• Senin, 8 Agustus 2022

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB
Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan delegasinya ke Taiwan pada 2 Agustus 2022.(Dok/Twitter/SpeakerPelosi)
Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan delegasinya ke Taiwan pada 2 Agustus 2022.(Dok/Twitter/SpeakerPelosi)


Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Taiwan tidak strategis dibanding Semenanjung Korea. Di semenanjung tersebut, Korea Selatan yang demokratis pernah terlibat perang dengan Korea Utara yang komunis. Sampai kini, kedua negara secara teknis masih dalam kondisi perang.

Amerika Serikat mendukung Taiwan karena menerapkan sistem politik yang demokratis, sebagaimana dikatakan Nancy Pelosi, Ketua DPR AS ketika diterima Presiden Taiwan Tsai ing-Wen di Taipei, 3 Agustus 2022.

Demokrasi telah menjadi alasan utama. Meskipun bukan merupakan alasan tunggal. Taiwan merupakan pelanggan senjata AS, mitra dagang dan investasi.

Pada April lalu, Pentagon setuju menjual rudal Patriot dan penunjangnya kepada Taiwan senilai US$ 95 juta.  Penjualan perlengkapan militer AS ke Taiwan telah dimulai sejak 1979 sampai sekarang.

Perdagangan kedua negara pada 2020 mencapai US$90,6 miliar. Taiwan mengekspor ke AS senilai US$60,4 miliar dan impornya US$30,2 miliar.

Investasi langsung (FDI) AS di Taiwan mencapai US$ 31,8 miliar, sedangkan FDI Taiwan di AS berjumlah US$13,7 miliar pada 2020.   

Sekalian angka-angka tersebut menggaris bawahi apa yang dikatakan Sterling Seagrave dalam Lords of the Rim, tentang besarnya peran non-state actors dalam hubungan AS-Taiwan. Hubungan tersebut bermula sejak Pemimpin Taiwan Chiang Kai Shek masih berada di China Daratan.

Dengan demikian lawatan Pelosi mempunyai banyak makna. Misalnya, (1) AS akan menjamin konsistensi pelaksanaan Taiwan Relations Act yang disahkan Kongres AS pada 1979. (2) Menggoyahkan kepercayaan elit dan rakyat China terhadap Xi Jinping dalam menangani masalah Taiwan. (3) Membawa pesan non-state actors yang banyak bermukim di California, wilayah pemilihan Pelosi, ke pemerintah Taiwan.     

Kebijaksanaan Yang Naif

Pers Barat membesar-besarkan arti demokrasi dalam  politik luar negeri Amerika Serikat. Padahal politik luar negeri adi daya itu bersifat pragmatis. Apabila Amerika Serikat mempunyai kepentingan lain yang lebih besar maka sekutunya yang demokratis akan ditinggalkan.

Taiwan sudah  mengalami hal tersebut. Menlu Henry Kissinger pada tengah malam di penghujung 1960-an meninggalkan Rawal Pindi, Pakistan menuju Beijing. Menjadikan China yang komunis totaliter sebagai sahabat,  sebab AS dan NATO tengah berupaya memporakporandakan Uni Soviet. Kemudian mengeksplor pasar domestik China. Tujuan lain yakni  membentuk China yang demokratis tak tercapai.

Perdana Menteri Zhou Enlai yang ditemui Kissinger tidak mudah ditundukkan. Dia menginginkan Amerika Serikat menyisihkan Taiwan, mengakui satu China.
 
Ketika perundingan hampir menemui jalan buntu, Zhou Enlai mengajak Kissinger makan malam dengan menu bebek panggang di Restoran Quan Jude, Beijing. Di situlah Kissinger memahami makna sumpit yang lebih luas ketimbang sendok-garpu.

Hubungan ‘resmi’ kedua negara dimulai dengan mendirikan kantor penghubung di Beijing ada 1971. Setahun kemudian, Presiden Richard Nixon, presiden terpandai dalam sejarah AS, melawat ke Beijing. Baru tahun 1979 kedua negara membuka hubungan diplomatik dan AS mengakui satu China, People Republic of China (PRC) serta membuat tiga komitmen bersama.

Ini merupakan perubahan besar. Maka sesuai pepatah, bila satu domba telah menyeberangi jembatan, yang lain akan ikut. Begitulah yang terjadi. Ratusan negara membuka hubungan diplomatik dengan China. Memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

China kemudian diterima menjadi anggota PBB. Lalu sebagai anggota Dewan Keamanan PBB, memiliki hak veto bersama AS, Rusia, Inggris dan Prancis.

Taiwan yang terpukul  mengkompensir kehilangan ratusan perwakilan diplomatik dengan kantor perwakilan dagang. Orientasinya kepada kekonsuleran, ekonomi, investasi, perdagangan dan intelijen menguat. Pegawainya tidak memiliki kekebalan diplomatik.  

Sejauh ini Taiwan masih mendapat tempat.  Lantaran perusahaan-perusahaannya  memproduksi semi konduktor, chips processor untuk nama-nama besar IT dunia. Unggul dalam teknologi pertanian, dan masih banyak lagi.

Dalam mengembangkan bisnis, pemerintah Taiwan memperbanyak UMKM. UMKM yang banyak itu digambarkan sebagai ratusan bahkan ribuan kura-kura. Binatang yang kulitnya keras ini tidak hancur sekalipun ditimpa  balihoo iklan akibat taifun. Artinya memperbanyak UMKM membuat perekonomian mampu bertahan sekalipun dilanda resesi atau sanksi.

Hubungan Taiwan-China

Ada kecenderungan pemerintah China untuk menjalankan kebijaksanaan ganda. Pertama, berniat menggabungkan Taiwan secara damai. Kedua, menjalankan diplomasi megaphone bila ada negara-negara yang jelas-jelas mendukung Taiwan.

Pulau Taiwan atau Formosa yang dipisahkan sebuah selat selebar 130 km dengan provinsi Fukien atau Fujian di China Daratan. Di provinsi ini bermukim sedikitnya 2,5 juta orang Taiwan yang bekerja di berbagai perusahaan Taiwan. Mereka aman dan nyaman tinggal di sini sebab mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat setempat.

Pemerintah China juga memfasilitasi dengan mengizinkan penerbangan langsung Fuzhou di Fujian dengan Taipei, ibukota Taiwan.  Penerbangan memakan waktu sekitar 1 jam 35 menit, sebelumnya harus melalui Hongkong yang memakan waktu delapan jam.

Pemerintah China menerapkan diplomasi megaphone, melancarkan manuver pesawat-pesawat tempur dan latihan berpeluru tajam di garis bata selat Taiwan untuk menunjukkan kemarahan atas  kunjungan Nancy Pelosi. China tampaknya memberi reaksi keras terbatas sebab pemerintahan Joe Biden tak sepenuhnya  mendukung kunjungan tersebut.

Pada hari-hari mendatang, negara-negara Asia Pasifik selayaknya terjebak dalam permainan politik luar negeri AS terhadap China. Pada satu sisi terus membangun ketegangan di Laut China Selatan hingga Asia Timur, tetapi baik-baik saja dalam hubungan dagang dan investasi.

AS juga harus memperhitungkan dampak bila berkonflik. China mempunyai senjata nuklir. Di samping puluhan juta penduduk di Asia-Pasifik yang memiliki kesamaan bahasa dan dialek dengan penduduk di China Daratan. Mereka mempunyai asset miliaran dolar.***
 



Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB
X