• Minggu, 14 Agustus 2022

Aku Nguyup?

- Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB
Marzuki Usman.(Dok/sinarharapan.co)
Marzuki Usman.(Dok/sinarharapan.co)


Oleh: Marzuki Usman

Ketika penulis masih belajar di bangku Sekolah Rakyat (SR), itu bahasa Indonesianya pada tahun 1950-an. Sekarang, bahasa Indonesianya berubah menjadi Sekolah Dasar (SD). Pada masa itu di kampung penulis, yaitu Desa (Dusun) Mersam, berada di Kabupaten Batanghari (nama Sungai Besar di daerah Provinsi Jambi), maka pada waktu itu makanan buah-buahan, seperti : Rambutan, Mangga, Jambu, Pisang, Lengkeng, Kedong-dong, Duku, Kelapa, dan sebagainya, yang pada bertumbuhan di hutan-hutan, dan banyak juga di tanam orang di pekarangan rumah penduduk desa.

Pada waktu itu kita anak-anak desa, tidak kekurangan makanan buah-buahan. Kami sebagai anak-anak kecil memakan buah-buahan yang berada disekitar desa Mersam itu.

Ketika itu kami para anak-anak yang berumur antara 6 tahun sampai 12 tahun, masih banyak tinggal bermukim di desa Mersam itu. Dan ketika kami harus menuntut ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka kami haruslah pergi ke kota Jambi, yakni Ibu kota dari Keresidenan Jambi, yang tempat satu-satunya Sekolah Menengah Pertama (SMP) disitu. Pada masa itu, seorang anak lulusan SMP sudah hebat betul pendidikannya? Kata anak-anak sekarang. “Kasihan kamu Juki, hidup di dusun Mersam itu.”

Kami sangat berbahagia hidup di dusun Mersam itu sebagai pengalaman hidup yang unik, yang tidak ada duanya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita. Kenapa? Karena dalam hal buah-buahan, anak-anak desa Mersam punya selera tertentu terhadap buah-buahan yang dia sukai. Dalam bahasa desa Mersam anak-anak pada waktu itu, pada berujar, “Aku Nguyup betul memakan “Durian Gajah?” Nguyup itu adalah bahasa di Desa Mersam, yang artinya “Doyan Sekali!!” Kenapa engkau nguyup betul memakan Durian Gajah? Tanya penulis kepada si Wahab, seorang anak yang suka berjalan masuk ke hutan disekitar Kampung itu. Dan di hutan itu masih diketemukan banyak gajah.

Dia berujar, “Gajah itu makan Durian!” “Kok bisa begitu?” Tanya penulis kepada teman itu. Gajah itu untuk memakan durian. Sebelum dimakan oleh gajah itu, buah durian itu, dia guling-gulingkan dengan belalainya pada tumpukan daun-daun yang telah jatuh dari pohonnya. Setelah daun itu menutup seluruh buah durian itu, maka lalu durian itu dengan bantuan belalainya, ditelan oleh gajah itu. Dan, kemudian durian itu keluar lagi dari perut gajah itu, tetap utuh sebagai durian. Durian seperti itu, kita boleh memakannya. Dan rasanya enak sekali, serta mengunyahnya menjadi enteng sekali. Buah Durian Gajah ini, orang sekampung nguyup memakannya. Bahkan dahulu Keresidenan Jambi, sekarang Provinsi Jambi rakyatnya nguyup makan Durian Gajah.

Ini pengalaman penulis pada tahun 1950-an. Sekarang ini pada tahun 2020-an banyak hutan yang sudah berubah menjadi perkebunan: sawit, karet, dan sebagainya. Dan, populasi Gajah-pun sudah menjadi hewan yang harus dilindungi. Apa artinya? Kita akan langka sekali untuk menyantap Durian Gajah. Dan orang di kampung Mersam, kampung penulis, sekarang tinggal menikmati cerita saja tentang, “Nguyup, makan Durian Gajah?” Kata-kata anak Generasi On-Line, kasian Lu Juki! Gak bisa Nguyup lagi! Ala-mak?***

Jakarta, Medio Juni 2022




Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X