau mengurangi pengaruh China dapat berlangsung di mana saja. Bersekutu dengan siapa saja. Memperalat siapa saja.  

Di Vietnam, Afghanistan, Irak, Libya dan lainnya, keaktifan CIA tidak kalah dibandingkan dengan organ-organ militer AS. Demikian pula dengan di Asia Tenggara pada tahun-tahun mendatang.  

Laut China Selatan dan Asia Tenggara tidak dapat lagi dikatakan sebagai medan pertarungan tanggung. Kawasan ini merupakan jalur perdagangan dan Migas bagi China, Korea Selatan, Jepang dan ASEAN sendiri. Sedikitmya 85% impor Migas China dari Timur Tengah melalui kawasan ini. Demikian pula dengan Jepang.  

China mengklaim 90% Laut China Selatan yang luasnya 3,5 juta kilometer. LCS selain menyimpan gas dan minyak mentah juga mengandung zircon yang antara dapat digunakan sebagai komponen bahan peledak dan titaniferous magnetite yang mengandung titanium dan besi.

Bonji Ohara, analis, yang diwawancarai Anadolu Agency menyatakan bagi China, LCS penting karena merupakan pintu masuk bagi kapal selam nuklirnya ke Samudera Pasifik bagian Barat. Selain sebagai zona penyangga terhadap serangan AS ke China Daratan.

China yakin dapat mengendalikan persaingan, namun khawatir  apabila AS dan sekutunya membendung dari Lautan Pasifik, LCS dan Lautan India, lanjutnya.  
Sekarang AS mengikutsertakan Australia, Jepang dan India dalam Dialog Keamanan Empat Negara. Selain itu Australia, AS dan Inggris membentuk pakta pertahanan baru yang dilengkapi dengan kapal selam nuklir.

Peran Indonesia

Sejauh ini, selain Amerika Serikat tidak banyak negara yang menganggap China sebagai ancaman. Rodrigo Duterte sekalipun hanya menyebut sebagai no friend. Indonesia dan anggota ASEAN lain menyatakan China adalah mitra dialog.

Indonesia berperan penting agar LCS dan Asia Tenggara tidak menjadi lahan proxy antara AS dan China. Hal ini dimungkinkan sebab mempunyai hubungan baik di bidang politik, ekonomi, budaya dan keamanan dengan kedua negara serta bukan termasuk claimant state.

Dalam konteks ini, Indonesia dapat memanfaatkan mekanisme formal maupun informal. Sebagaimana diketahui, kalangan swasta menjadi perintis dalam normalisasi hubungan dengan China.

Turut menentukan juga adalah hasil Pilpres tahun 2024. Diperlukan Presiden dan Wakilnya, kombinasi senior dan yunior, yang memiliki pengalaman internasional. Mengenal dan dikenal baik negara lain. Mampu mendisiplinkan rakyat.  

Kesemuanya itu memungkinkan Indonesia mendorong  mekanisme yang dibangun ASEAN pada masa lalu seperti secara rutin mengadakan pertemuan dengan mitra dialog. Memperkuat Asia Tenggara sebagai Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN).***

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Malu Bertanya, Sesat di Jalan!

Selasa, 4 Oktober 2022 | 05:59 WIB

Tragedi Prestasi

Senin, 3 Oktober 2022 | 13:40 WIB

Barang Substitusi (Pengganti)?

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Orang Lain Makan Nangka, Awak Kena Getahnya?

Selasa, 20 September 2022 | 05:35 WIB

Wonderful Indonesia I, Parang Tritis?

Selasa, 13 September 2022 | 06:57 WIB

Bjorka dan Gerakan Rakyat

Senin, 12 September 2022 | 13:06 WIB

Misteri di Balik Peningkatan Anggaran Militer ASEAN

Jumat, 9 September 2022 | 15:14 WIB

Ilmu Matematika ≠ Ilmu Sosial

Selasa, 6 September 2022 | 06:06 WIB

Rezim Baru dan BBM Rp Lima Ribu

Senin, 5 September 2022 | 12:57 WIB

Catatan Ekonomi: Social Bond dan Blended Finance

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:01 WIB

Pajak Kuburan?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 06:30 WIB

Lempar Batu, Sembunyi Tangan?

Selasa, 23 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Rektor Koruptor dan Kegagalan Revolusi Mental

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:47 WIB

Kenaikan Harga BBM, Maju dan Mundur Kena

Minggu, 21 Agustus 2022 | 10:44 WIB

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB
X